Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini di tengah sentimen positif dari dalam negeri, meski pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi The Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 63 poin ke level Rp 18.065 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 18.128 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, Jumat (10/7), mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga 65 poin.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari eksternal, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan terhadap negara tersebut. Langkah itu memicu aksi balasan dari Teheran sehingga memunculkan kembali kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, laporan Axios menyebut mediator regional masih berupaya menyelamatkan nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai antara AS dan Iran. Namun, prospek perdamaian dinilai masih tidak pasti.
Konflik tersebut juga berlangsung bertepatan dengan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada hari pertama perang pada 28 Februari.
Situasi tersebut ikut menunda pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Jalur pelayaran strategis itu sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Lonjakan harga minyak juga memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve.
Pasar terlihat terus meningkatkan taruhan mereka pada kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2026 pekan ini, menurut CME Fedwatch Tool, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 63% pada pertemuan di bulan September.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai rupiah memperoleh dukungan dari optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Dana Moneter Internasional (IMF) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026 dan meningkat menjadi 5,1% pada 2027. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan negara berkembang di Asia yang diperkirakan sebesar 4,8% pada 2026.
Optimisme serupa juga datang dari Asian Development Bank (ADB) yang tetap memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% pada 2026 dan 2027. Meski demikian, proyeksi tersebut masih berada di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4%.
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan konsumsi domestik. Penjualan mobil nasional pada semester I-2026 mencatat pertumbuhan positif, meski dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan wholesales mencapai 77.550 unit pada Juni 2026 atau meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut melanjutkan kenaikan 14% pada Mei dan menjadi bulan ketiga berturut-turut penjualan mobil tumbuh secara tahunan.
Secara kumulatif, penjualan mobil baru sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 436.564 unit, meningkat 15,9%dibandingkan semester I tahun lalu.




