Tren sewa rumah di kota-kota besar mulai menjadi pilihan bagi generasi muda. Minat terhadap hunian sewa terus meningkat dan melampaui minat terhadap kepemilikan hunian.
Portal Rumah 123 mencatat minat masyarakat terhadap hunian sewa mencapai 58,6 persen, mengungguli minat pembelian rumah 41,4 persen. Fenomena sewa rumah didorong kuat oleh kelompok usia muda, yakni 18-34 tahun, yang umumnya sedang membangun karier dan keluarga. Kelompok usia muda saat ini mendominasi pengguna Rumah 123, yakni 53,9 persen dari total pengguna.
Temuan itu didasarkan analisis pencarian oleh pengguna Rumah123 di seluruh Indonesia sepanjang triwulan II (April-Juni) 2026. Permintaan hunian sewa tumbuh 8,2 persen secara tahunan, sebaliknya minat membeli turun 19,8 persen (yoy). Pemanfaatan fitur Simulasi KPR juga melandai hingga 11,6 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, dengan pencarian rumah didominasi rumah subsidi.
Rumah123 mencatat tren perubahan perilaku konsumen itu telah berlangsung konsisten selama lima kuartal terakhir. Perlambatan bukan hanya terjadi pada keputusan membeli, melainkan juga pada tahap awal pencarian properti.
Menurut Marisa Jaya, Head of Research Rumah123, perubahan itu menunjukkan adanya tahapan baru dalam perjalanan kepemilikan rumah. Menyewa menjadi fase transisi sebelum membeli, terutama bagi generasi muda yang masih membangun stabilitas finansial. Generasi muda menyesuaikan kebutuhan hidup dan menunggu momentum yang tepat untuk membeli rumah. Konsumen memilih menyewa terlebih dahulu sebagai strategi yang lebih fleksibel.
Karakteristik kelompok usia muda dinilai lebih mengutamakan fleksibilitas, mobilitas, dan stabilitas karier jangka pendek dibanding cicilan jangka panjang. Mereka umumnya berada pada fase membangun karier, keluarga, dan kondisi finansial sehingga kebutuhan terhadap fleksibilitas tempat tinggal cenderung lebih tinggi. Fenomena itu, lanjut Mariska, bukan sebagai penurunan minat membeli rumah, melainkan perubahan urutan pengambilan keputusan.
”Keterjangkauan mendorong kompromi gaya hidup dan bujet. Dengan kata lain, menyewa kini menjadi bagian dari perjalanan menuju kepemilikan rumah,” ungkap Mariska, dalam keterangan resmi, Kamis (9/7/2026).
Sementara itu, mayoritas simulasi masih didominasi rumah dengan harga di bawah Rp 500 juta (35,2 persen) dan Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar (30,5 persen). Tenor yang paling banyak dipilih adalah 16-20 tahun (36,9 persen), diikuti tenor hingga 10 tahun (30,1 persen) dan 11-15 tahun (28,1 persen).
Preferensi pencarian rumah didominasi rumah subsidi (10,02 persen), diikuti rumah kluster 6,1 persen dan rumah mewah 4,84 persen. Hal itu dinilai menunjukkan konsumen semakin mempertimbangkan kualitas lingkungan, fasilitas, dan gaya hidup ketika mencari hunian.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Propert Watch Ali Tranghanda, mengemukakan, pergeseran tren minat ke rumah sewa menjadi salah satu indikasi harga rumah sudah terlalu tinggi dibandingkan daya beli. Hal itu umum terjadi di sejumlah kota besar di luar negeri. Apalagi, Indonesia masih sangat terbatas dalam penyediaan perumahan publik (public housing) oleh pemerintah.
Saat ini, pembangunan rumah susun yang berkembang dan menyasar masyarakat menengah ke bawah sebenarnya bukan public housing, karena dibangun dan dijual oleh swasta.
”Minat membeli rumah tertunda lebih karena kondisi saat ini di tengah ekonomi yg belum pulih, selain itu juga isu pemutusan hubungan kerja,” ujar Ali, Kamis.
Ia menambahkan, kebijakan pemerintah menggulirkan kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi dengan tenor 40 tahun dinilai dapat meningkatkan daya cicil rumah, ketimbang konsumen terus menyewa rumah. Akan tetapi, regulasi itu pun belum tentu mampu mendongkrak daya beli masyarakat karena harga rumah yang tinggi.
Perbedaan cicilan untuk tenor KPR subsidi 30 tahun dan 40 tahun hanya selisih Rp 100.000-Rp 150.000 per bulan, tetapi bunga KPR secara kumulatif akan jauh lebih tinggi untuk tenor KPR 40 tahun. Hal itu memicu keraguan konsumen di tengah tekanan kondisi ekonomi.
”Kebijakan tenor 40 tahun meskipun bisa membuat MBR mencicil, tetapi fokus utama mereka saat ini bukan hunian,” lanjut Ali.
Ia menambahkan, masyarakat berpenghasilan rendah yang belum siap membeli rumah jangan dipaksakan untuk membeli. Apalagi, jika lokasi rumah subsidi jauh dari tempat kerja. Sewa juga menjadi salah satu pilihan.





