Babak Baru Proyek Pembangkit Sampah di Tangan Danantara

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Peresmian pembangunan proyek fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya di Bali menandai babak baru pengembangan proyek waste to energy di Indonesia. 

Setelah bertahun-tahun tersendat akibat persoalan regulasi, pendanaan, hingga kepastian investasi, proyek PSEL yang kini dikelola Danantara dinilai memiliki seluruh prasyarat untuk memasuki tahap konstruksi.

PT Danantara Investment Management (DIM) resmi memulai pembangunan PSEL Denpasar Raya pada Rabu (8/7/2026). Proyek tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) antara PT PLN (Persero) dengan PT Weiming Nusantara Bali New Energy sebagai badan usaha pelaksana proyek (BUPP).

Chief Executive Officer DIM Pandu Sjahrir mengatakan, penandatanganan PPA menjadi tonggak penting dimulainya implementasi proyek pengolahan sampah menjadi energi di Bali.

"PSEL Denpasar Raya telah memasuki fase penting melalui agenda penandatanganan power purchase agreement dan peresmian pembangunan PSEL. Hal ini menandai kesiapan untuk mendorong realisasi solusi pengolahan sampah terintegrasi di Indonesia yang dimulai di Denpasar Raya," ujar Pandu dalam acara peresmian yang disiarkan secara daring. 

Dengan nilai investasi Rp3 triliun, proyek strategis nasional (PSN) itu diproyeksikan menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau.

Baca Juga

  • Rosan Jamin PSEL Bali Tak Akan Mangkrak Seperti TPST Kertalangu
  • PSEL Mandek Bertahun-tahun, Zulhas Sebut Birokrasi Jadi Penghambat
  • Danantara Resmikan Groundbreaking PSEL Denpasar Raya Senilai Rp3 Triliun

Secara lingkungan, PSEL Denpasar Raya ditargetkan mampu mengurangi kebutuhan lahan tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80%, menekan emisi dari TPA hingga 80%, serta mengurangi emisi karbon sekitar 640.000 ton CO2 per tahun.

Dari sisi operasional, fasilitas tersebut diproyeksikan mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun atau setara lebih dari 40% timbunan sampah di Bali. Listrik yang dihasilkan juga diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani optimistis proyek tersebut dapat selesai lebih cepat dibandingkan target awal semester I/2028.

Menurut Rosan, optimisme itu muncul setelah proses seleksi mitra investasi selesai dan Weiming ditetapkan sebagai pengembang proyek.

"Kita melihat bahwa Weiming adalah partner yang terbaik untuk Bali, dan juga komitmennya dan saya meyakini walaupun targetnya semester pertama 2028, kalau saya baca dari luar, ini bisa selesai pada akhir tahun 2027," ujar Rosan.

Dia menilai, teknologi yang dimiliki Weiming telah teruji karena digunakan di lebih dari 50 negara. Teknologi tersebut juga mampu mengolah berbagai jenis sampah, mulai dari sampah baru hingga timbunan sampah lama.

Bagi Bali, kata dia, keberadaan PSEL diharapkan menjadi solusi permanen terhadap persoalan sampah yang selama ini membebani sektor lingkungan maupun pariwisata.

Rosan juga memastikan proyek yang dikerjakan oleh Danantara tersebut tidak akan mangkrak karena sudah melalui proses yang transparan, akuntabel, dan melibatkan banyak ahli. 

"Jaminannya yang mengerjakan Danantara dan kami tidak pernah mangkrak," jelas Rosan kepada media setelah Peresmian Pembangunan PSEL Bali.

Sederet Tantangan Pengoperasian

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani berpendapat, program PSEL merupakan bentuk dukungan pemerintah agar pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih efektif melalui pembangkitan listrik.

"Program PSEL merupakan upaya pemerintah agar pengelolaan sampah yabg menjadi isu lingkungan tersebut menjadi efektif dan tuntas," ujar Sripeni kepada Bisnis, Rabu (8/7/2026).

Dia memaparkan, pemerintah memberikan insentif berupa jaminan pembelian listrik oleh PLN dengan tarif sebesar 20 sen per kWh kepada daerah yang memenuhi sejumlah persyaratan. Adapun, persyaratan itu seperti ketersediaan sampah minimal 1.000 ton per hari, lahan, serta dukungan anggaran daerah.

