Anomali iklim berupa El Nino dengan intensitas kuat sedang berlangsung. Apabila tidak diantisipasi, kekeringan akibat El Nino dapat menggerus produksi beras hingga kerugian yang memukul petani.
Kantor Meteorologi Australia pada 30 Juni 2026 menyatakan, El Nino sedang terjadi. Indikatornya berupa indeks Nino 3.4 relatif yang menunjukkan angka 1,24 derajat celsius. Kesimpulan terjadinya El Nino apabila indeks itu di atas 0,8 derajat celsius. Publikasi yang sama juga memprediksi, El Nino yang berlangsung akan berintensitas kuat hingga sangat kuat.
Senada dengan publikasi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, durasi musim kemarau umumnya lebih lama dibandingkan batas normalnya di 48,7 persen daratan Indonesia. Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Perkiraan itu terbit pada 19 Juni 2026.
Di Indonesia, El Nino menyebabkan kekeringan karena intensitas curah hujan menurun. Fenomena ini memengaruhi produksi padi yang umumnya membutuhkan air.
Pada akhir 2023, Tim Jurnalisme Data Harian Kompas memproyeksi dampak anomali iklim terhadap produksi beras di Indonesia. Anomali iklim yang dianalisis meliputi El Nino, La Nina, Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole atau IOD) positif, dan IOD negatif.
Data yang digunakan terdiri dari produksi beras 1993-2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta identifikasi tahun terjadinya anomali iklim dari National Oceanic and Atmospheric Administration dan Kantor Meteorologi Australia. Skenario dampak anomali iklim terhadap produksi beras diproyeksikan hingga 2045.
Selain empat skenario anomali iklim yang ditinjau, Kompas juga menganalisis skenario jika El Nino dan IOD positif terjadi bersamaan, La Nina dan IOD negatif terjadi berbarengan, serta jika tidak ada anomali iklim.
Serial Artikel
Karena Prahara Iklim, Piring Pun (Akan) Merindukan Nasi
Anomali iklim dapat membuat jumlah porsi nasi yang tersedia bagi masyarakat menyusut karena anjloknya produksi beras.
Olahan Kompas menunjukkan, secara historis, El Nino dapat menggerus produksi beras hingga 9,4 persen per tahun. Pada 2026, apabila terjadi anomali iklim, produksi beras dalam setahun diproyeksikan berkisar 29,1 juta-31,3 juta ton. Apabila terjadi El Nino, proyeksinya kira-kira 30,1 juta ton.
Angka 30,1 juta ton itu setara dengan 2,29 piring nasi per orang per hari. Jika seseorang makan tiga kali sehari, nasi pada dua waktu makan dapat penuh atau setara 125 gram per piring, sedangkan yang ketiga hanya 29 persennya. Jumlah porsi nasi tersebut lebih rendah dibandingkan 2023 yang sebanyak 2,43 piring nasi.
Sementara itu, BPS mencatat, produksi beras sepanjang Januari-April 2026 mencapai 14,02 juta ton atau naik 0,12 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Potensi produksi Mei-Agustus 2026 diperkirakan sebanyak 11,25 juta ton atau lebih rendah 3.438 ton. Angka BPS itu berdasarkan metode kerangka sampel area yang diamati pada Mei 2026.
Diperkirakan, pada musim tanam kedua, terjadi penurunan produksi beras sekitar 2,6 persen dari tahun sebelumnya. Di Indonesia bagian timur sudah terdampak El Nino. Ada yang kekurangan air hingga terserang hama tikus sehingga mereka gagal panen.
Sejumlah penelitian juga membahas imbas El Nino terhadap produksi padi atau beras di tanah air. Misalnya, riset berjudul ”Using El Nino/Southern Oscillation Climate Data to Predict Rice Production in Indonesia” oleh Rosamond L Naylor, Walter P Falcon, Daniel Rochberg, dan Nikolas Wada dari Universitas Stanford, AS.
Penelitian yang terbit pada 2001 itu menggunakan data indeks Nino 3.4 terkait suhu permukaan laut, curah hujan, dan produksi beras selama 30 tahun terakhir. Hasilnya, produksi beras di Jawa berhubungan kuat dengan anomali iklim ENSO (El Nino-Southern Oscillation).
Berselang 18 tahun kemudian, penelitian dari IPB University menyebutkan, El Nino berdampak signifikan terhadap inflasi di provinsi-provinsi bagian selatan Indonesia. Riset itu berjudul ”The Impact of El Nino on Inflation in Regional Indonesia: Spatial Panel Approach” yang ditulis Fahmi Salam Ahmad, Hermanto Siregar, dan Syamsul Hidayat Pasaribu.
Meskipun ada kenaikan pada produksi hasil musim tanam pertama, Kepala Departemen Agroekologi dan Perbenihan Nasional Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan justru memperkirakan, penurunan pada musim tanam kedua berkisar 2,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. ”Di lapangan, Indonesia bagian timur sudah terdampak (El Nino). Ada yang kekurangan air hingga terserang hama tikus sehingga mereka gagal panen,” katanya saat dihubungi, Kamis (9/7/2026).
Menurut Kusnan, stok beras aman itu mungkin hanya klaim. Hal itu tecermin dari kenaikan harga beras yang justru menandakan pasokan yang berkurang.
Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan mencatat, harga beras medium dan premium per Kamis masing-masing senilai Rp 13.832 per kilogram (kg) dan Rp 15.512 per kg. Harga ini masing-masing naik 0,79 persen dan 0,88 persen dibandingkan awal Mei 2026.
