Penerima Beasiswa Garuda Wajib Kembali Membangun Negeri

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi mulai melakukan orientasi kepada 42 SMA Unggul Garuda Transformasi dan pembekalan kepada 379 siswa penerima Beasiswa Garuda gelombang 1 tahun 2026. Para penerima diminta untuk mengoptimalkan ilmu yang didapat di luar negeri dengan berbakti kepada negara setelah lulus nanti.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan, setiap penerima Beasiswa Garuda menjalani studi di Sekolah Garuda dan di luar negeri. Mereka wajib memberikan pertanggungjawaban ilmunya untuk kemajuan bangsa dan negara di masa depan. Sebab, beasiswa ini berasal dari pajak rakyat.

"Beasiswa Anda itu berlipat-lipat uang negara diberikan kepada Anda dibandingkan untuk membiayai sekolah di dalam negeri. Berlipat-lipat. Ada yang ratusan kali, ada yang 100 kali, ada yang 200 kali. Jadi apa maksudnya? Anda punya tanggung jawab. Anda punya tanggung jawab mengembalikan nanti ke bangsa kita dalam bentuk yang lain. Mengembalikan dalam bentuk kemajuan bangsa kita,” kata Brian dalam acara Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Penerima Beasiswa Garuda Tahun 2026 di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Selain Brian, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno; dan Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian juga hadir di acara tersebut secara daring. Adapun Brian turut didampingi Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani.

Sepanjang tahun 2025, program ini melibatkan 12 SMA Unggul Garuda Transformasi dan 416 penerima Beasiswa Garuda. Sementara pada gelombang 1 tahun 2026 ini, jumlah sekolah yang tergabung meningkat menjadi 42 Sekolah Garuda Transformasi dan 379 penerima Beasiswaa Garuda. Pemerintah bahkan menargetkan jumlah Sekolah Garuda Transformasi akan mencapai 80 sekolah pada 2029.

Adapun kegiatan orientasi dan pembekalan tahun ini berlangsung selama dua hari dengan melibatkan sekitar 400 peserta yang terdiri atas 42 kepala sekolah dan tenaga pendidik SMA Unggul Garuda Transformasi, pemerintah provinsi, para penerima Beasiswa Garuda, perwakilan kedutaan besar negara sahabat, perguruan tinggi dalam dan luar negeri, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Ini diharapkan menjadi wadah untuk menyamakan pemahaman mengenai ekosistem Garuda sekaligus memperkuat kolaborasi seluruh pihak yang terlibat.

Brian mengakui, sering mendengar penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tidak pulang mengabdi ke Indonesia. Dia berharap fenomena itu tidak terjadi pada penerima Beasiswa Garuda. Sebab, dukungan beasiswa yang diberikan bukan untuk sekadar bekerja, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan.

"Tidak mungkin (tidak ada yang fasilitasi), Anda sekarang sudah dapat fasilitas, Anda nanti harus berani bertarung di sini (di Indonesia),” ujarnya.

Banyak mahasiswa Indonesia tertekan di luar negeri bukan karena kurang cerdas, melainkan tidak mampu menghadapi kegagalan.

Brian juga meminta semua siswa yang terpilih dalam program ini tidak boleh merasa diri paling pintar. Setiap penerima beasiswa harus menjadi orang yang tekun, gigih, berdaya juang, dan tetap rendah hati.

Baca JugaSekolah Garuda Diklaim Berbeda dengan RSBI

Sebab, rasa superior yang kerap muncul justru menjadi awal dari berbagai persoalan, terutama ketika para mahasiswa memasuki lingkungan akademik kelas dunia yang jauh lebih kompetitif. Selain itu, banyak mahasiswa Indonesia yang mengalami tekanan mental di luar negeri bukan karena kurang cerdas, melainkan karena tidak mampu bertahan menghadapi kegagalan.

"Setiap orang punya saat-saat di mana sesuatu itu tidak mudah. Tetapi dari situlah kadang-kadang akan melenting lebih tinggi. Kalau orang biasa-biasa terus, tidak pernah jatuh, biasanya juga dia tidak akan pernah melenting ke atas," ucap Brian.

Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani menjelaskan, dua program ini yang saling terintegrasi ini tidak hanya akan melahirkan lulusan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global. Akan tetapi, program-program tersebut juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dalam negeri dengan universitas-universitas terbaik dunia melalui berbagai program akademik bersama.

Ekosistem Garuda

Program ini, lanjut Najib, tidak hanya membiayai studi sarjana penuh ke luar negeri, tetapi juga membuka peluang skema joint degree dan double degree antara perguruan tinggi Indonesia dan perguruan tinggi luar negeri. Mereka akan mendapatkan pendampingan selama masa studi, termasuk kesempatan mengikuti program magang di berbagai institusi, termasuk BUMN, yang nantinya dapat diakui sebagai kredit akademik di universitas tujuan.

"Sekolah Garuda dan Beasiswa Garuda kami rancang sebagai satu kesatuan ekosistem yang tidak terpisahkan dan saling melengkapi tanpa mengurangi kesempatan bagi sekolah lainnya, terutama untuk mendapatkan kesempatan seleksi pendanaan sekolah di luar negeri melalui Beasiswa Garuda," kata Najib.

Baca JugaFasilitas Mewah Guru Sekolah Garuda Dinilai Melanggengkan Stratanisasi Guru

Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian menyatakan, legislatif terus memberikan dukungan sekaligus mengawasi berbagai kebijakan yang bertujuan memperkuat ekosistem pendidikan yang bermutu dan mendorong lahirnya sumber daya manusia unggul. Dengan demikian, semakin banyak generasi muda Indonesia yang memiliki daya saing di tingkat global.

Para siswa dan semua warga Sekolah Garuda harus memastikan setiap murid dapat tumbuh, belajar, dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, serta bebas dari kekerasan.

Baca JugaBeasiswa Wujudkan Mimpi Anak Miskin di Sumba Tengah

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno juga mengingatkan, para siswa dan semua warga Sekolah Garuda harus memastikan setiap murid dapat tumbuh, belajar, dan berkembang dalam lingkungan yang aman, nyaman, serta bebas dari kekerasan. Sebab, sumber daya manusia unggul tidak hanya baik secara ilmu tetapi juga adab.

"Gunakan kesempatan ini untuk kenali teman-teman baru, belajarlah dari pada guru dan pembimbing, beranilah bertanya dan menyampaikan gagasan," kata Pratikno.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Melawan Saat Ditangkap, DPO Curanmor di Jember Meronta
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Datang Bertiga, Pulang Berdua: Nanik S Deyang Tak Tampak di KPK
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pemkab Jepara tunggu juknis Kopdes jadi "offtaker" tangkapan nelayan
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Legenda Prancis Sesumbar! Tak Ada Tim yang Bisa Hentikan Mbappe dkk di Piala Dunia 2026
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Apple Kurangi Ketergantungan Asia, Produksi 15 Miliar Chip Dipindah ke AS
• 11 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.