Lembaran-lembaran kain bermotif parang, mega mendung, kawung, truntum, hingga sekar jagad, tumpah ruah menyelimuti salah satu ruangan di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Mereka saling unjuk gigi memperlihatkan warisan Nusantara dalam selembar wastra yang dipenuhi corak garis dan titik-titik. Geliat itu adalah bagian dari Pameran Puspa Nuswantara 2026 yang diselenggarakan pada 8–12 Juli 2026. Sebanyak 162 lapak batik pun hadir memadati setiap sudut ruangan.
Di antara perhelatan sore itu, Dian Nugroho (28) tengah merapikan kain-kain batik yang tersusun di atas rak. Namun, matanya tetap awas. Begitu ada pengunjung yang datang menghampiri lapak "Batik Kalimasada", ia bergegas berdiri dan menyambut dengan ramah.
"Ini memiliki motif yang kuat," katanya sembari membentangkan selembar kain batik berlatar biru dengan corak bunga ke hadapan pengunjung.
Ia memang sudah beberapa kali mengikuti pameran untuk memperkenalkan warisan wastra khas Wonogiri. Berbeda dengan yang lainnya, batik Wonogiri memiliki kekhasan motif remuk atau pecah-pecah yang dipengaruhi oleh sejarah panjang Mangkunegaran.
Tekad Dian untuk melestarikan batik dari tanah kelahirannya itu tidak main-main. Begitu mendapatkan gelar sarjana pendidikan seni rupa di Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 2021, ia nekat merintis usaha batik dengan modal Rp 1 juta dari uang sisa beasiswa.
Kala itu, “Kalimasada” dipilih sebagai jenama yang menaungi wastra buatannya. Bukan tanpa alasan, nama ini dalam dunia pewayangan berarti senjata pusaka.
"Saya meniatkan usaha ini sebagai senjata kami. Pertama, untuk mencari rezeki. Kedua, untuk menyambung kehidupan. Ketiga, untuk memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar," tuturnya.
Pusaka itu terbukti ampuh. Bermula dari usaha perorangan, kini Dian telah merangkul sejumlah kaum muda dan ibu-ibu sekitar kampungnya untuk membatik di rumahnya. Apalagi, Wonogiri notabene mulai banyak ditinggalkan oleh generasi muda yang merantau ke kota-kota besar.
Selama perjalanannya merintis usaha berbasis kearifan lokal, Dian sama sekali tidak mengambil jalur permodalan dari perbankan. Sebaliknya, ia memanfaatkan ekosistem Rumah BUMN di bawah naungan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk di Wonogiri sejak 2022.
Dari situ, kapasitasnya sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus dipupuk. Berbagai pelatihan pun diikutinya, mulai dari pemasaran secara digital, teknik fotografi produk, pembukuan keuangan, hingga pembuatan konten video.
Saya jadi ingat kata-katanya Bung Hatta, yang kalau tidak salah bilang, Indonesia bercahaya bukan karena lampu-lampu di kota, tetapi justru dari lilin-lilin kecil di desa.
Alhasil, Batik Kalimasada tidak hanya menjangkau pasar nasional, melainkan turut dikenal di kancah global. Beberapa kali Dian pun sempat menerima pesanan khusus, mulai dari Jepang, Korea, Amerika Serikat, hingga Prancis, yang datang dari media sosial.
“Saya jadi ingat kata-kata Bung Hatta, yang kalau tidak salah bilang, Indonesia bercahaya bukan karena lampu-lampu di kota, tetapi justru dari lilin-lilin kecil di desa,” ujarnya.
Selain Dian, wastra batik buatan tangan-tangan pengrajin dari Kampung Batik Laweyan juga merambah ke pasar internasional, seperti Malaysia, Singapura, Pakistan, hingga negara-negara Eropa. Bahkan, para pengrajin sempat mendapat pesanan sebanyak 17.000 helai batik dari Myanmar senilai Rp 1,2 miliar.
Muchammad Nugroho (28), salah seorang penggerak Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Solo, menceritakan, sejak 2025, komunitasnya mulai mengganti bahan baku lilin parafin konvensional dengan lilin sawit (palm wax) yang jauh lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
Sebab, baginya, batik sawit adalah cara perajin lokal menjawab tuntutan zaman tentang keberlanjutan. Langkah ini pun turut membawa beberapa pengrajin batin di Kampung Batik Laweyan meraih sertifikasi internasional dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
"Biaya produksinya memang lebih mahal sekitar Rp 5.000 per kilogram, sehingga dari 40 UMKM di Laweyan, baru 27 UMKM yang lolos kurasi dan berani ikut bergerak," katanya.
