Saat Politik Membelah, Orang Menunda Menikah dan Punya Anak

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Indonesia masih tergolong negara dengan angka kelahiran yang relatif tinggi dibandingkan banyak negara maju. Namun, arahnya mulai terlihat jelas bahwa tingkat kesuburan terus menurun. Pasangan menikah semakin terlambat, ukuran keluarga mengecil, dan semakin banyak anak muda yang menunda memiliki anak karena berbagai pertimbangan.

Selama ini penjelasan yang paling sering muncul adalah mahalnya biaya hidup, sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak, harga rumah yang terus melambung, hingga meningkatnya pendidikan perempuan. Semua faktor itu memang berperan.

Namun, sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan ada satu faktor yang kerap luput diperhatikan, yakni optimisme terhadap masa depan. Bukan sekadar berapa besar penghasilan seseorang hari ini, melainkan apakah ia percaya hidupnya akan lebih baik lima atau sepuluh tahun mendatang.

Di sinilah politik ikut berperan.

Faktor yang paling konsisten menurunkan angka kesuburan adalah ketidakpastian.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Population Economics edisi Februari 2026 menunjukkan bahwa perubahan politik yang tidak terduga dapat memengaruhi keputusan masyarakat untuk menikah maupun memiliki anak. Laporan ditulis Libertad González dari Universitat Pompeu Fabra and Barcelona School of Economics, Luis Guirola dari University of Barcelona, dan Blanca Zapater dari Cambra de Barcelona.

Para peneliti memanfaatkan hasil pemilu Spanyol pada Maret 2004 sebagai ”eksperimen alam”. Hampir seluruh jajak pendapat saat itu memperkirakan kemenangan Partai Rakyat (PP). Namun, hasil akhirnya justru dimenangi Partai Pekerja Sosialis Spanyol (PSOE).

Kemenangan yang tak terduga itu langsung mengubah ekspektasi ekonomi masyarakat. Pendukung partai pemenang menjadi lebih optimistis, sedangkan pendukung partai yang kalah mengalami penurunan tajam dalam kepercayaan terhadap masa depan ekonomi mereka.

Perubahan psikologis itu segera tecermin dalam data demografi. Di wilayah yang menjadi basis kuat pendukung PP, jumlah kehamilan menurun hanya beberapa bulan setelah pemilu. Pada saat yang sama terjadi peningkatan sementara angka aborsi sukarela serta penurunan jumlah pernikahan.

Baca JugaPopulasi Menua, Tak Cukup dengan Tunjangan Melahirkan Saja

Menariknya, penurunan optimisme ekonomi akibat hasil pemilu bahkan lebih besar dibandingkan perubahan ekspektasi yang biasanya terjadi antara masa pertumbuhan ekonomi dan masa krisis.

Studi tersebut kemudian diperluas ke seluruh pemilu nasional Spanyol sepanjang 2000-2020. Kesimpulannya tetap sama, semakin mengejutkan hasil pemilu dan semakin tajam polarisasi politik, semakin besar pengaruhnya terhadap keputusan masyarakat membangun keluarga.

Harapan terhadap masa depan

Meski demikian, para demografer menilai polarisasi politik bukanlah penyebab utama rendahnya angka kelahiran. Politik lebih berperan sebagai pemicu yang memengaruhi rasa aman dan optimisme terhadap masa depan. Berbagai penelitian lintas negara menunjukkan bahwa faktor yang paling konsisten menurunkan angka kesuburan adalah ketidakpastian.

Kajian Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2024 menunjukkan, pasangan muda di banyak negara sebenarnya masih menginginkan sekitar dua anak. Namun kenyataannya, mereka memiliki lebih sedikit. Kesenjangan antara jumlah anak yang diinginkan dan jumlah anak yang benar-benar lahir—dikenal sebagai fertility gap—semakin melebar karena pekerjaan yang tidak stabil, tingginya biaya membesarkan anak, mahalnya perumahan, dan sulitnya menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan keluarga.

