Oleh: Mohammad Boroujerdi; Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia, Republik Demokratik Timor-Leste, dan ASEAN
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebih dari empat bulan berlalu sejak dimulainya serangan kriminal Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Serangan brutal dan ilegal tersebut, yang secara nyata melanggar Pasal 2 ayat 4 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah mengakibatkan syahidnya Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Yang Mulia Ayatullah Al-Uzma Sayyid Ali Khamenei, serta syahidnya sejumlah besar pejabat tinggi, dan lebih dari 3.500 anak-anak, wanita, serta warga sipil Iran yang tidak berdosa.
Ayatullah Al-Uzma Syahid Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah merahmatinya) merupakan salah satu tokoh politik dan agama paling berpengaruh di dunia kontemporer. Selama lebih dari tiga dekade kepemimpinannya, beliau memainkan peran sentral dalam mengarahkan kebijakan-kebijakan makro Republik Islam Iran, mengembangkan kapabilitas nasional, memperkuat kemandirian politik dan ekonomi Republik Islam Iran, serta membentuk diskursus anti-hegemoni di kawasan Asia Barat dan penegakan keadilan di dunia.
Salah satu poros terpenting pemikiran politik Pemimpin Syahid Iran adalah “menjaga kemerdekaan menyeluruh negara.” Kemerdekaan yang dimaksud bukanlah sebuah pengasingan diri, melainkan sebuah konsep kehadiran yang aktif, berpengaruh, dan sekaligus tidak bergantung pada kekuatan-kekuatan lain dalam sistem internasional.
Beliau, yang telah mengabdikan 65 tahun dari 86 tahun usianya di jalan kemerdekaan, kebebasan, kemajuan, dan swasembada Iran, senantiasa meyakini bahwa: 1. Kemerdekaan politik, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan merupakan prasyarat utama bagi terjaganya kehormatan dan keamanan setiap bangsa; dan 2. Ketergantungan pada kekuatan-kekuatan asing memperlemah kemampuan pengambilan keputusan mandiri suatu negara serta membuka peluang bagi intervensi pihak asing di dalam negeri.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Bertumpu pada prinsip “kemerdekaan menyeluruh negara”, selama masa 36 tahun kepemimpinan Ayatullah Al-Uzma Syahid Sayyid Ali Khamenei (semoga allah merahmatinya), Republik Islam Iran berhasil membangun ikatan yang mendalam antara “identitas Iran” dan “nilai-nilai Islam”, seraya mencapai swasembada di pelbagai bidang seperti nanoteknologi, bioteknologi, teknologi nuklir, kedokteran dan kesehatan, radiofarmaka, industri pertahanan, kedirgantaraan, dan lain sebagainya. Pencapaian ini tidak hanya membuat Iran mampu bertahan menghadapi tekanan-tekanan sanksi Barat, tetapi juga mengantarkannya menjadi salah satu dari segelintir negara pemilik kemampuan dan teknologi mutakhir tersebut (termasuk dalam jajaran 10 negara terbaik di dunia).
Perolehan peringkat keempat hingga keenam dunia dalam nanoteknologi, peringkat kesebelas dunia dan pertama di antara negara-negara Islam dalam bioteknologi, posisi sebagai salah satu dari 10 negara penghasil radiofarmaka terkemuka, dan yang terpenting adalah kemenangan melawan serangan agresif Amerika Serikat dan rezim Zionis dalam Perang Dua Belas Hari (13–24 Juni 2025) dan Perang Ramadan (28 Februari hingga 7 April 2026), dengan bersandar sepenuhnya pada kemampuan dan kapasitas pertahanan domestik, merupakan bukti nyata atas tercapainya kemerdekaan menyeluruh Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan visioner Ayatullah Al-Uzma Syahid Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah merahmatinya).
Pemikiran politik Ayatullah Al-uzma Syahid Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah merahmatinya) tidak terbatasi oleh batas-batas geografis Iran; melainkan ia telah memberikan pengaruh besar pada para pencari keadilan dan kebebasan di seantero dunia Islam serta di pentas global.
