Broken home suatu istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi keluarga yang mengalami perceraian orang tua, konflik berkepanjangan atau disfungsi dalam hubungan keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dampak broken home pada anak dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, depresi, perilaku agresif, hingga penurunan prestasi akademik.
Meski demikian setiap anak broken home berpeluang mengalami perkembangan yang positif. Dengan dukungan keluarga yang tetap terjaga, lingkungan yang positif, serta kemampuan membangun resiliensi, banyak anak justru mampu tumbuh menjadi individu yang berprestasi dan sukses dalam berbagai bidang.
Dalam psikologi perkembangan dikenal konsep resiliensi, yaitu kemampuan individu untuk tetap berkembang secara sehat meskipun menghadapi pengalaman hidup yang sulit. Sejumlah figur publik dan atlet dunia menunjukkan bahwa perceraian orang tua tidak otomatis mematikan potensi. Justru, pengalaman pahit bisa menjadi bahan bakar untuk tumbuh lebih kuat
Erling Haaland merupakan salah satu contoh menarik. Walaupun kedua orang tuanya berpisah, ia tumbuh menjadi salah satu pesepak bola terbaik dunia. Analisis psikologis menunjukkan bahwa keberhasilannya dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor utama, yaitu resiliensi, motivasi intrinsik, growth mindset, grit, hubungan emosional yang tetap positif dengan kedua orang tua, kualitas hubungan interpersonal, karakter individu dan lingkungan yang mendukung.
Dampak perceraian orang tua terhadap anak sangat bergantung pada kualitas pengasuhan, dukungan sosial, kemampuan individu dalam mengembangkan mekanisme adaptasi yang sehat. Kasus Haaland memperlihatkan bahwa dengan faktor-faktor protektif yang memadai, pengalaman keluarga yang sulit tidak harus menghambat pencapaian prestasi, bahkan dapat menjadi konteks di mana kemampuan adaptasi dan ketangguhan berkembang secara optimal.
Apa Yang Menjadi Kisah Hidup Erling B. HaalandErling Braut Haaland lahir pada tahun 2000 di Leeds, Inggris. Ayahnya, Alf-Inge Haaland adalah seorang mantan pemain profesional Liga Inggris dan ibunya (Gry Marita Braut) adalah mantan atlet heptathlon Norwegia. Ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat dekat dengan dunia olahraga sehingga sejak kecil terbiasa dengan perilaku disiplin, kompetisi serta gaya hidup sehat.
Orang tuanya kemudian bercerai, namun berbagai berita menunjukkan bahwa keduanya tetap hadir dalam kehidupan Haaland. Ayahnya berperan besar dalam perkembangan karier sepak bolanya, sementara ibunya juga dikenal memberikan dukungan emosional dan menjaga privasinya.
Hasil Analisis Dasar Psikologis yang Membuat Haaland Menjadi Individu BerprestasiMelatih kemampuan resiliensi terlihat dari karakter Haaland tetap fokus terhadap tujuan jangka panjang, mampu mengubah tekanan menjadi motivasi, memiliki kontrol emosi yang baik dan tidak larut dalam kondisi keluarga. (Menurut Teori Resiliensi, hal ini merupakan kemampuan individu untuk bangkit dari situasi sulit dan tetap berkembang secara positif)
Haaland mendapatkan secure attachment, hal ini terlihat dari: kasih sayang dari kedua orang tua, komunikasi yang baik, dukungan terhadap minatnya di bidang sepak bola dan diberikan rasa aman secara emosional. (Menurut teori Attachment dari John Bowlby, kualitas hubungan anak dengan figur pengasuh lebih penting dibandingkan status perkawinan orang tua).
Haaland mampu mengembangkan motivasi intrinsik, hal ini terlihat dari kemampuan memutuskan pilihan kegiatan utamanya adalah sepak bola, mau dan mampu mengikuti latihan intensif sepakbola dan mudah beradaptasi di lingkungan olahraga karena memiliki keterkaitan dari masa lalu. (Menurut teori Self-Determination, motivasi intrinsik dapat berkembang apabila individu memiliki, kemandirian, kompetensi dan keterkaitan)
Kemampuan Growth Mindset Haaland yang memandang bahwa keberhasilan sebagai proses belajar berkelanjutan. Hal ini Haaland tunjukkan dari: pola makan, kualitas tidur, latihan fisik & evaluasi berkala. (Berdasarkan teori growth mindset kemampuan dapat terus dikembangkan melalui latihan)
Sikap Ulet/Grit dijadikan sebagai prediktor prestasi. Haaland menunjukkan hal ini melalui: disiplin latihan yang tinggi, kemampuan mempertahankan performa dalam pertandingan,
konsistensi mencetak gol dan kesiapan menghadapi tekanan kompetisi. (Grit bisa menjadi prediktor prestasi yang lebih kuat daripada kecerdasan intelektual)
Model perilaku positif orang tua yang tetap sama walaupun struktur lingkungan keluarga berubah. Perilaku yang dipelajari dari orang tuanya seperti: disiplin, kerja keras, profesionalisme dan komitmen terhadap keluarga. (Berdasarkan teori social learning dari Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap penting.
Faktor Dukungan kedua orang tua, memberi dampak psikologis, meningkatkan rasa aman emosional
Faktor lingkungan olahraga sejak kecil, berdampak membentuk disiplin dan kompetensi
Faktor motivasi intrinsik, berdampak keinginan latihan tanpa bergantung pada penghargaan eksternal
Faktor growth mindset, berdampak menjadikan kegagalan sebagai sarana belajar
Faktor resiliensi, berdampak memberikan kemampuan mengatasi tekanan keluarga dan kompetisi
Faktor ulet/grit, berdampak pada sikap konsisten mengejar tujuan jangka panjang
Kasus Haaland menunjukkan bahwa istilah broken home tidak selalu identik dengan kegagalan perkembangan anak. Yang lebih menentukan adalah bagaimana orang tua menjalankan fungsi pengasuhan setelah perceraian.
Selain itu kasus Haaland juga memperlihatkan bahwa dengan faktor-faktor protektif yang memadai, pengalaman keluarga yang sulit tidak harus menghambat pencapaian prestasi, bahkan dapat menjadi konteks di mana kemampuan adaptasi dan ketangguhan berkembang secara optimal.
Buat individu yang memiliki keluarga broken home, ini bukan akhir tapi awal baru yang membawamu pada jalan hidup yang lebih berwarna, buatlah strategi yang tepat guna mendapatkan hidup yang penuh dengan prestasi yang indah dan menarik.





