Malaysia, Magnet Baru Pariwisata ASEAN

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Hujan yang tiba-tiba turun membuat para pengunjung bergegas mencari tempat berteduh. Sebelumnya mereka memadati area di depan Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, untuk berfoto.

Sekitar satu jam kemudian hujan reda. Suasana pada Minggu (5/7/2026) malam di sekitar area depan Menara Kembar Petronas dan Taman Kuala Lumpur City Centre (KLCC) itu kembali ramai oleh para pengunjung yang ingin mengabadikan Menara Kembar Petronas.

Gedung setinggi 452 meter itu mulai dibuka pada 31 Agustus 1999 dan pernah menyandang sebagai bangunan tertinggi sedunia. Malaysia kemudian membangun Merdeka 118 Tower di Kuala Lumpur yang resmi dibuka pada Januari 2024. Merdeka 118 Tower kini tercatat sebagai bangunan tertinggi kedua sedunia setelah Burj Khalifa di Dubai, UEA.

Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (5/7/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Gedung setinggi 452 meter itu pernah menyandang sebagai bangunan tertinggi sedunia. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Pelancong berfoto di kawasan KLCC, Kuala Lumpur, Malaysia. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Meski tidak lagi sebagai gedung tertinggi, Menara Kembar Petronas tetap menjadi ikon dan daya tarik pariwisata di Malaysia, terutama bagi para pelancong mancanegara.

Tiga tahun terakhir setelah pandemi, pergerakan wisatawan mancanegara di kawasan ASEAN mulai bergeser. Jika sebelumnya Thailand menjadi daya tarik utama wisatawan mancanegara, kini Malaysia mulai mendominasi.

Mengutip laman Malay Mail, pada periode Januari hingga Mei 2026, Malaysia menyambut 17,5 juta pelancong internasional. Jumlah tersebut meningkat 3,4 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Jenderal Pariwisata Malaysia, Mohd Amirul Rizal Abdul Rahim, pertumbuhan tersebut didorong oleh pengunjung dari ASEAN, China, Jepang, Australia, Taiwan, dan Hong Kong, serta pasar berkembang di Asia Tengah seperti Uzbekistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan.

Beberapa waktu terakhir Malaysia telah melakukan sejumlah langkah efektif yang menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menarik minat banyak pengunjung asing, seperti menerapkan relaksasi campuran untuk visa, memperbarui infrastruktur, serta membuat promosi yang lebih tepat sasaran. Selain itu Pemerintah juga proaktif menarik para pengunjung dari pasar-pasar utama.

Dalam laporan yang dipublikasikan US-ASEAN Business Council, Pemerintah Malaysia telah mengalokasikan dana sebesar 550 juta ringgit untuk promosi pariwisata. Hal itu termasuk kebijakan bebas visa, yang telah memberikan hasil positif dengan peningkatan kedatangan wisatawan China dan India. Akses bebas visa untuk wisatawan dari kedua negara itu diperpanjang hingga akhir 2026.

Wisata Batu Caves di Selangor, Malaysia, Sabtu (4/7/2026). (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Batu Caves merupakan bukit kapur yang memiliki beberapa gua dan kuil Hindhu. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Pengunjung yang masuk wisata Batu Caves ini tidak dipungut biaya. (KOMPAS/RADITYA HELABUMI)

Infrastruktur transportasi yang terintegrasi menjadi salah satu faktor yang memberikan kemudahan bagi para pelancong terutama yang tiba di Malaysia melalui jalur udara. Dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) di Sepang menuju pusat kota Kuala Lumpur atau KL Sentral tersedia banyak pilihan moda.

Mulai dari kereta bandara KLIA Ekspres , KLIA Transit, bus, dan taksi. KLIA Ekspres merupakan moda dengan waktu tempuh tercepat, sekitar 28 menit, namun harga tiketnya paling mahal yaitu 55 ringgit atau sekitar Rp 243.000 untuk satu kali perjalanan.

Bus menjadi pilihan yang paling ekonomis namun tetap memberikan kenyamanan. Harga tiket bus untuk satu kali perjalanan sebesar 15 ringgit atau sekitar Rp 66.000. Jika menggunakan bus, perjalanan dari KLIA menuju KL Sentral ditempuh dalam waktu satu jam. Keberangkatan bus dari KLIA atau KL Sentral memiliki interval waktu tiap 20 menit.

KL Sentral sebagai pusat transportasi terbesar dan terpadu di Kuala Lumpur menjadi titik transit tersibuk terutama bagi para wisatawan. Dengan menggunakan transportasi terintegrasi seperti MRT, LRT atau monorel, pelancong dapat dengan mudah menuju ke area-area komersial maupun tempat lainnya.

KL Sentral juga dilengkapi dengan fasilitas pusat perbelanjaan Nu Sentral yang terhubung langsung dengan bangunan stasiun. Banyak pelancong yang memanfaatkan waktu untuk berbelanja di Nu Sentral sebelum kembali ke bandara KLIA.

Kemudahan akses itu menjadi salah satu hal penting yang disukai para pelancong. Seperti yang disampaikan Jerry pelancong asal Kanada yang melakukan solo traveling ke Malaysia. Menurutnya transportasi yang tersedia sangat membantu untuk menjangkau banyak tujuan, tidak hanya di Kuala Lumpur tapi juga kota lainnya seperti Selangor, Pahang, dan Melaka.

“Melaka cukup mengesankan bagi saya, terutama dengan peninggalan bangunan-bangunan heritage,” kata Jerry.

Bersamaan dengan kampanye “Visit Malaysia 2026” Badan Promosi Pariwisata Malaysia menargetkan 47 juta pengunjung internasional selama 2026. Malaysia tampaknya ingin mencatatkan rekor baru setelah jumlah kunjungan pada tahun 2025 yang mencapai 42,2 juta. Jumlah itu mengalahkan Thailand yang hanya mencatatkan jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 32,9 juta pada 2025.

Permintaan yang kuat dari pasar utama seperti Singapura, China, dan Indonesia masih menjadi penopang. Dari jumlah itu, Malaysia menargetkan 4,6 juta wisatawan dari Indonesia.

Baca JugaMenikmati ”Sunset” dari Beranda Batam

Baca JugaArus Utama Wisata 2026: Berburu Pengalaman, Bukan Kemewahan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Baru Saja Kita Temukan Ladang Gas Sangat Besar di Andaman
• 2 jam lalukompas.com
thumb
BBM Etanol Berlaku 2027, Kandungan Minyak Nabati 10-20 Persen
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Mobil yang Pernah Digunakan Tim Jampidsus Sempat Mampir ke PMJ, Ada Apa?
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Justin Bieber Gabung Jadi Penampil di Halftime Show Final Piala Dunia 2026
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Prodia Diagnostic Line Resmi IPO, Lepas 30% Saham di Harga Rp120
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.