“Kebebasan dan martabat bangsa-bangsa” adalah salah satu konsep transnasional dalam pemikiran politik Pemimpin Syahid Iran ini. Dalam pandangan Syahid Ayatullah Khamenei, kebebasan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kebebasan individu; konsep ini lebih merujuk pada kebebasan bangsa-bangsa dari hegemoni, pendudukan, penjajahan, dan tekanan kekuatan-kekuatan asing. Beliau selalu meyakini bahwa tidak satu negara pun yang boleh berada di bawah dominasi politik, ekonomi, atau budaya kekuatan-kekuatan besar, dan setiap bangsa berhak untuk menentukan nasib mereka sendiri secara bebas.
Dukungan terhadap perjuangan Palestina, sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negeri Republik Islam Iran, dapat didefinisikan dan ditafsirkan dalam kerangka prinsip “kebebasan dan martabat bangsa-bangsa” dalam pemikiran politik Pemimpin Syahid Iran tersebut. Ayatullah Al-Uzma Syahid Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah merahmatinya) memandang Palestina sebagai jantung dunia Islam yang berdenyut, dan meyakini bahwa seluruh negara Islam berkewajiban untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina yang tertindas hingga tercapainya kemerdekaan penuh negara itu. Beliau menilai dialog dan perundingan dengan rezim Zionis sebagai tindakan yang sia-sia, dan senantiasa membela pembentukan negara Palestina yang merdeka, penghentian pendudukan wilayah Palestina, serta perlindungan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Syahid Sayyid Ali Khamenei meyakini bahwa satu-satunya jalan menuju kemerdekaan Palestina adalah penyelenggaraan referendum di negeri tersebut oleh rakyat Palestina yang sesungguhnya – bukan oleh para imigran Zionis yang melakukan perampasan dan pendudukan – baik mereka yang berada di dalam wilayah Palestina maupun yang berada di luarnya. Pandangan inilah yang senantiasa dijelaskan dan dipaparkan sebagai sikap resmi Republik Islam Iran terhadap isu Palestina.
“Urgensi persatuan di kalangan umat Islam” merupakan konsep transnasional lainnya dalam pemikiran keagamaan dan politik Pemimpin Syahid Iran. Beliau memandang kehormatan dan identitas umat Islam melampaui batas-batas nasionalitas dan geografis. Beliau secara konsisten menekankan pentingnya persatuan Islam dan perlunya menghindari perselisihan mazhab di dunia Islam sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan dan keunggulan masyarakat Islam dalam menghadapi upaya-upaya pemecahbelahan yang dilakukan Barat.
Dalam pandangan Pemimpin Syahid Iran, “persatuan Islam” merupakan sebuah prinsip Al-Qur’an yang akan meningkatkan keamanan kawasan, pertumbuhan ekonomi, wibawa negara-negara Islam, dan mengurangi intervensi asing di dunia Islam. Atas dasar itulah, selama masa kepemimpinan beliau, langkah dan upaya besar telah dilakukannya demi mendekatkan mazhab-mazhab Islam (taqrib), mempererat kerja sama antara negara-negara Islam, dan memperkuat kohesi umat Islam—langkah-langkah yang pada masa mendatang akan terus ditindaklanjuti secara intensif dalam hubungan Republik Islam Iran dengan seluruh negara Islam.
“Menjaga kemerdekaan menyeluruh”, “kebebasan dan martabat bangsa-bangsa”, serta “urgensi persatuan di kalangan umat Islam” hanyalah setetes air dari lautan pemikiran politik Ayatullah Al-Uzma Syahid Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah merahmatinya); pemikiran-pemikiran yang tidak hanya menjadi jaminan bagi kehormatan dan wibawa Iran yang Islami, melainkan juga telah menjadi sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa dan manusia-manusia merdeka di seluruh dunia.
Kesyahidan Yang Mulia Ayatullah Al-Uzma Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah merahmatinya) di tangan makhluk-makhluk paling nista dan paling dibenci di muka bumi, bukanlah akhir dari sebuah jalan, melainkan awal dari fase baru dalam perjalanan menuju kejayaan Iran dan Islam.
Mohammad Boroujerdi; Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia, Republik Demokratik Timor-Leste, dan ASEAN




