Pengamat nilai kehadiran SRUK buat pencatatan karbon jadi transparan

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif The Reform Initiatives (TRI) Hadi Prayitno menilai kehadiran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) penting untuk memastikan pencatatan unit karbon berjalan transparan, menghindari klaim ganda, sekaligus menghubungkan proyek karbon dengan bursa karbon Indonesia.

Hadi memandang kebijakan pemerintah yang tetap memberikan keleluasaan bagi pemilik proyek karbon menggunakan registri internasional maupun nasional merupakan keputusan yang tepat.

“Pilihan kebijakan pemerintah Indonesia dalam memberikan kebebasan bagi pemilik dan pengembang proyek karbon untuk menggunakan sistem registri internasional (seperti VERRA, GOLD STANDARD, PLAN VIVO dll) maupun sistem registri nasional (SRN-PPI) adalah pilihan yang baik,” ujar Hadi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Di sisi lain, ia menegaskan keberhasilan perdagangan karbon, khususnya sektor kehutanan, tidak lepas dari peran strategis Kementerian Kehutanan.

Baca juga: Kemenhut: Penerbitan kredit karbon dukung pembangunan berkelanjutan

Menurut dia, pemerintah mengambil langkah yang lebih realistis dengan tidak mewajibkan seluruh proyek karbon masuk ke sistem registri nasional.

“Kebijakan tersebut menjadi kemajuan dibanding pendekatan sebelumnya yang sempat menuai kritik dari komunitas internasional,” kata dia.

Ia mengatakan kebijakan tersebut menjadi perkembangan yang menggembirakan karena sebelumnya terdapat sentimen negatif dari dunia internasional ketika pemerintah memaksakan seluruh proyek karbon harus diregistrasikan melalui sistem nasional, sementara Indonesia dinilai belum memiliki metodologi yang cukup kuat.

"Peluncuran SRUK sebenarnya adalah untuk memantau berapa estimasi unit karbon ketika didaftarkan dalam sistem registri, setelah verifikasi, dan pada akhirnya diakui/ditetapkan,” katanya.

Baca juga: Wamenhut sebut program perhutanan sosial sedang diusulkan jadi PSN

Lebih lanjut, Hadi mengingatkan agar sistem tersebut tidak justru memperpanjang proses administrasi bagi pelaku usaha karbon. Ia menilai pemerintah perlu memastikan SRUK menjadi instrumen yang memudahkan, bukan menambah hambatan birokrasi dalam pengembangan proyek karbon.

Ia menegaskan sektor kehutanan menjadi tulang punggung perdagangan karbon Indonesia karena memiliki potensi kredit karbon terbesar dibanding sektor lain. Karena itu, peran Kementerian Kehutanan dinilai sangat menentukan keberhasilan implementasinya.

“Untuk perdagangan karbon sektor kehutanan, peran Kementerian Kehutanan sangat signifikan. Karena potensi kredit karbon sektor kehutanan sebagaimana tercatat dalam NDC adalah paling besar,” ujar Hadi.

Ia menjelaskan potensi tersebut berasal dari kawasan hutan mineral, kawasan hidrologi gambut, hingga ekosistem mangrove yang berada di dalam kawasan hutan.

Baca juga: Reformasi karbon oleh Kemenhut dinilai pulihkan kepercayaan investor


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Terakhir Libur Sekolah, Kawasan Braga di Bandung Masih Dipadati Wisatawan | KOMPAS MALAM
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Kebakaran Rumah di Sunter Agung Diduga Dipicu Korsleting Listrik, Kerugian Ditaksir Rp20 Juta
• 6 jam lalupantau.com
thumb
IPW Apresiasi Sikap Prabowo soal Penanganan Kasus Febrie Adriansyah
• 9 jam laludetik.com
thumb
Project Pop Gelar Konser di Senayan 8 Agustus 2026, Ajak Fans Rayakan 30 Tahun Perjalanan Karier
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Rudi Margono Pastikan Penanganan Perkara Korupsi di Kejaksaan Agung Tetap Berjalan usai Pengunduran Diri Febrie Adriansyah
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.