Rumah Sepatu Jadi Kafe Unik Baru di Pacet Mojokerto, Dibangun dari Mimpi Pengrajin Sepatu

beritajatim.com
8 jam lalu
Cover Berita

Mojokerto (beritajatim.com) – Sebuah bangunan berbentuk sepatu raksasa berdiri di tengah hamparan persawahan Desa Warungungung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Bangunan setinggi sekitar 14,5 meter itu bukan sekadar spot foto, melainkan sebuah kafe sekaligus destinasi wisata baru yang lahir dari kreativitas seorang pengrajin sepatu lokal.

Namanya Rumah Sepatu, berlokasi sekitar 90 meter ke arah timur dari Jalan Raya Mojosari–Pacet. Meski akses menuju lokasi masih melalui jalan yang sempit dan sebagian rusak, keunikan bangunan tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Ditambah warna oranye yang mencolok, bangunan ini semakin mengundang rasa penasaran.

Owner Rumah Sepatu, Ahmad Taufik (52), mengatakan ide membangun rumah berbentuk sepatu muncul dari kesadaran bahwa lokasi usaha wisata kulinernya berada jauh dari jalan utama sehingga membutuhkan sesuatu yang benar-benar berbeda agar orang tertarik datang.

“Kami sadar tempat ini jauh dari jalan raya, jalannya juga sempit. Bisa dilalui kendaraan roda empat tapi kalau berpapasan, salah satu harus mengalah. Kalau tidak ada sesuatu yang unik, orang mungkin enggan datang. Dari situ muncul ide membuat bangunan yang mungkin belum pernah ada di Indonesia,” ungkapnya, Sabtu (11/7/2026).

Pilihan bentuk sepatu bukan tanpa alasan. Selama 26 tahun terakhir, Taufik menggeluti usaha pembuatan sepatu wanita melalui Aulia Store 77 di Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Pengalaman panjang sebagai pengrajin itulah yang menginspirasinya menghadirkan rumah berdesain sepatu.

Awalnya ia sempat ingin membuat rumah berbentuk sepatu wanita. Namun, desain tersebut dinilai sulit diwujudkan menjadi bangunan yang nyaman dihuni. Setelah mencari berbagai referensi, termasuk melalui Google, ia akhirnya memodifikasi konsep sepatu kargo agar lebih memungkinkan dijadikan hunian empat lantai.

“Ide ini sudah kami pikirkan sejak setahun sebelum pembangunan dimulai. Kami mencari banyak referensi, kemudian dimodifikasi supaya nyaman dijadikan rumah. Pembangunan bertahap, dimulai pada akhir Juli-Agustus 2023, secara bertahap menyesuaikan budget kami,” katanya.

Tahap pertama memakan waktu sekitar tujuh bulan hingga bangunan berdiri lengkap dengan atap dan cat, meski bagian dalamnya saat itu masih kosong. Rumah tersebut awalnya dirancang sebagai vila pribadi untuk menikmati hasil kerja selama puluhan tahun. Namun, seiring waktu, Taufik berpikir bangunan itu harus mampu membiayai perawatannya sendiri.

“Dari situlah lahir gagasan mengubahnya menjadi destinasi wisata kuliner bernuansa pedesaan. Kami berpikir kalau hanya dijadikan vila, satu dua tahun pasti bosan. Akhirnya diarahkan menjadi wisata kuliner supaya bangunan ini bisa hidup dan membiayai dirinya sendiri. Meski belum jadi, tiap akhir pekan kami ke sini,” tuturnya.

Di dalam bangunan berbentuk sepatu terdapat ruang layaknya rumah biasa, mulai dari kamar tidur hingga kamar mandi. Lantai paling atas didesain sebagai area bersantai sekaligus kafe dengan panorama langsung Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang. Namun, karena tangga menuju lantai atas cukup curam, pengelola masih mencari solusi.

“Kita masih mencari solusi, bagaimana makanan dan minuman bisa sampai lantai atas. Mungkin minumannya dengan penyajian kemasan cup, makanan dikemas agar penyajian makanan menjadi lebih praktis dan aman. Untuk saat ini, bisa ke atas tapi hanya duduk-duduk dan foto-foto saja,” ujarnya.

Kawasan Rumah Sepatu berdiri di atas lahan seluas sekitar 1.150 meter persegi. Selain bangunan utama, tersedia dapur, kasir, tiga gazebo di bagian belakang, pendopo memanjang, serta area terbuka yang menghadap persawahan. Ke depan, Taufik berencana menambah area glamping agar pengunjung bisa bermalam.

“Kita soft opening pada 31 Mei 2026, sengaja membuka lebih awal sebagai langkah awal memperkenalkan konsep wisata tersebut. Kita promosi melalui media sosial, terutama TikTok, sempat membuat Rumah Sepatu viral. Bahkan pada hari kedua setelah soft opening, jumlah pengunjung melonjak hingga sekitar 100 orang dalam sehari,” jelasnya.

Ia mengaku saat itu kewalahan melayani pengunjung meski jumlah karyawan mencapai 11 orang. Namun, karena operasional belum maksimal, saat ini hanya ada dua orang karyawan ditambah dua anggota keluarga yang membantu. Rata-rata kunjungan mencapai sekitar 20 orang per hari dan meningkat signifikan setiap akhir pekan.

Untuk menu, Rumah Sepatu menyajikan aneka sambal, nasi goreng, makanan ringan, serta berbagai minuman. Harga makanan dibanderol mulai Rp15 ribu hingga Rp59.999 untuk paket sambelan berdua. Meski masih mencari menu andalan, Taufik berharap ke depan Rumah Sepatu memiliki identitas kuliner yang kuat.

“Sehingga pengunjung datang bukan hanya karena penasaran dengan bangunan saja tapi ada yang bikin kangen. Kalau orang datang hanya melihat rumah unik, biasanya satu atau dua kali saja. Kami ingin mereka kembali lagi karena makanannya, suasananya, lalu akhirnya menjadi seperti keluarga,” pungkasnya. [tin/kun]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Donald Trump: AS Akan Musnahkan Iran dengan 1.000 Rudal Jika Teheran Coba Bunuh Saya
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Update! Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 4.118 Orang, 16.740 Terluka
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Ayah Vidi Aldiano Ungkap Rasa Sakit Putranya Selama Digerogoti Kanker Ginjal: Daging Serasa Diiris-iris Pakai Pisau
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Pasar Motor Juni 2026: Penjualan Naik 7,4 Persen, Ekspor Justru Merosot
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Jateng Beri Penjelasan Terkait Larangan Penuhi Panggilan Kejari
• 1 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.