Perempuan Lebih Rentan Alami Autoimun, Waspadai Tandanya Sejak Dini

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Perempuan lebih berisiko terkena penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Tanda dan gejala seperti kelelahan berkepanjangan, nyeri sendi, dan ruam pada kulit mesti diwaspadai sejak dini agar penanganan bisa lebih cepat diberikan.

Pakar genetika ekologi dari IPB University, Ronny Rachman Noor, dalam artikel yang diakses pada laman IPB University, pada Jumat (10/7/2026) mengatakan, penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang sel-sel sehat pada tubuh.

Masalah kesehatan itu terjadi karena sel imun salah mengenali antigen pada tubuh. Akibatnya, tubuh akan mengalami peradangan dan merusak organ-organ tubuh.

Gejala autoimun bisa beragam. Seringkali gejala tersebut tidak disadari sejak awal. Itu antara lain, rasa lelah berlebihan, nyeri sendi atau otot, serta ruam dan perubahan warna pada kulit.

Baca JugaKenali Gejala Autoimun pada Anak, Diagnosis Dini Bisa Cegah Risiko Kecacatan dan Kematian
Baca JugaKerontokan Rambut akibat Autoimun
Baca JugaSatu dari 10 Orang Mengalami Gangguan Autoimun

“Gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan jelas,” tutur Rony.

Gejala autoimun bisa beragam. Seringkali gejala tersebut tidak disadari sejak awal.

Kasus autoimun yang banyak dikenal antara lain, rheumatoid arthritis, lupus, myositis, psoriasis, dan vitiligo. Selain itu jenis autoimun yang berkaitan dengan hormon seperti diabetes melitus tipe 1, hashimoto, dan graves. Sementara pada sistem saraf, yakni multiple sclerosis dan myasthenia gravis.

Perempuan lebih berisiko

Ronny mengatakan, data menunjukkan perempuan lebih rentan mengalami penyakit autoimun. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, prevalensi penderita autoimun 3-5 persen. Sekitar 80 persen dari seluruh kasus merupakan perempuan.

Menurut Ronny, perempuan lebih rentan mengalami autoimun karena faktor genetik, hormon, dan faktor imunologis. Sistem imun yang kuat pada perempuan diperlukan untuk melindungi diri saat masa kehamilan, tapi kondisi itu bisa membuat tubuh lebih rentan mengalami autoimun.

Kerentanan perempuan pada penyakit autoimun diungkapkan pula pada penelitian dari Stanford Medicine. Diperkirakan terdapat 24-50 juta warga AS yang mengalami penyakit autoimun. Sebanyak 4 dari 5 penderita merupakan perempuan.

Sejumlah penyakit autoimun menunjukkan rasio ketimpangan antara kasus perempuan dan laki-laki. Pada kasus lupus, misalnya, perbandingkannya sekitar 9 berbanding 1 antara perempuan dan laki-laki.

Serial Artikel

Alat Tes Cepat untuk Deteksi Penyakit Autoimun Tiroid

Ibu hamil dengan autoimun tiroid yang tidak terdeteksi memiliki risiko tinggi untuk melahirkan anak dengan kondisi tengkes. Pengembangan alat tes cepat TPO-TSHR dapat mendeteksi penyakit autoimun tiroid lebih dini.

Baca Artikel

Profesor dermatologi dan genetika di Stanford yang juga peneliti di Howard Hughes Medical Institute Howard Chang mengatakan, sebagian besar kasus lupus yang terkait dengan kulit seperti lupus dan skleroderma merupakan perempuan. Susunan kromoson pada perempuan turut menjadi penyebabnya.

Dalam publikasi yang diterbitkan di jurnal Cell, Chang dan peneliti lainnya melakukan penelitian terkait perbedaan kromosom pada perempuan dan laki-laki, serta kaitannya dengan penyakit autoimun. Perempuan diketahui memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu.

Kondisi tersebut kemudian terkait dengan molekul RNA khusus bernama Xist yang berfungsi mengendalikan aktivitas kromosom X tersebut. Gen Xist ini bisa memicu respons imun yang kuat. Namun, faktor genetik juga turut memengaruhi aktivitas tersebut hingga akhirnya memicu autoimun.

“Setiap sel dalam tubuh perempuan memproduksi Xist. Namun, selama beberapa dekade, kita menggunakan sel laki-laki sebagai standar rujukan,” tutur Chang.

Hal itu dinilai menyebabkan kompleks Xist yang menjadi sumber kerentanan terhadap autoimun pada perempuan luput dari deteksi. Penelitian ini diharapkan bisa memperbaiki deteksi dini pada penyakit autoimun pada perempuan.

Faktor lingkungan

Ronny menuturkan, penyakit autoimun perlu dipahami pula dapat terjadi akibat faktor genetik dan lingkungan. Gen pembawa autoimun tidak selalu aktif. Namun, jika paparan lingkungan yang berisiko cukup besar, penyakit autoimun bisa muncul. Lingkungan dapat berperan besar mengaktifkan atau menonaktifkan gen melalui mekanisme epigenetik.

“Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan. Sebagai contoh, wanita yang berpotensi terkena lupus bisa mengalami flare setelah terpapar sinar ultraviolet (UV) atau mengalami tekanan mental,” katanya.

Baca JugaPenyakit Lupus Lebih Banyak Ditemukan pada Perempuan Muda
Baca JugaTingkatkan Imunitas Tubuh dengan Tidur Berkualitas
Baca JugaPerbedaan Respons Imun Tentukan Kesintasan

Karena itu, penanganan pada autoimun perlu memerhatikan gaya hidup yang dijalani. Ketika terdiagnosis dengan autoimun, seseorang tidak hanya cukup mengikuti pengobatan tetapi juga mengelola gaya hidup dan dukungan psikososial yang memadai.

“Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala,” tutur Ronny.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini yang Masih Diusut KPK soal Amplop Berisi SGD 12 Ribu Dibalikin Menhut
• 17 jam laludetik.com
thumb
Revand Narya Alami Depresi, Mantan Suami Faby Marcelia Kerap Punya Keinginan Menyakiti Diri Sendiri
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono Kenakan Rompi Oranye Usai Jalani Pemeriksaan KPK
• 21 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Resah Timnas Indonesia Belum Lolos ke Piala Dunia
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Setelah Gelombang Serangan Baru AS, Iran Sebut Selat Hormuz Hanya Dibuka Sesuai Aturan Iran
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.