Harga Emas Dunia Melemah Lebih dari 1 Persen Sepekan

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Harga emas melemah pada perdagangan Jumat (11/7/2026) dan menutup pekan dengan kinerja negatif.

Harga Emas Dunia Melemah Lebih dari 1 Persen Sepekan. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga emas melemah pada perdagangan Jumat (11/7/2026) dan menutup pekan dengan kinerja negatif di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat di Amerika Serikat (AS).

Baca Juga:
Koreksi Tajam Pasar Indonesia Dinilai Buka Peluang Akumulasi Saham

Harga emas spot turun 0,08 persen menjadi USD4.120,67 per troy ons. Secara mingguan, logam mulia ini terkoreksi 1,32 persen.

Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek mengatakan, pelemahan emas dipicu kembali meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran sehingga pelaku pasar memilih mengurangi eksposur pada aset logam mulia.

Baca Juga:
Saham NTBK Melesat 112 Persen, Puncaki Jajaran Top Gainers Pekan Ini

"Faktor utama di sini adalah kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran. Investor secara umum tidak ingin mempertahankan kepemilikan emas maupun perak pada saat ini, sehingga kami melihat harga bergerak turun ke kisaran USD4.100," kata Melek, dikutip Reuters.

Ketegangan terbaru antara AS dan Iran juga berpotensi menggagalkan proyeksi surplus pasokan minyak global tahun depan yang sebelumnya disampaikan International Energy Agency (IEA).

Baca Juga:
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Naik Jadi R2.655.000 per Gram, Cek Rinciannya

Harga minyak pun menuju kenaikan mingguan di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan setelah serangan terbaru AS terhadap Iran.

Kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan sikap hawkish melalui suku bunga yang lebih tinggi.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga umumnya membebani logam mulia karena meningkatkan daya tarik instrumen yang memberikan imbal hasil.

"Semua indikator menunjukkan pasar mengkhawatirkan inflasi, terutama karena harga minyak kembali naik dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini akan membuat bank-bank sentral tetap waspada, terutama Federal Reserve," ujar Melek.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 69 persen bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Risalah rapat The Fed pada Juni juga menunjukkan perbedaan pandangan yang cenderung hawkish di kalangan pejabat bank sentral seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi.

Fokus investor kini beralih ke data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan serta kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh guna mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.

Di pasar fisik, emas diperdagangkan dengan diskon yang cukup besar di India sepanjang pekan ini.

Sementara itu, permintaan di China tetap stabil setelah bank sentral negara tersebut melaporkan kenaikan cadangan emas bulanan terbesar dalam lebih dari dua setengah tahun pada Juni.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,7 persen menjadi USD59,56 per ons, platinum naik 0,4 persen menjadi USD1.616,72 per ons, dan paladium menguat 2,2 persen menjadi USD1.274,50 per ons. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Barcelona Capai Kesepakatan untuk Datangkan Karim Adeyemi dari Borussia Dortmund
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Harga Minyak Turun, Bandar dan Investor Tak Lagi Takut Perang AS-Iran
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
WWF Indonesia Dukung Penambahan 70 Ribu Forest Ranger untuk Perkuat Pengawasan Kawasan Hutan
• 16 jam lalupantau.com
thumb
Beasiswa “Banyuwangi Progresif”, Peluang untuk Putra Putri Daerah, Ini Syaratnya
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Project Pop Bakal Hadirkan Penghormatan untuk Oon di Konser 30 Tahun Forever Young - Forever Fun
• 9 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.