Kusnan menambahkan, anggota SPI sudah diimbau untuk tidak menanam padi pada sawah tadah hujan. Menanam padi di sawah irigasi teknis masih memungkinkan. Demi tetap memperoleh penghasilan, petani juga disarankan menanam tanaman pangan yang tahan kering, seperti jagung atau kacang hijau.
Menyikapi risiko penurunan pasokan dan naiknya harga beras, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai, pemerintah perlu mengadakan operasi pasar dengan beras yang berkualitas sesuai ketentuan. Distribusi beras tidak boleh terhambat. Di hulu produksi, penanaman varietas yang tahan kering, seperti padi gogo, mesti digencarkan.
Di sisi lain, Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada Bayu Dwi Apri Nugroho menilai, data stok beras sampai akhir 2026 masih aman. ”Namun, upaya adaptasi dan mitigasi tetap perlu diperhatikan agar stok dapat terjaga hingga setelah terjadinya El Nino,” katanya saat dihubungi, Senin (6/7/2026).
Dia melanjutkan, El Nino yang berkepanjangan akan menurunkan produktivitas pertanian. Kekeringan yang ditimbulkan berakibat pada rendahnya ketersediaan air. Dampaknya, sektor pertanian yang membutuhkan banyak air, seperti padi, tidak bisa hidup dengan baik sehingga berakibat gagal tanam, bahkan gagal panen.
Bayu mengingatkan, jika stok pangan berkurang atau bahkan tidak tersedia, secara ekonomi akan membuat harga pangan meningkat. Kenaikan harga itu akan membebani pengeluaran masyarakat ke depan.
Berdasarkan siaran pers Sekretariat Kabinet RI, pada pertengahan Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Pascapertemuan itu, Amran menyatakan, cadangan beras nasional mencapai 5,2 juta ton. Dia menilai jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional dalam beberapa bulan ke depan.
Dia menambahkan, stok beras di rumah, hotel, dan restoran berkisar 12,5 juta ton. Seluruh cadangan itu dapat memenuhi kebutuhan 10 bulan ke depan hingga April 2027.
Selain itu, Amran mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah infrastruktur pertanian sebagai bentuk mitigasi menghadapi risiko El Nino. Contohnya, pembangunan embung, irigasi pompa, sumur dalam, program pemompaan, optimalisasi lahan, serta pencetakan sawah baru.
Dalam seri Jurnalisme Data yang sama, Kompas juga memproyeksikan pengeluaran warga miskin untuk membeli beras. Data yang digunakan bersumber dari Berita Resmi Statistik BPS terkait kemiskinan.
Pada 2022, uang yang dikeluarkan warga miskin untuk beras di kota dan desa masing-masing sebesar Rp 104.835 dan Rp 117.823 per orang per bulan. Olahan Kompas menunjukkan, apabila terjadi anomali iklim pada 2026, pengeluaran beras di desa dan kota masing-masing akan naik menjadi Rp 133.450-Rp 143.076 dan Rp 119.698-Rp 139.212 per orang per bulan.
Jika terjadi El Nino, pengeluaran masyarakat miskin di desa untuk membeli beras pada 2026 berkisar Rp 137.284 per orang per bulan. Adapun di kota Rp 122.093 per orang per bulan.
Serial Artikel
Iklim Ekstrem Bebani Warga Miskin Lima Kali Lipat
Anomali iklim yang diperkirakan makin ekstrem di Indonesia akan kian membebani warga miskin pada 2045. Pengeluaran untuk untuk kebutuhan bahan pangan, mengakses air bersih, dan mendapatkan listrik akan melonjak
Ironisnya, kelompok yang rentan terhadap kenaikan harga beras itu justru bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan. Berdasarkan olahan Kompas terhadap data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang terbit pada Februari 2025, mayoritas pekerja di sektor tersebut berpenghasilan Rp 600.000 ke bawah.
Padahal, pada 2024, BPS mengelompokkan orang dengan pengeluaran maksimal Rp 580.000 per bulan sebagai warga miskin. Artinya, dengan penghasilan Rp 600.000 per orang per bulan, pekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan berisiko menjadi miskin.
Menurut Esther, mayoritas pengeluaran masyarakat berpenghasilan rendah digunakan untuk makanan sehari-hari. Oleh sebab itu, mereka sensitif terhadap kenaikan harga beras.
Kusnan menyatakan, petani yang gagal panen akibat El Nino akan merugi karena sudah mengeluarkan modal untuk menanam padi. ”Memang sudah ada asuransi tani dari pemerintah. Sayangnya, petani masih sulit jika mengklaim gagal panen untuk memperoleh manfaat asuransi tersebut,” katanya.
Sementara itu, dia juga menyoroti buruh tani yang mesti membeli beras dengan harga mahal karena sudah melalui rantai distribusi. Petani yang bisa menyimpan beras hasil panen biasanya merupakan pemilik lahan.
Petani yang gagal panen akibat El Nino akan merugi karena sudah mengeluarkan modal untuk menanam padi.
Meski desa sebagai penghasil beras, pengeluaran bulanan warga desa untuk membeli beras justru lebih besar daripada di kota. Bayu berpendapat, fenomena itu terjadi karena proses pascapanen seperti pengolahan dan pengemasan biasanya dilakukan di kota.
Dia merinci, beras akan kembali ke desa dalam bentuk kemasan sehingga harganya menjadi lebih mahal. Oleh karena itu, dia menyarankan, pembangunan infrastruktur pascapanen di desa mesti digenjot.





