VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tak tahu apakah situasi yang melibatkan Iran akan kembali memanas hingga menjadi konflik militer berskala penuh, tetapi dia menekankan AS memiliki banyak cara untuk menang jika hal itu terjadi.
Trump soal mengenai seberapa besar kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam ketegangan dengan Iran dapat berujung pada konflik militer berskala penuh menjawab; "Saya tidak tahu. Kami menang dengan sangat cepat. Ini cara lain untuk melakukannya. Kami punya banyak cara untuk menang, tetapi kami sudah menang secara militer."
Pada Rabu dini hari, pasukan AS telah melancarkan serangkaian serangan dahsyat terhadap Iran.
Pasukan Iran kemudian melaporkan telah melakukan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan militer milik AS di Bahrain dan Kuwait.
Otoritas Iran menuduh AS melanggar nota kesepahaman tentang penghentian permusuhan.
Kemudian pada Kamis, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukan AS telah menyerang sekitar 90 sasaran di Iran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah membalas serangan AS tersebut dengan menyerang dua pangkalan AS di Kuwait dan dua pangkalan di Bahrain.
Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tampaknya lebih memahami “bahasa kekerasan”, setelah ia mengancam akan melancarkan serangan lanjutan ke Teheran.
Pernyataan Trump yang menghina bangsa Iran hingga mengancam melakukan serangan lebih lanjut bukanlah "tanda kekuatan, tetapi pengakuan atas kegagalan kebijakan yang selama bertahun-tahun dibangun di atas kekerasan, sanksi, dan ancaman,” tulis Gharibabadi di X, Rabu 8 Juli 2026.
Ia pun menegaskan bahwa kebijakan Trump "gagal membuat bangsa Iran bertekuk lutut".
"Dengan Trump yang kriminal dan kejam, kita harus berbicara dalam bahasanya sendiri. Tampaknya, ia lebih memahami bahasa kekerasan,” kata Gharibabadi. (Ant)





