OPINI: Dampak Cuaca Panas Terhadap Ekonomi, Berapa ‘Harga’ El Nino

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Pada 29 Juni 2026, Kepala BMKG menyampaikan bahwa El Niño telah memasuki kategori kuat dengan peluang 98 persen, dan diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Sebanyak 482 Zona Musim yang mencakup 56 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Puncak kemarau akan terjadi di 369 Zona Musim atau hampir separuh daratan Indonesia pada Agustus 2026. Di beberapa wilayah Jawa, tanaman padi berusia 25 hari sudah mulai mati. Kementerian PU membentuk satgas khususkekeringan. Gubernur Banten menyiapkan rencana kontinjensi. Di Kalimantan dan Sumatra, risiko kebakaran hutan dan lahan melonjak.

Respons kita terhadap El Niño selalu mengikuti pola yang sama yaitu membentuk satgas, mendistribusikan air bersih, melakukan modifikasi cuaca, lalu menunggu El Niño berakhir. Setelah itu, kita lupa dan terkejut lagi ketika El Niño berikutnya datang. Yang jarang ditanyakan adalah: seberapa besar sebenarnya kerusakan ekonomi yang ditimbulkan? Dan jika selama ini kita salah mengukurnya, seberapa salah?

Sebuah Kerangka Berpikir dari Ekonomi Iklim

Untuk menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita melihat sebuah penelitian yang terbit di Quarterly Journal of Economics pada Februari 2026. Jurnal ini adalah salah satu publikasi ekonomi paling bergengsi di dunia, diterbitkan oleh Harvard University dan Oxford University Press.

Dua peneliti yaitu Adrien Bilal dari Stanford University dan Diego Känzig dari Northwestern University menunjukkan bahwa kerusakan ekonomi dari pemanasan global adalah sepuluh kali lipat lebih besar dari yang selama ini diperkirakan. Selama tiga dekade, konsensus akademis menyatakan bahwa setiap kenaikan suhu 1°C menurunkan GDP dunia sebesar 1-3 persen. Angka ini dibangun oleh studi-studi berpengaruh dari ekonom seperti Dell, Jones, dan Olken di American Economic Journal (2012) serta Burke, Hsiang, dan Miguel di Nature (2015). Bilal dan Känzig menemukan angka yang jauh berbeda: lebih dari 20 persen.

Perbedaannya bukan karena model yang lebih canggih atau data yang lebih banyak. Perbedaannya karena satu hal yang sangat sederhana yaitu variabel yang diukur.

Baca Juga

  • Ilmuwan Ingatkan Ancaman Mega El Nino di Depan Mata
  • El Nino Ancam Industri Sawit
  • Ilmuwan Menilai Dunia Kini Lebih Siap Hadapi Super El Nino

Selama tiga puluh tahun, seluruh literatur ekonomi iklim mengukur dampak pemanasan menggunakan suhu lokal atau suhu rata-rata per negara. Bilal dan Känzig menggantinya dengan suhu global, yaitu rata-rata suhu seluruh permukaan bumi termasuk lautan. Hasilnya berubah total.

Mengapa Termometernya Penting

BMKG menjelaskan bahwa El Niño adalah pemanasan suhu permukaan Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mempengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia. Pemanasan ini terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tapi efeknya terasa di sawah-sawah NTT, di waduk Jawa, di lahan gambut Kalimantan. Kekeringan yang kita alami bukan disebabkan oleh suhu udara di atas kepala kita, melainkan oleh suhu lautan di Pasifik yang mengubah pola sirkulasi atmosfer global.

Inilah yang ditangkap oleh Bilal dan Känzig. Suhu lokal per negara tidak bisa mendeteksi kekeringan yang dipicu oleh pemanasan lautan jauh. Suhu lokal tidak menangkap badai yang terbentuk dari interaksi atmosfer lintas benua. Suhulokal tidak menangkap curah hujan ekstrem yang ditentukan oleh kelembaban udara global. Mereka menemukan bahwa suhu lautan yang bertanggung jawab atas sebagian besar kerusakan ekonomi.

Dengan kata lain, selama tiga dekade kita mengukur demam tubuh dengan sampel suhu di satu jari. Bilal dan Känzig mengukur suhu seluruh tubuh, dan menemukan fakta bahwa pasiennya jauh lebih sakit.

Kerusakan yang Tidak Terlihat

Jika kerusakannya sebesar ini, mengapa kita tidak merasakannya? Suhu bumi sudah naik hampir 1°C sejak 1960. BMKG bersama WMO mencatat bahwa periode 2023-2025 adalah tiga tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern, dan suhu rata-rata global pada 2026-2030 diperkirakan berada pada kisaran 1,3-1,9°C di atas tingkat pra-industri. Tapi ekonomi dunia masih tumbuh. Indonesia masih tumbuh.

