Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis Annie Mueller mengungkapkan bahwa perasaan cemas atau tidak tenang menjelang hari Senin setelah menikmati akhir pekan dikenal sebagai "Sunday scaries".
Melansir dari siaran Psychology Today Kamis (9/7), Mueller menjelaskan "Sunday scaries" merupakan perasaan cemas, sedih, atau takut yang muncul ketika akhir pekan berakhir dan seseorang harus kembali menjalani rutinitas pekerjaan, sekolah, atau aktivitas sehari-hari.
Perasaan tersebut dapat muncul lebih kuat setelah seseorang menghabiskan akhir pekan untuk bepergian atau berlibur. Saat kembali ke rumah, masih ada pakaian yang harus dicuci, barang yang belum dirapikan, kebutuhan rumah tangga yang belum dipenuhi, hingga pekerjaan yang menanti keesokan harinya. Kondisi ini dapat memicu rasa kewalahan.
Baca juga: Tanda tubuh butuh istirahat secara mental
Mueller mengatakan yang sering memperburuk keadaan bukanlah rasa cemas itu sendiri, melainkan cara seseorang meresponsnya. Misalnya dengan menunda membereskan barang, menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial, atau begadang untuk menunda datangnya hari Senin. Kebiasaan tersebut memang dapat memberikan rasa lega sesaat, tetapi tidak mengurangi kecemasan dalam jangka panjang.
Salah satu cara yang disarankan Mueller adalah membedakan antara perasaan dan fakta. Pikiran seperti "minggu depan pasti berantakan" merupakan respons emosional, sedangkan jadwal rapat atau daftar pekerjaan yang sudah diketahui merupakan fakta yang dapat dikelola. Menuliskan keduanya dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif.
Baca juga: Psikolog: Menunda pekerjaan tidak selalu buruk bagi kreativitas
Ia juga menyarankan melakukan satu atau dua langkah kecil yang dapat meringankan beban pada awal pekan. Misalnya, mulai membongkar barang bawaan selama 20 menit, menjadwalkan belanja kebutuhan setelah pulang kerja, atau menyisihkan satu malam untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Selain itu, Mueller menganjurkan untuk mengurangi waktu menatap layar ketika rasa cemas mulai muncul. Menurut dia, terlalu lama menggulir media sosial saat sedang cemas dapat memperkuat kekhawatiran, sedangkan beristirahat sejenak dari ponsel dapat membantu menenangkan pikiran.
Baca juga: Pekerja disarankan luangkan waktu hindari burnout
Merencanakan satu kegiatan yang menyenangkan pada pekan berikutnya, seperti bertemu teman, berolahraga, atau menikmati makan malam di luar rumah, juga dapat membantu mengurangi kecemasan karena memberikan sesuatu yang dinantikan.
Mueller menambahkan, apabila "Sunday scaries" muncul sangat kuat dan terjadi berulang, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa seseorang perlu mengevaluasi sumber stres dalam hidupnya, seperti pekerjaan yang tidak lagi nyaman, beban tanggung jawab yang tidak seimbang, atau kurangnya waktu untuk beristirahat.
Baca juga: Tekanan media sosial hingga karir picu “burnout” pekerja muda
Baca juga: Gejala stres halus yang sering tidak disadari
Melansir dari siaran Psychology Today Kamis (9/7), Mueller menjelaskan "Sunday scaries" merupakan perasaan cemas, sedih, atau takut yang muncul ketika akhir pekan berakhir dan seseorang harus kembali menjalani rutinitas pekerjaan, sekolah, atau aktivitas sehari-hari.
Perasaan tersebut dapat muncul lebih kuat setelah seseorang menghabiskan akhir pekan untuk bepergian atau berlibur. Saat kembali ke rumah, masih ada pakaian yang harus dicuci, barang yang belum dirapikan, kebutuhan rumah tangga yang belum dipenuhi, hingga pekerjaan yang menanti keesokan harinya. Kondisi ini dapat memicu rasa kewalahan.
Baca juga: Tanda tubuh butuh istirahat secara mental
Mueller mengatakan yang sering memperburuk keadaan bukanlah rasa cemas itu sendiri, melainkan cara seseorang meresponsnya. Misalnya dengan menunda membereskan barang, menghabiskan waktu berjam-jam menggulir media sosial, atau begadang untuk menunda datangnya hari Senin. Kebiasaan tersebut memang dapat memberikan rasa lega sesaat, tetapi tidak mengurangi kecemasan dalam jangka panjang.
Salah satu cara yang disarankan Mueller adalah membedakan antara perasaan dan fakta. Pikiran seperti "minggu depan pasti berantakan" merupakan respons emosional, sedangkan jadwal rapat atau daftar pekerjaan yang sudah diketahui merupakan fakta yang dapat dikelola. Menuliskan keduanya dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif.
Baca juga: Psikolog: Menunda pekerjaan tidak selalu buruk bagi kreativitas
Ia juga menyarankan melakukan satu atau dua langkah kecil yang dapat meringankan beban pada awal pekan. Misalnya, mulai membongkar barang bawaan selama 20 menit, menjadwalkan belanja kebutuhan setelah pulang kerja, atau menyisihkan satu malam untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
Selain itu, Mueller menganjurkan untuk mengurangi waktu menatap layar ketika rasa cemas mulai muncul. Menurut dia, terlalu lama menggulir media sosial saat sedang cemas dapat memperkuat kekhawatiran, sedangkan beristirahat sejenak dari ponsel dapat membantu menenangkan pikiran.
Baca juga: Pekerja disarankan luangkan waktu hindari burnout
Merencanakan satu kegiatan yang menyenangkan pada pekan berikutnya, seperti bertemu teman, berolahraga, atau menikmati makan malam di luar rumah, juga dapat membantu mengurangi kecemasan karena memberikan sesuatu yang dinantikan.
Mueller menambahkan, apabila "Sunday scaries" muncul sangat kuat dan terjadi berulang, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa seseorang perlu mengevaluasi sumber stres dalam hidupnya, seperti pekerjaan yang tidak lagi nyaman, beban tanggung jawab yang tidak seimbang, atau kurangnya waktu untuk beristirahat.
Baca juga: Tekanan media sosial hingga karir picu “burnout” pekerja muda
Baca juga: Gejala stres halus yang sering tidak disadari