Biaya tersebut memang menjadi tantangan tersendiri. Alih-alih mengandalkan modal dari pembiayaan, menurut Muchammad, komitmen pendampingan justru menjadi aspek terpenting dalam rangka menanamkan nilai-nilai keberlanjutan.
Salah satu bentuknya ialah ketika ia bersama BNI memberikan pelatihan kepada para perajin untuk mengolah kembali limbah lilin agar biaya produksi dapat ditekan. Di sisi lain, jejaring melalui pameran juga diperlukan untuk membuka pasar produk ramah lingkungan.
Di balik Pameran Nuswantara 2026 bertema “Rupa Makna Tambal Nusantara” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), terdapat partisipasi BNI dalam rangka mendukung pengembangan UMKM batik.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing usaha UMKM batik. Dukungan tersebut dilakukan melalui penguatan ekosistem bisnis, perluasan akses pasar, serta pemanfaatan solusi keuangan yang terintegrasi.
“Batik bukan hanya identitas budaya bangsa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar dan menjadi salah satu penggerak industri kreatif nasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).
Secara khusus, BNI memberikan ruang promosi kepada tiga UMKM binaan Program BNI Berbagi, yakni Kampoeng Laweyan, RB Wonogiri, dan RB Katingan. Kehadiran ini diharapkan dapat memperluas eksposur produk batik dan kriya unggulan Indonesia serta membuka peluang pasar yang lebih luas.
Lebih lanjut, layanan pembayaran nontunai melalui Electronic Data Capture (EDC) dan QRIS BNI juga dihadirkan selama pameran. Tak ketinggalan, terdapat sejumlah program promosi dan penawaran khusus bagi nasabah BNI.
Kami akan terus memperkuat peran sebagai mitra finansial pilihan bagi UMKM melalui penyediaan solusi perbankan yang inovatif, perluasan akses pembiayaan, digitalisasi layanan, serta kolaborasi yang mampu menciptakan nilai.
Menurut Okki, dukungan terhadap UMKM sejalan dengan momentum perayaan delapan dekade BNI dengan tema Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 “Swadharma Bhakti Nagara”. Tema ini menjadi refleksi komitmen perseroan untuk terus memberi kontribusi bagi pembangunan Indonesia, termasuk melalui pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi kerakyatan.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat peran sebagai mitra finansial pilihan bagi UMKM melalui penyediaan solusi perbankan yang inovatif, perluasan akses pembiayaan, digitalisasi layanan, serta kolaborasi yang mampu menciptakan nilai tambah dan mendorong UMKM Indonesia semakin kompetitif, naik kelas, hingga menembus pasar global,” tuturnya.
Dihubungi secara terpisah, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, berpendapat, perbankan nasional memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga ketahanan ekonomi akar rumput alias UMKM.
Ini mengingat UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, hingga Mei 2026, kredit UMKM hanya tumbuh 0,6 persen secara tahunan, jauh lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit secara umum yang tumbuh 11,51 persen.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa di tengah ketidakpastian global, perbankan masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan fungsi intermediasi bagi sektor produktif yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah,” ujarnya.
Kendati demikian, tantangan terbesarnya bukan hanya pada perluasan akses pembiayaan, melainkan juga pada peningkatan kualitas inklusi keuangan. Ini mempertimbangkan bahwa masih banyak UMKM yang belum layak mendapatkan layanan perbankan (bankable).
Menurut Trioksa, keberhasilan perbankan tidak lagi diukur dari besarnya penyaluran kredit, tetapi juga dari kemampuan dalam mendorong UMKM naik kelas melalui pembiayaan berbasis ekosistem, digitalisasi, rantai pasok, serta pendampingan usaha sehingga mampu menciptakan kemandirian ekonomi daerah yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, semua kembali lagi kepada apa yang pernah disampaikan oleh Bung Hatta: jantung perekonomian bukanlah di perkotaan, melainkan justru di perdesaan. Dengan kata lain, kemajuan ekonomi ditentukan oleh tingkat pemerataan dan kemandirian di tingkat daerah.





