Peneliti BRIN soroti pendekatan teknologi untuk hindari kebakaran TPA

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wahyu Purwanta menggarisbawahi bahwa tidak ada satu teknologi yang tepat untuk semua jenis sampah dan semua daerah.

Dalam diskusi di Jakarta, Kamis, Wahyu menyebut pendekatan yang lebih tepat adalah memilih teknologi berdasarkan karakteristik sampah, skala timbulan, kondisi wilayah, kesiapan infrastruktur, pasar produk, serta kemampuan pembiayaan dan pengoperasian jangka panjang guna menghindari risiko kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

"Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya," katanya.

Wahyu menyebutkan bahwa sampah organik dapat dikurangi melalui pengomposan, biodigester atau anaerobic digestion, serta teknologi biokonversi tertentu. Material yang masih bernilai perlu dipilah dan dikembalikan ke rantai daur ulang.

Untuk menghindari risiko kebakaran, ia mengatakan bahwa fraksi sampah yang mudah terbakar dan memiliki nilai kalor memadai dapat dipertimbangkan untuk diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF) atau dimanfaatkan melalui teknologi termal dan waste-to-energy yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.

"Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas penimbunan (landfill), serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca," ujarnya.

Wahyu juga menekankan bahwa TPA memiliki risiko kebakaran yang perlu dikenali sejak awal melalui perbaikan operasi, pemantauan kondisi timbunan, pengelolaan gas, deteksi hotspot, pengawasan sumber api, serta kesiapsiagaan yang ditingkatkan pada musim kemarau.

Pada saat yang sama, ia menyerukan kepada pemerintah daerah untuk dapat memiliki rencana yang jelas untuk mengurangi jumlah sampah yang harus berakhir di fasilitas akhir.

Menurut Wahyu, pencegahan kebakaran harus dimulai dari pengelolaan TPA yang aktif dan terkontrol. Pada fasilitas yang masih beroperasi, risiko dapat dikurangi melalui pembatasan luas area kerja aktif (working face), pemadatan dan penutupan sampah secara berkala, pengelolaan gas landfill, pengawasan terhadap sumber api, serta kesiapsiagaan khusus pada musim kemarau.

"Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat, sehingga fasilitas akhir pada akhirnya lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol," tutur Wahyu Purwanta.

Baca juga: BRIN kaji opsi "pembakaran terkendali" saat luas karhutla melonjak

Baca juga: BPBD Tangerang: Kebakaran TPA Jatiwaringin tinggal tersisa 30 persen

Baca juga: BNPB pertimbangkan modifikasi cuaca atasi kebakaran TPA Jatiwaringin


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rico Waas: Restoran Modern Harus Diikuti Sistem Pembayaran Pajak yang Profesional
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Imbas Ajak Ruben Onsu Podcast, Mantan Manajer Ikut Kena Hujat Fans Garis Keras Sarwendah dan Giorgio Antonio
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Erdogan Dihormati Trump dan Putin, Mengapa Netanyahu Justru Ketakutan?
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sjafrie Kunjungi 3 Markas Yonif Teritorial Pembangunan di Jawa Tengah
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Cindy Monica Minta Penegakan Hukum Kasus Batu Bara Bebas Intervensi
• 32 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.