Gawat! 5.346 Perusahaan Jepang Bangkrut Gegara Utang

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Aktivitas Warga Tokyo (AP/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena perusahaan mengalami kebangkrutan tengah melanda Jepang. Jumlahnya mencapai 5.346 perusahaan selama semester I-2026, ungkap laporan dari Tokyo Shoko Research.

Jumlah kebangkrutan telah meningkat ke level tertinggi pada semester pertama dalam 12 tahun," tulis Tokyo Shoko Research, seperti dikutip NDTV Profit, Minggu (12/7/2026).

Dari jumlah itu terungkap 90% merupakan usaha kecil dengan jumlah pegawai kurang dari 10 orang. Laporan yang sama mengungkapkan mayoritas perusahaan yang merugi adalah mereka dengan modal di bawah 10 juta yen.


Kondisi ribuan perusahana yang baru membuat tekanan pada sektor usaha, di mana mendapatkan kebijakan moneter dan fiskal yang longgar.

Tekanan terbesar terjadi pada sektor jasa, jumlahnya sepertiga dari total perusahaan yang bangkrut. Kemudian adalah konstruksi dan perdagangan.

Sementara kelompok yang paling banyak dilikuidasi adalah restoran, toko makanan, dan bisnis akomodasi.

Beberapa pekerjaan yang terdampak seperti tukang kayu, tukang cat, tukang ledeng, hingga kontraktor listrik. Posisi yang bisa bertahan seperti kontraktor yang lebih besar.

Penyebab Kebangkrutan

Fenomena ini bukan hanya karena lemahnya nilai tukar yen. Namun juga akibat lemahnya penjualnya, yang menjadi penyebab hampir tiga perempat kasus kebangkrutan pada 2025 hingga semester I-2026 dari laporan tersebut.

Jepang juga mengalami kenaikan harga karena biaya bahan baku yang meningkat. Begitu juga dari kemasan, transportasi dan energi.

Masyarakat juga tetap menahan untuk belanja meski adanya kenaikan upah nomal yang naik lebih dari 3%. Sebab pendapatan riil rumah tangga baru membaik mulai awal 2026, setelah digerus inflasi tahun sebelumnya.

Kebutuhan non-primer seperti makan di restoran dan bepergian jadi beberapa hal yang tidak dikeluarkan oleh banyak masyarakat.

Pelemahan Yen disebut menjadi pemicu tidak langsung. Karena dimulai dari
kenaikan biaya impor yang mendorong harga barang naik, melemahkan permintaan konsumen, menekan pendapatan perusahaan, hingga akhirnya berujung pada kebangkrutan karena lemahnya penjualan.

Kondisi ini juga makin memburuk karena kekurangan tenaga kerja. Sebanyak 237 kasus kebangkrutan selama enam bulan pertama tahun 2025 karena persoalan tenaga kerja, seperti sulitnya melakukan perekrutan hingga meningkatnya biaya upah.

Para perusahaan kecil juga kesulitan bersaing dengan perusahaan besar untuk melakukan perekrutan. Khususnya pada sektor konstruksi yang bergantung pada pekerja terampil.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Alarm Ekonomi Jepang ! Inflasi Inti Anjlok Karena Harga Energi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
5 Zodiak Paling Hoki 13 Juli 2026: Cancer Beruntung dalam Karier, Libra dalam Finansial
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Tak Perlu Menunggu Mapan, Perencanaan Kekayaan Dapat Dimulai dari Rp 10 Ribu
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Ahli Hukum Soroti Kejanggalan Penetapan Tersangka Febrie Adriansyah di Korupsi TPPU: FA Ini Belum...
• 44 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Yakin RI Bangkit, Ini Pesannya buat yang Merasa Indonesia Suram
• 9 jam laludetik.com
thumb
Prakiraan Cuaca BMKG Besok Senin 13 Juli 2026: 3 Wilayah Waspada Hujan, Bibit Siklon 97W Terpantau
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.