Dari Anak Harus Nurut ke Anak Harus Didengar: Pergeseran Pola Asuh di Era Gen Z

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan dalam perkembangan anak, terutama dalam membentuk karakter, kemampuan sosial, dan pengelolaan emosi. Pola asuh yang diberikan orang tua menjadi salah satu faktor penting karena melalui interaksi sehari-hari anak belajar memahami aturan, mengekspresikan perasaan, serta membangun hubungan dengan lingkungan sekitar. (Hikmawati et al., 2023) menunjukkan bahwa pola asuh memiliki keterkaitan dengan perkembangan perilaku sosial emosional anak karena keluarga menjadi tempat utama anak memperoleh pengalaman emosional pertama.

Pada generasi sebelumnya, banyak keluarga menerapkan pola asuh yang berorientasi pada kepatuhan. Anak sering dianggap harus mengikuti keputusan orang tua tanpa banyak memberikan pendapat. Konsep “anak harus nurut” menjadi gambaran bahwa keberhasilan pengasuhan sering diukur dari seberapa patuh anak terhadap aturan keluarga.

Dalam beberapa kondisi, pola asuh tersebut bertujuan untuk membentuk kedisiplinan dan rasa hormat kepada orang tua. Namun, pendekatan yang terlalu menekankan kepatuhan terkadang membuat anak kurang memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan, menyampaikan pendapat, atau belajar memahami emosinya sendiri.

Seiring perkembangan zaman, pola pengasuhan mengalami perubahan. Orang tua masa kini, khususnya generasi muda atau generasi Z, mulai menerapkan pendekatan yang lebih menekankan komunikasi, penghargaan terhadap emosi anak, serta pengasuhan tanpa kekerasan. Perubahan ini semakin berkembang karena adanya akses informasi melalui teknologi digital yang memberikan pengetahuan baru mengenai perkembangan anak dan pola pengasuhan modern (Arta & Prahesti, 2024)

Perubahan tersebut terlihat melalui munculnya pendekatan seperti gentle parenting, yaitu pola pengasuhan yang berusaha membangun hubungan positif antara orang tua dan anak melalui komunikasi, empati, serta disiplin tanpa kekerasan. Dalam pendekatan ini, anak tidak hanya dilihat sebagai individu yang harus mengikuti aturan, tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki perasaan, kebutuhan, dan pendapat yang perlu dihargai. Dengan demikian, konsep pengasuhan mulai bergeser dari “anak harus patuh” menjadi “anak harus dipahami dan didengar”. (Elan & Handayani, 2023)

Perubahan Pola Asuh dalam Kehidupan Keluarga

Hasil wawancara dengan seorang ibu muda Generasi Z menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara pola asuh masa kini dan masa lalu. Ia mengungkapkan bahwa dirinya berusaha tidak mengulang pola pengasuhan keras yang ia rasakan dari generasi sebelumnya. Ia memilih pendekatan gentle parenting agar anak dapat tumbuh tanpa rasa takut dan lebih mampu mengenali emosinya. (Ishak et al., 2025)

Namun, ia juga mengakui bahwa praktiknya tidak selalu ideal. Dalam kondisi tertentu, terutama saat anak melanggar aturan berulang atau menyangkut keselamatan, ia menerapkan batasan yang lebih tegas. Ia menyebutnya sebagai Mode VOC, yaitu pendekatan disiplin tegas tanpa kekerasan, sebagai bentuk keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan.

Di sisi lain, generasi sebelumnya memiliki pandangan berbeda. Menurut nenek dari anak tersebut, pengasuhan ideal pada zamannya adalah ketika anak selalu berada dekat dengan orang tua, patuh, dan tidak banyak membantah. Konsep seperti me time dianggap bukan prioritas utama karena ibu diharapkan fokus penuh pada keluarga.

Perubahan Nilai Sosial dalam Keluarga

Perubahan pola asuh ini dapat dijelaskan melalui teori perubahan sosial dari Selo Soemardjan yang menyatakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga kemasyarakatan yang memengaruhi sistem nilai, sikap, dan pola perilaku masyarakat.

Dalam konteks ini, keluarga sebagai lembaga sosial mengalami perubahan nilai dari otoritas orang tua menuju komunikasi yang lebih setara antara orang tua dan anak.

