JAKARTA, DISWAY.ID - Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, dengan tegas mengkritik kepemimpinan di Indonesia yang tidak melakukan refleksi atas kondisi bangsa dalam hal perekonomian dan politik yang kian merosot.
“Kita jangan bermanis-manis saja, sudah di pinggir jurang ohhh gak ada apa-apa. Masih oke, kita masih selamat. Baik-baik saja, jurang sudah kurang 2 centimeter, masih ngomong begitu. Ini bangsa yang wisdomnya meletakan wisdom yang salah,” ucapnya dalam sebuat statement.
Ia menyindir sejumlah pihak yang menyebutkan Indonesia baik-baik saja padahal kondisi bangsa sudah di pinggir jurang.
“Negara besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan arah,” katanya.
BACA JUGA:Partai Politik Beda Strategi Pilpres 2024, Siti Zuhro: Butuh Nyocokin Dulu
Ia menilai bahwa dalam dunia politik tidak boleh ada budaya “pekewoh”, istilah dalam bahasa Jawa yang menggambarkan sikap sungkan berlebihan, enggan menegur, atau takut mengkritik demi menjaga perasaan maupun relasi.
“Saat ini kita kehilangan arah, kehilangan keteladanan, dan keberanian melakukan koreksi. Kalau kita kritis dan ingin melakukan koreksi, disangkanya membangkang, disangkanya makar,” ucapnya.
Hal ini disampaikan dalam diskusi “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dan Universitas Harkat Negeri di Jakarta baru-baru ini dikutip dari Studentnesia.
BACA JUGA:Peneliti BRIN: Virus Nipah Terdeteksi di Air Liur Kelelawar Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa!
Dalam kehidupan bernegara, kata dia, sikap seperti ini justru berbahaya karena membuat kesalahan dibiarkan terus berlangsung tanpa koreksi.
Politik membutuhkan keberanian untuk mengingatkan, mengevaluasi, dan memperbaiki arah ketika kebijakan mulai menjauh dari kepentingan rakyat.
BACA JUGA:Peneliti BRIN Kembali Ungkap Fakta soal Vape, Bandingkan Kandungan Zat Berbahaya dengan Rokok Konvensional
Profil Siti ZuhroDikutip dari laman pribadinya, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA. adalah Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI dan Peneliti Utama Politik BRIN. Isu-isu seputar desentralisasi, reformasi birokrasi, demokrasi lokal dan politik nasional (seputar pemilu dan pilkada) menjadi sorotannya. menurut Profesor Riset Ilmu Politik ini, kemajuan Indonesia sangat ditentukan oleh berhasilnya pelaksanaan otonomi daerah.
Menyelesaikan studi S1 jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNEJ (Universitas Jember). Mendapatkan gelar MA Ilmu Politik dari The Flinders University, Adelaide, Australia. PhD Ilmu Politik dari Curtin University, Perth, Australia.





