Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan persiapan pencatatan saham perdana publik atau initial public offering (IPO) Bank Jakarta. Pasalnya, aksi yang akan mengantarkan bank daerah milik Ibu Kota itu sudah mendapat lampu hijau dan dorongan dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin mengatakan, pihak Bank Jakarta sudah melakukan pertemuan dengan bursa. Dari beberapa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta yang sudah menyampaikan niatan untuk melantai di bursa, Bank Jakarta dinilai sebagai calon emiten yang paling siap.
“Persiapan (IPO Bank Jakarta) sudah,” ujar Saidu kepada wartawan di BEI, Jakarta, Kamis (9/7).
Saidu menuturkan, sebagai direktur penilaian perusahaan BEI, dia belum pernah bertemu langsung dengan pihak Bank Jakarta. Akan tetapi, tim penilaian perusahaan bursa sudah pernah bertemu dengan lembaga keuangan milik pemerintah daerah itu.
Dia pun menyatakan belum dapat memastikan kapan Bank Jakarta akan IPO. Namun, pihak Bank Jakarta sudah mengutarakan niatnya melantai di bursa tahun depan.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae mengatakan, proses melantainya Bank Jakarta di BEI tak akan dilakukan terburu-buru. Menurut dia, hal itu dilakukan sesuai dengan arahan Pramono agar hasil IPO yang diperoleh bisa optimal.
“Sekarang persiapkan dengan baik, sehingga nanti IPO-nya itu juga bisa keluar pada waktu yang tepat,” kata Dian ketika ditemui di Amanaia Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/6).
Dia pun menyebut IPO Bank Jakarta memang menjadi komitmen Pramono dan sudah mendapat dukungan dari OJK.
Kinerja Keuangan Bank Jakarta Mei 2026Melihat kinerja keuangan Bank Jakarta periode Mei 2026, bank ini membukukan laba tahun berjalan setelah pajak Rp 368,24 miliar. Nilai nyaris landai dengan kenaikan 0,4% dibandingkan laba perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 366,75 miliar.
Tak bergairahnya kenaikan laba Bank Jakarta seiring turunnya pendapatan bunga bersih perseroan yang turun 7,2% menjadi Rp 1,16 triliun dari Rp 1,25 triliun, sebab pendapatan bunga turun 9,3% menjadi Rp 2,23 triliun dari Rp 2,46 triliun serta beban bunga juga turun menjadi Rp 1,06 triliun dari Rp 1,21 triliun.