Bilal dan Känzig menjelaskan paradoks ini. Kerusakan iklim tidak datang sebagai krisis yang dramatis seperti resesi atau pandemi. Ia datang dalam kenaikan kecil yang tersembunyi di balik pertumbuhan ekonomi normal. Setiap tahun, pemanasan mengurangi laju pertumbuhan sedikit namun tidak cukup untuk disadari di antara fluktuasi siklus bisnis yang lebih besar. Karena pemanasan bersifat permanen, pengurangan kecil itu terakumulasi secara bertahap, tahun demi tahun, dekade demi dekade.

Perhitungan mereka menunjukkan bahwa pemanasan telah mengurangi tingkat pertumbuhan tahunan dunia hingga sepertiga dari baseline pada 2019. GDP per kapita dunia saatini sudah 25 persen lebih rendah dari yang seharusnya tanpa pemanasan sejak 1960. Seperempat dari potensi kekayaan dunia hilang tanpa ada yang menyadari. Analoginya sepertiperusahaan yang revenue-nya naik terus tapi marginnya diam-diam tergerus, manajemen tersenyum melihat top line tanpa sadar bahwa bottom line sedang menghilang.

Dan kerusakan ini bekerja melalui rantai yang lambat. Pertama, produktivitas turun karena pekerja tidak bisa bekerja. normal di panas ekstrem, pertanian gagal, dan infrastrukturrusak. Kedua, karena produktivitas turun, return on capital menurun dan investasi menjadi kurang menarik. Ketiga, investasi yang menurun memperlambat akumulasi modal dan menekan GDP lebih dalam lagi. Efeknya tidak langsung puncak di tahun pertama. Ia berakumulasi selama empat hingga enam tahun sebelum mencapai titik terdalam, lalu perlahan mereda tapi tidak sepenuhnya pulih.

Mengapa Ini Penting untuk Indonesia

Dalam data Bilal dan Känzig, Asia Tenggara mengalami dampak paling berat dari shock suhu global dengan penurunan GDP mencapai minus 20 persen di puncaknya, dua kali lebih besar dari negara-negara beriklim sedang di Eropa dan Amerika Utara. Indonesia, sebagai negara tropis, duduk di pusat kerentanan ini.

Data BPS menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap sekitar 28 persen dari total tenaga kerja nasional atau sekitar 41 juta orang pada Februari 2025.Jika kita menambahkan sektor pariwisata dan industri pengolahan pangan yang juga sensitif terhadap iklim, jumlahpekerja yang terekspos jauh lebih besar. BPS mencatat produksi padi April 2026 sudah turun 16,15 persen dibandingApril 2025, bahkan sebelum El Niño mencapai puncaknya. Dampak kemarau yang diperkuat El Niño pada Agustus-Oktober diprediksi akan memperdalam penurunan ini.

Pada skenario business-as-usual, pemanasan 3°C pada tahun2100 akan berpengaruh pada penurunan GDP per kapita dunia sebesar 53 persen lebih rendah dari potensi seharusnya, dengan social cost of carbon lebih dari 1.200 dolar per ton CO₂. Itu angka rata-rata dunia. Untuk kawasan tropis seperti Indonesia, angkanya lebih besar lagi.

El Niño kuat 2026 yang kita hadapi saat ini bukan anomaliyang datang sekali seumur hidup. BMKG memprediksi fenomena ini bertahan hingga awal 2027. Dalam kerangkaekonomi lingkungan, setiap El Niño adalah sampel kecil darimasa depan yang lebih panas. Ia bukan bencana yang datang dan pergi, tapi cuplikan dari kondisi yang akan menjadi semakin normal.

Artinya, padi yang mati di Jawa bulan Juli ini bukan hanya masalah panen musim ini. Ia adalah awal dari rantai kerusakan yang masih akan terasa di GDP Indonesia hingga tahun 2030. Lama setelah berita El Niño berganti topik. Dan setiap kali kita mengukur kerusakan itu dengan termometerlokal, kita hanya melihat sebagian kecil dari gambar yang sebenarnya. Termometernya lokal. Kerusakannya global. Selisihnya adalah tiga puluh tahun perhitungan yang baru kitasadari keliru.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BMKG Jawab Kekhawatiran soal Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Menular hingga ke Indonesia
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sempat Gangguan, Perjalanan LRT Jabodebek Sudah Kembali Normal
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Akreditasi Rumah Sakit: Sertifikat Mutu atau Transformasi Nyata
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Wagub Erwan Serukan Masyarakat Jabar Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
TNI Buka Suara Terkait Pengerahan Pasukan Jaga Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah
• 10 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.