Baca JugaPenduduk Muda dan Ancaman Krisis Fertilitas

Penelitian di Jepang, Korea Selatan, China, hingga Inggris juga menemukan pola serupa. Ketika harga rumah meningkat jauh lebih cepat dibanding pendapatan, pasangan cenderung menunda pernikahan, menunda kelahiran anak pertama, dan akhirnya memiliki anak lebih sedikit daripada yang direncanakan.

Fenomena serupa mulai terlihat di sejumlah kota besar Indonesia, ketika memiliki rumah menjadi impian yang semakin sulit dijangkau generasi muda. Yang menarik, ahli demografi Hans-Peter Kohler dan koleganya dalam kajiannya di Population and Development Review (2002) menunjukkan bahwa meningkatnya ketidakpastian ekonomi pada awal kehidupan dewasa menjadi salah satu penyebab pasangan menunda memiliki anak.

Dua keluarga dengan penghasilan yang sama dapat mengambil keputusan yang berbeda apabila salah satunya merasa masa depan penuh peluang, sementara yang lain dipenuhi ketidakpastian.

Pandemi Covid-19 memperkuat kesimpulan tersebut. Di hampir seluruh dunia, angka kelahiran turun pada tahun pertama pandemi. Penyebabnya bukan perubahan biologis, melainkan karena jutaan pasangan memilih menunda menikah, membeli rumah, atau memiliki anak sampai situasi dianggap lebih pasti.

Kini para peneliti bahkan mulai berbicara tentang krisis optimisme. Di banyak negara, generasi muda menghadapi kombinasi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pekerjaan yang semakin tidak pasti, harga rumah yang terus naik, biaya pendidikan yang mahal, ancaman perubahan iklim, serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Semua itu membentuk persepsi bahwa masa depan akan lebih sulit dibandingkan masa yang dialami orangtua mereka.

Situasi di Indonesia

Indonesia memang belum menghadapi krisis kesuburan seperti Korea Selatan atau Jepang. Total Fertility Rate (TFR) Indonesia masih berada di sekitar tingkat penggantian penduduk, jauh di atas Korea Selatan yang telah turun hingga di bawah satu anak per perempuan.

Namun, tren penurunannya nyata. Di sisi lain, polarisasi politik yang mengeras dalam beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian ekonomi, meningkatnya biaya hidup, sulitnya memiliki rumah, serta kekhawatiran terhadap masa depan akibat krisis iklim menjadi beban tambahan bagi generasi muda.

Baca JugaJumlah Penduduk Indonesia Mencapai 288,3 Juta, Didominasi Usia Produktif

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, keputusan menunda menikah atau memiliki anak mungkin bukan lagi sekadar pilihan pribadi. Hal itu menjadi cerminan dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap masa depan.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari penelitian di Spanyol bukanlah bahwa politik secara langsung menentukan angka kelahiran. Sebaliknya, bahwa politik, ekonomi, dan kehidupan sosial sama-sama membentuk rasa optimistis atau pesimistis terhadap hari esok.

Dan mungkin, kebijakan kependudukan yang paling penting bukan hanya memberi insentif agar orang mau memiliki anak, melainkan membangun keyakinan bahwa masa depan memang layak untuk direncanakan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BNPT Bangun Kesiapsiagaan Generasi Muda Hadapi Ancaman Terorisme di Ruang Digital
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
UMKM Malut Mejeng di Pameran Dekranas Makassar, Ada Bacan Doko Rp 38 Juta
• 13 jam laludetik.com
thumb
Pemerintah Bakal Tambah Produksi Batu Bara Tahun Ini, Khusus Buat PLN
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Walkot Bandung Farhan Mendadak Dilarikan ke RS dari Balaikota
• 19 jam laludetik.com
thumb
Momen Jenazah Rachmat Gobel Diberangkatkan Menuju TMP Kalibata
• 23 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.