Bisnis.com, JAKARTA — Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS) dibuka menguat pada pencatatan saham perdananya hari ini, Jumat (10/7/2026). Saham RANS dibuka menguat dengan naik 34,12% ke level Rp228 per saham, atau menyentuh auto reject atas (ARA).
Dalam penawaran umum perdana sahamnya atau initial public offering (IPO), RANS menetapkan harga di level Rp170 per saham. Penetapan harga pada batas atas tersebut membuka peluang bagi RANS menghimpun dana segar hingga Rp429,25 miliar.
Sebelumnya, dalam masa penawaran awal (book building), perseroan menawarkan saham pada kisaran Rp135-Rp170 per saham sebelum akhirnya memilih harga tertinggi untuk masa penawaran umum pada 2—8 Juli 2026.
Dalam aksi korporasi ini, RANS menerbitkan sebanyak 2,52 miliar saham baru.
Manajemen menyampaikan seluruh dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan untuk enam kebutuhan utama guna memperkuat struktur keuangan sekaligus mendukung ekspansi bisnis.
Sekitar Rp29,95 miliar akan digunakan untuk melunasi lebih awal seluruh pokok utang perseroan kepada Bank BNI. Selanjutnya, Rp80 miliar dialokasikan sebagai belanja modal untuk pembangunan proyek Cipungland.
Baca Juga
- IPO Rans Entertainmen, Saham Raffi Ahmad hingga Kaesang Dikunci 8 Bulan
- IPO Rans Entertainmen: Masuk Papan Pengembangan, Free Float 20,02%
- RANS Entertainment Mau IPO Meski Pendapatan Loyo Sejak 2024
Perseroan juga menganggarkan Rp161,45 miliar sebagai modal kerja untuk penyelenggaraan konser di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, Rp35 miliar akan digunakan membentuk entitas baru bersama mitra usaha guna mengembangkan bisnis teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Adapun Rp85 miliar disiapkan untuk mengakuisisi kepemilikan saham PT Rans Kosmetika Indonesia atau Slavina, sementara sisa dana akan disetor sebagai tambahan modal kepada entitas anak.
Dalam proses IPO tersebut, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek sekaligus administrator penawaran.
RANS bergerak di sektor consumer cyclicals, khususnya subsektor hiburan (entertainment) dan produksi film. Perseroan menjalankan bisnis media dan hiburan, pengelolaan intellectual property (IP), penyelenggaraan acara, hingga investasi melalui perusahaan induk.
Manajemen menjelaskan model bisnis RANS dibangun sebagai platform hiburan yang mengintegrasikan pengelolaan IP dengan distribusi audiens. Seluruh lini usaha dirancang saling mendukung untuk menciptakan sinergi ekosistem media, hiburan, dan bisnis pendukung lainnya.
Perseroan semula berdiri dengan nama PT RNR Film Internasional sebelum berganti nama menjadi PT Rans Entertainmen Indonesia pada 7 Juli 2021. RANS mulai beroperasi secara komersial pada 2018 dan berkantor pusat di RANS Office Building, BSD City, Tangerang Selatan.
Prospek IPOSenior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai tingginya minat perusahaan untuk melantai di bursa terjadi di tengah level suku bunga acuan yang masih tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat biaya dana dari perbankan meningkat sehingga bunga kredit modal kerja maupun investasi menjadi lebih mahal.
Di sisi lain, IPO menawarkan alternatif pendanaan tanpa kewajiban pembayaran bunga maupun pelunasan pokok utang seperti pinjaman bank atau penerbitan obligasi, sehingga dapat menjadi pilihan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan.
"Pendanaan lewat IPO di sisa akhir tahun ini sangat menarik dari sisi kebutuhan emiten, tetapi proses eksekusinya akan menuntut kompromi besar pada penentuan harga perdana agar bisa memikat likuiditas investor yang sedang selektif," ujar Nafan.
Dia menambahkan investor tetap perlu mencermati sejumlah aspek sebelum berinvestasi pada saham IPO, mulai dari valuasi, profitabilitas, kualitas sponsor atau ultimate beneficial owner (UBO), penggunaan dana hasil penawaran umum, hingga potensi risiko likuiditas setelah saham tercatat di Bursa.
Secara khusus, Nafan menilai RANS memiliki sejumlah daya tarik dibandingkan emiten IPO lain tahun ini. Menurutnya, perseroan didukung tingkat pengenalan merek (brand awareness) yang kuat dan mencatatkan return on assets (ROA) tertinggi sebesar 13,2%.
"Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) RANS terendah di antara calon emiten IPO, yakni sebesar 0,35 kali," ujarnya.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





