Konflik Geopolitik Ancam Inflasi Tinggi, Harga Emas Makin Jatuh

disway.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID-- Menyusul penurunan harga emas ke level terendah pada Rabu (08/07) lalu, harga emas dunia pada Kamis (09/07) kini kembali ambruk hingga mendekati level terendah satu minggu yang ditetapkan pada sesi sebelumnya.

Dilansir dari data BCA Sekuritas, harga emas spot turun 0,4 persen menjadi USD 4.060,46 per ons. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,3 persen menjadi USD 4.069,80.

BACA JUGA:Ekonom Unair Sebut Potongan Komisi Ojol 8 Persen Perlu Dievaluasi Secara Berkala

Dalam penuturannya, Analis pasar senior di OANDA Kelvin Wong menuturkan bahwa penyesuaian harga kenaikan suku bunga kedua oleh Federal Reserve turut menjadi katalis yang mendukung tren penurunan harga emas tersebut.

Pasalnya, serangan baru terhadap Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran, juga mendorong kekhawatiran terkait inflasi tinggi juga meningkat pada pertemuan bank sentral AS bulan lalu.

BACA JUGA:Ucapan Mamah Dedeh Soal Orang yang Gak Mau Punya Anak Otaknya Tak Normal Diperdebatkan: Jangan Dibantah!

"Setelah bentrokan kemarin, perjanjian gencatan senjata sementara antara AS dan Iran saat ini berada di posisi yang goyah, sehingga situasinya bisa berubah lagi," ucap Wong.

Di sisi lain, Asia kini terpantau telah menjadi pusat gravitasi baru bagi pasar emas global.

Dilansir dari data BCA Sekuritas, keunggulan Asia dalam menopang permintaan regional telah menjadi seiring dengan penguatan infrastruktur perdagangan emas di Singapura dan Hong Kong.

BACA JUGA:Prabowo Resmikan B50, Indonesia Cetak Rekor sebagai Negara Pertama di Dunia

Dalam hal ini, salah satu indikator yang menjadi bukti dari data tersebut adalah dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) emas yang didukung secara fisik.

Asia memimpin arus masuk global ke ETF yang didukung emas pada paruh pertama tahun ini, berdasarkan laporan World Gold Council (WGC) yang diterbitkan pada hari Rabu (08/07), dimana Asia menambahkan rekor USD 12 miliar selama periode tersebut, dan Eropa, USD 3,2 miliar.

Selain itu menurut Ahli Strategi Emas Asia-Pasifik di State Street Investment Management, Robin Tsui, keberhasilan akan lebih bergantung pada likuiditas dan partisipasi pasar daripada pada tingkat harga emas.

"Inisiatif ini terus didukung oleh permintaan emas yang tangguh di Asia sejauh tahun ini," ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Alasan yang Membuat Drakor Agent Kim Reactivated Raih Rating Tinggi
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Bedah Ekonomi Syariah, Fraksi PKS MPR Cari Solusi Problematika Perekonomian Indonesia
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
INACA Sambut Kelonggaran dari BI, Maskapai Charter Boleh Bertransaksi dengan Dolar hingga 2027
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Megawati: RI-Timor Leste Saudara Sejati, Siapkan Kaderisasi Parpol Lintas Negara
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Andra ST dan Robby Pantjoro Dites Urine soal Kecelakaan McLaren, Ini Hasilnya
• 6 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.