Selain itu, teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses interaksi dan sosialisasi. Artinya, cara ibu Gen Z mengasuh anak tidak hanya diwariskan secara tradisional, tetapi juga dibentuk oleh interaksi dengan media sosial, komunitas digital, dan informasi psikologi modern.

Konflik Antargenerasi dalam Pola Asuh

Perbedaan pandangan antara ibu Gen Z dan generasi sebelumnya juga dapat dilihat melalui teori generasi dari Karl Mannheim. Menurut Mannheim, setiap generasi dibentuk oleh pengalaman sosial yang berbeda sehingga memiliki cara pandang dan nilai yang berbeda pula.

Hal ini terlihat jelas dalam perbedaan sikap terhadap disiplin anak dan konsep peran ibu. Generasi sebelumnya menekankan kepatuhan dan kedisiplinan ketat, sedangkan generasi muda lebih menekankan validasi emosi dan dialog. Akibatnya, sering muncul ketegangan atau perbedaan pendapat dalam keluarga.

Pergeseran Gaya Pengasuhan

Dari sisi psikologi perkembangan, pola asuh ibu Gen Z dapat dikaitkan dengan teori Diana Baumrind yang membagi gaya pengasuhan menjadi otoriter, permisif, dan demokratis (authoritative).

Pendekatan gentle parenting yang digunakan ibu Gen Z lebih dekat dengan pola asuh demokratis yaitu:

Namun, dalam praktiknya, pola ini sering menjadi campuran antara lembut dan tegas, tergantung situasi, yang menunjukkan bahwa pengasuhan modern bersifat fleksibel, bukan kaku.

Perubahan Peran Ibu dan Kesehatan Mental

Perubahan lain yang cukup terasa adalah munculnya konsep me time dan kesadaran kesehatan mental ibu. Ibu Generasi Z tidak lagi hanya dipandang sebagai sosok yang harus selalu berkorban tanpa ruang untuk diri sendiri.

Hal ini dapat dikaitkan dengan pandangan feminisme modern dari Betty Friedan yang menekankan bahwa perempuan memiliki identitas dan kebutuhan di luar peran domestik.

Dalam konteks ini, me time bukan bentuk pengabaian terhadap anak, tetapi bagian dari upaya menjaga keseimbangan emosi agar pengasuhan tetap sehat dan stabil.

Dampak Perubahan Pola Asuh

Dari sisi positif, anak berpotensi tumbuh lebih terbuka, mampu mengungkapkan perasaan, dan memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik. Hubungan antara orang tua dan anak juga menjadi lebih komunikatif.

Namun, di sisi lain, perbedaan nilai antara generasi dapat memicu konflik dalam keluarga. Ketidakkonsistenan aturan antara orang tua dan kakek-nenek dapat membingungkan anak dalam memahami batasan. Selain itu, ibu muda juga dapat mengalami tekanan sosial karena dianggap terlalu lunak atau terlalu mengutamakan diri sendiri.

Kesimpulan

Perubahan dari pola asuh anak harus nurut menjadi anak harus didengar menunjukkan adanya transformasi nilai sosial dalam keluarga Indonesia. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan teknik pengasuhan, tetapi bagian dari dinamika sosial yang lebih luas, termasuk perubahan generasi, perkembangan teknologi, dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental.

Pada akhirnya, tantangan utama dalam pengasuhan modern bukan memilih antara cara lama atau baru, melainkan menemukan keseimbangan antara ketegasan dan empati, antara aturan dan kebebasan, serta antara peran sebagai orang tua dan individu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tujuh Atlet Indonesia Melaju ke Semifinal Asian Boxing 2026
• 17 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ada Sky Fun Run, 7 Rute TransJakarta di Koridor 13 Diubah Sementara
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Appi-Melinda Raih Penghargaan Wastra dan Kriya Kemendagri
• 13 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Prabowo Singgung Tamu Tak Tahu Diri, Datang Untuk Dagang Lama-lama Jadi Rampok
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Bulog Mengusulkan Beras SPHP Premium "Beras Kita" untuk Menekan Kenaikan Harga Beras
• 23 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.