JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang ingin mewajibkan pembangunan terowongan pejalan kaki bawah tanah antara Senayan City dan Plaza Senayan dinilai kurang realistis oleh sebagian pengunjung.
Mereka menilai konsep jembatan layang (skybridge) lebih masuk akal, aman, dan lebih mudah direalisasikan dibandingkan membangun terowongan bawah tanah.
Salah satunya disampaikan Rezi (28), pengunjung yang kerap datang ke Senayan City. Ia mengaku lebih mendukung pembangunan skybridge sebagai akses penghubung antarmal.
Baca juga: Pekerja Dukung Terowongan Senayan City-Plaza Senayan, Dinilai Bikin Akses Lebih Mudah
"Setuju sih butuh akses penyeberangan, apalagi kalau malnya terintegrasi ya. Tapi kalau bentuknya harus terowongan, jujur saya kurang setuju. Menurut saya mending dibikin skybridge atau jembatan penyeberangan yang besar sekalian di atas," ucap Rezi saat berbincang dengan Kompas.com di depan Senayan City, Minggu (12/7/2026).
Sejak pertama kali mendengar wacana tersebut, Rezi mengaku pesimistis proyek terowongan akan benar-benar terealisasi.
Menurut dia, pembangunan bawah tanah membutuhkan biaya besar dan proses konstruksi yang rumit.
Selain itu, di bawah Jalan Asia Afrika juga terdapat berbagai utilitas kota, seperti kabel dan pipa air, yang berpotensi menyulitkan pekerjaan.
Baca juga: Kemacetan di Depan Senayan City dan Plaza Senayan, Benarkah Dipicu Penyeberang Jalan?
"Kalau skybridge kan kayak bikin JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) aja, tapi dibikin estetik biar bagus dan orang tertarik juga. Lebih gampang juga, realistis lah kita ngebayangin juga," kata Rezi.
Ia mencontohkan sejumlah jembatan penghubung antarmal di Jakarta yang dinilai berhasil, seperti di Pondok Indah Mall (PIM) maupun Central Park dan Central Park 2.
Menurut Rezi, konsep tersebut lebih nyaman karena pengunjung tidak perlu turun ke area bawah tanah.
"Itu kan enak, jembatannya lebar, desainnya bagus, dan ada atapnya yang full cover. Bangunnya juga pasti lebih cepat dan murah karena enggak perlu repot gali tanah," kata Rezi.
Baca juga: Pramono Wajibkan Senayan City dan Plaza Senayan Bangun Terowongan Penghubung untuk Urai Macet
Ia juga mengingatkan bahwa proses pembangunan terowongan yang mengharuskan penggalian Jalan Asia Afrika berpotensi memperparah kemacetan selama masa konstruksi.
"Terus kalau pakai galian nanti malah macet juga," ujarnya.
Di sisi lain, Bramantyo (30), pekerja di salah satu stan Senayan City, justru mendukung rencana pembangunan terowongan.
Menurut dia, akses bawah tanah tidak hanya mempermudah mobilitas pekerja dan pengunjung, tetapi juga berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung di kedua pusat perbelanjaan.





