EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD) yang mengutip Reuters, sistem kelistrikan nasional Kuba kembali mengalami kegagalan total pada Jumat (10 Juli). Ini merupakan pemadaman listrik nasional kedua dalam satu pekan dan yang keempat sepanjang tahun 2026.
Laporan tersebut menyebut bahwa embargo minyak Amerika Serikat terhadap Kuba telah memperburuk kondisi sistem pembangkit listrik yang memang sudah tua dan rapuh.
Menurut Reuters, pemadaman listrik nasional yang terjadi pada 6 Juli membuat sekitar 10 juta penduduk Kuba kehilangan aliran listrik. Pemerintah baru berhasil memulihkan sebagian besar pasokan listrik pada 7 Juli malam. Namun, wilayah yang luas, termasuk Santiago de Cuba, masih belum mendapatkan listrik akibat kekurangan bahan bakar yang parah.
Pemadaman listrik yang berkepanjangan juga disebut telah meningkatkan ketegangan sosial di negara tersebut. Setelah pemadaman nasional pada 6 Juli, dilaporkan terjadi aksi protes kecil di beberapa wilayah Havana, di mana warga memukul-mukul panci sebagai bentuk protes.
Seorang perempuan berusia 26 tahun bernama Yailin Fis Garcia, yang sedang menggendong bayi berusia lima bulan, berdiri di depan kafe sekaligus toko pizza milik keluarganya di pusat Havana.
Ia mengatakan bahwa rumahnya di pinggiran ibu kota telah lama mengalami krisis listrik. Selama sebulan terakhir, listrik hanya menyala sekitar satu hingga dua jam setiap hari.
Menurutnya:”Semua makanan akan membusuk. Ini merupakan kerugian ekonomi yang besar bagi kami.”
Menteri Energi Kuba, Vicente de la O Levy, menulis di media sosial bahwa pemerintah telah mulai memulihkan sistem kelistrikan nasional.
“Kami telah memulai proses pemulihan sistem tenaga listrik nasional. Meskipun setiap hari menghadapi berbagai kesulitan, situasinya memang sangat rumit,” ujarnya.
Setelah Amerika Serikat menggulingkan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, Washington memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba.
Venezuela sebelumnya merupakan pemasok utama bahan bakar bagi Kuba. Laporan itu juga menyebut bahwa tekanan dari Amerika Serikat menyebabkan Meksiko menghentikan pengiriman minyak ke Kuba.
Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, dalam debat di Sidang Umum PBB pada 7 Juli, menyalahkan pemerintah Havana atas krisis listrik tersebut.
“Ubah cara kalian memerintah, dan nyalakan kembali lampu bagi rakyat,” katanya.





