Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan perkembangan tersebut saat melaporkan implementasi Program Biodiesel B50 kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Peresmian dan Peluncuran Bahan Bakar Biodiesel B50 di Cikampek.
"Dan ini Bapak, transisi dua bulan saja. Jadi sekarang ini sudah dipakai 56 persen dari total solar yang sudah jalan. Jadi nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50," kata Bahlil dikutip dari Metrotvnews.com.
Menurut Bahlil, masa transisi dimanfaatkan untuk menghabiskan stok Biodiesel B40 yang masih tersedia di jalur distribusi. Setelah stok tersebut habis, seluruh pasokan solar nasional akan menggunakan campuran Biodiesel B50. Baca Juga:
Mobil Bekas Sekelas Toyota Alphard
Ia menegaskan bahwa implementasi B50 tidak hanya berfokus pada peningkatan kandungan biodiesel dalam bahan bakar, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya dalam negeri guna memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
"B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. B50 adalah perpaduan antara keberanian mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, dan keyakinan Indonesia mampu berdiri di atas sumber dayanya sendiri," tegas Bahlil.
Di sisi lain, kalangan akademisi menilai implementasi B50 merupakan langkah positif yang tetap perlu dilakukan secara bertahap. Profesor bidang Energi Baru Terbarukan Biofuels Universitas Brawijaya, Prof. Ir. Nurkholis Hamidi, S.T., M.Eng., Dr.Eng., mengatakan penerapan biodiesel dengan kandungan yang lebih tinggi perlu memperhatikan kesiapan teknologi mesin yang telah beredar di masyarakat.
“Mesin-mesin yang dulu dibangun atau dikonstruksi hingga sekarang kan ada yang tidak didesain menggunakan bahan bakar biodiesel dengan konsentrasi tinggi,” ujar Hamidi dikutip dari situs resmi UB Prasetya UB. Baca Juga:
Begini Cara Jaecoo Ajak Generasi Muda Lebih Kreatif
Hamidi menjelaskan Biodiesel B50 merupakan bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang berasal dari minyak sawit dan 50 persen solar fosil.
“Biodiesel itu bahan bakar alternatif yang renewable, diproduksi dari minyak nabati seperti minyak sawit. Ini bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujarnya.
Dengan implementasi yang dilakukan secara bertahap, pemerintah berharap penggunaan Biodiesel B50 dapat berjalan optimal tanpa mengganggu distribusi bahan bakar maupun operasional kendaraan. Di saat yang sama, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan energi terbarukan berbasis sumber daya domestik.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(UDA)