Namun, menurut Sripeni, tantangan terbesar justru berada di tingkat pemerintah daerah. Dia menjelaskan, pemerintah daerah harus mampu menjamin pasokan sampah sebagai feedstock secara berkelanjutan sekaligus menyediakan alokasi anggaran dalam APBD. Ini diperlukan agar operasional pembangkit tetap berjalan dalam jangka panjang.

Apabila proyek berjalan sesuai rencana, daerah akan memperoleh berbagai manfaat mulai dari pendapatan asli daerah (PAD) dari penjualan listrik selama 30 tahun, perbaikan kualitas lingkungan, hingga penciptaan lapangan kerja baru.

"Jika proyek berjalan sesuai dengan rencana, pemda memperoleh manfaat besar," Sripeni.

Sementara itu, Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menilai, besaran investasi proyek masih perlu dicermati. Menurutnya, nilai investasi Rp3 triliun untuk kapasitas tersebut terlihat relatif rendah dibandingkan sejumlah proyek PSEL lain.

"Anggaran Rp3 triliun untuk kapasitas tersebut tampak cukup rendah. Namun, bila Danantara menyanggupi untuk memenuhi keekonomian maka kita tunggu realisasinya. PSEL di Tangsel dilaporkan beranggaran Rp2,65 triliun untuk kapasitas 1.100 ton per hari meski bisa jadi ada faktor pembeda lain, seperti kepemilikan, lahan dan insentif," ujarnya.

Putra juga mengingatkan pentingnya memastikan mekanisme kompensasi kepada PLN berjalan lancar agar pembelian listrik dari PSEL tidak menjadi beban keuangan tambahan.

Selain itu, pengendalian biaya konstruksi juga menjadi faktor penting agar proyek tidak mengalami pembengkakan anggaran yang pada akhirnya membebani Danantara maupun PLN.

Meski demikian, dia menilai manfaat utama proyek tetap signifikan karena mampu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui sistem pengolahan sampah yang lebih berkelanjutan.

"Keuntungannya tentu menggeser penggunaan lahan dari TPA untuk menjadi pengolahan yang lebih berkelanjutan," ujar Putra.

Peluang Berhasil Lebih Besar

Adapun, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai proyek PSEL Denpasar Raya memiliki peluang lebih besar untuk terealisasi dibandingkan proyek-proyek sejenis pada masa lalu.

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa mengatakan, kali ini seluruh aspek fundamental investasi telah tersedia, mulai dari investor, teknologi, kepastian pembelian listrik, hingga jaminan pasokan sampah.

"Ya yang pertama, PSEL ini kan memang saya lihat untuk yang kali ini ya, oleh Danantara kan memang dikerjakan dengan lebih serius ya," tutur Fabby.

Menurutnya, kondisi yang selama ini menjadi penghambat pembangunan PSEL kini relatif sudah teratasi. Dia menjelaskan, proyek saat ini telah memasuki tahap groundbreaking sehingga fokus berikutnya tinggal memastikan pembangunan berjalan sesuai jadwal.

Fabby menambahkan, kondisi di Denpasar bahkan dinilai lebih menguntungkan karena bahan baku utama berupa timbunan sampah sudah tersedia. Dia berpendapat dengan seluruh kepastian tersebut proyek semestinya dapat beroperasi sesuai target.

Fabby menilai pengembangan PSEL menjadi bagian penting dalam menyelesaikan persoalan sampah perkotaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

"Memang tujuan PSEL ini kan untuk mengatasi persoalan sampah, khususnya sampah-sampah kota ya, dan ya kita tahu di hampir sebagian besar, mungkin 80% hingga 90% tempat pembuangan akhir di banyak kabupaten kota di Indonesia itu sudah penuh," tutur Fabby.

Dia mengingatkan bahwa upaya pengembangan PSEL sebenarnya telah dimulai sejak 2015. Namun, banyak proyek tidak berjalan akibat berbagai kendala. Kini menurutnya, skema baru membuat peluang keberhasilan proyek jauh lebih besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Kita Dibicarakan Dunia karena Pangkas 44 Juta Ton Emisi Karbon
• 38 menit lalukompas.com
thumb
Ramalan Finansial Weton 10 Juli 2026, Energi Jumat Pon Bikin 10 Pemilik Neptu Ini Diprediksi Punya Nasib Berbeda
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Toyota Avanza Bekas Tahun 2009
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Kinerja Penjualan Eceran Juni 2026 Diprakirakan Masih Terjaga
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK: Eks Sekjen MPR minta imbalan dengan kode "uang asalamualaikum"
• 1 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.