HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY), Arief Rosyid, mengajak generasi muda Indonesia menjadikan Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai teladan dalam membangun karakter, kepemimpinan, dan pengabdian bagi umat serta bangsa.
Hal itu disampaikannya dalam rangkaian peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–2026) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang dihadiri Menteri Agama RI, pimpinan UIN Alauddin Makassar, akademisi, dan berbagai tokoh nasional.
Menurut Arief Rosyid, terdapat empat keteladanan utama Syekh Yusuf yang sangat relevan bagi generasi muda Indonesia saat ini.
Pertama, semangat menuntut ilmu tanpa batas. Sejak usia muda, Syekh Yusuf meninggalkan tanah kelahirannya untuk berguru kepada para ulama di Nusantara hingga Timur Tengah.
Semangat intelektualnya menunjukkan bahwa kepemimpinan besar lahir dari proses belajar yang panjang, kerendahan hati, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Kedua, menyatukan ilmu, iman, dan aksi. Syekh Yusuf bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga pejuang yang menghadirkan nilai-nilai Islam dalam tindakan nyata.
Ia membuktikan bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi harus melahirkan keberanian memperjuangkan keadilan, membela rakyat, dan menghadirkan kemaslahatan.
Ketiga, berpikir global dengan identitas yang kuat. Jauh sebelum era globalisasi, Syekh Yusuf telah membangun jejaring keilmuan dan peradaban dari Makassar, Banten, Makkah, Sri Lanka hingga Afrika Selatan.
Jejaknya menunjukkan bahwa seorang anak bangsa dapat menjadi tokoh dunia tanpa kehilangan identitas keislaman, kebangsaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Keempat, membangun peradaban melalui sistem meritokrasi. Menurut Arief Rosyid, Syekh Yusuf lahir dari lingkungan bangsawan Kerajaan Gowa, namun beliau tidak memilih hidup dalam kenyamanan status keturunan.
Sebaliknya, ia memilih menempuh jalan panjang mencari ilmu, mengembara, menempa kapasitas diri, dan memperoleh penghormatan karena kualitas keilmuan, integritas, serta pengabdiannya.
Makassar pada abad ke-17 sebagai kota pelabuhan dunia juga tumbuh dengan semangat keterbukaan dan kompetensi, bukan sekadar garis keturunan.
Karena itu, generasi muda Indonesia harus membangun masa depan melalui prestasi, karya, dan kompetensi, bukan mengandalkan privilese ataupun politik dinasti.
“Syekh Yusuf mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nama besar keluarganya, tetapi oleh ilmu, integritas, dan pengabdiannya kepada umat. Inilah semangat meritokrasi yang harus kita hidupkan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin terbaik Indonesia,” ujar Arief Rosyid.
Dalam orasi ilmiahnya, Menteri Agama RI menegaskan bahwa ajaran Islam yang dibawa Syekh Yusuf menghadirkan wajah Islam yang damai, moderat, dan menyejukkan.
Warisan tersebut tidak hanya membentuk perkembangan Islam di Nusantara, tetapi juga memberi pengaruh besar di Afrika Selatan.
Menteri Agama juga mengajak perguruan tinggi untuk menyelamatkan manuskrip-manuskrip Syekh Yusuf serta menulis ulang sejarah secara objektif agar warisan intelektual beliau terus hidup lintas generasi.
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis menegaskan bahwa UIN Alauddin memiliki tanggung jawab akademik untuk menjadikan Syekh Yusuf sebagai pusat kajian keilmuan.
“Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan riset, pengembangan literasi sejarah, dan peresmian Syekh Yusuf Corner sebagai pusat studi yang mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru mengenai tokoh besar tersebut,” ucapnya.
Arief Rosyid menegaskan bahwa peringatan 400 tahun Syekh Yusuf harus menjadi momentum membangkitkan generasi muda yang berilmu, berintegritas, berdaya saing global, dan menjunjung tinggi sistem merit.
“Warisan terbesar Syekh Yusuf bukan hanya sejarah perjuangannya, tetapi cara berpikirnya. Beliau menunjukkan bahwa ilmu harus melahirkan keberanian, spiritualitas harus melahirkan pengabdian, kepemimpinan harus dibangun melalui merit, dan semua itu diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, bahkan dunia,” ucapnya. (wis)





