Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai peluang investasi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih terbuka. Namun, realisasinya sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memperbaiki daya saing di tengah ketatnya persaingan dengan negara-negara produsen tekstil di Asia.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, investor saat ini masih mengambil sikap wait and see di tengah tekanan yang dihadapi industri padat karya tersebut. Kondisi ini tercermin dari realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor tekstil yang mengalami perlambatan pada awal tahun.
"Pada Triwulan I/2026, investasi dalam negeri di sektor tekstil mencapai sekitar Rp2 triliun atau turun sekitar 4,8% secara kuartalan. Saat ini kami melihat investor cenderung mengambil sikap lebih berhati-hati," ujar Shinta kepada Bisnis, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, keputusan investasi di industri TPT tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasar domestik, melainkan juga efisiensi biaya produksi, kepastian regulasi, produktivitas tenaga kerja, biaya logistik, hingga kemudahan mengakses pasar ekspor.
Apalagi, lanjut Shinta, industri tekstil merupakan bagian dari rantai pasok global sehingga investor maupun pemilik merek internasional akan terus membandingkan Indonesia dengan negara pesaing.
"Mereka akan menempatkan investasi di negara yang mampu memberikan kepastian berusaha dan biaya produksi yang paling kompetitif," tegasnya.
Shinta menyebut, Vietnam, Kamboja, Bangladesh, India, Pakistan hingga Yordania, diketahui menjadi sejumlah negara yang saat ini bersaing langsung dengan Indonesia dalam menarik investasi manufaktur tekstil. Karena itu, dia menilai perbaikan iklim usaha menjadi faktor krusial agar Indonesia tidak kehilangan peluang relokasi investasi maupun ekspansi baru dari pelaku industri global.
Tidak dipungkiri, industri TPT nasional saat ini masih menghadapi tekanan dari membanjirnya produk impor murah, termasuk yang masuk melalui jalur ilegal maupun praktik perdagangan yang tidak adil.
Menurut Shinta, kondisi tersebut telah menekan permintaan terhadap produk lokal sehingga utilisasi pabrik turun, margin usaha menyusut, dan banyak perusahaan memilih menunda ekspansi.
"Perusahaan akhirnya menunda investasi, mengurangi kapasitas produksi, bahkan melakukan efisiensi tenaga kerja. Dalam kondisi seperti ini, ruang bagi industri untuk melakukan pemulihan menjadi semakin terbatas," tuturnya.
Apindo mengapresiasi langkah pemerintah yang memperketat pengaturan impor melalui perubahan regulasi perdagangan. Namun, organisasi pengusaha itu menilai tantangan terbesar kini berada pada implementasi di lapangan.
Pengawasan terhadap arus impor ilegal maupun penyalahgunaan ketentuan impor dinilai perlu diperkuat. Selain itu, pemerintah juga didorong mengoptimalkan instrumen trade remedies sesuai ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) apabila ditemukan praktik dumping maupun lonjakan impor yang merugikan industri nasional.
Meski demikian, Shinta menilai prospek investasi industri TPT masih dapat membaik apabila pemerintah mampu meningkatkan daya saing sektor manufaktur melalui reformasi kebijakan.
Menurutnya, terdapat tiga langkah yang perlu diprioritaskan dalam enam bulan ke depan. Pertama, mengurangi structural high-cost economy melalui deregulasi, efisiensi logistik, kepastian pasokan energi dan bahan baku, serta akses pembiayaan yang lebih murah.
Kedua, memperkuat perlindungan pasar domestik melalui pengawasan impor yang lebih efektif dan penegakan aturan perdagangan secara konsisten tanpa mengganggu integrasi Indonesia dalam rantai pasok global.
Ketiga, mendorong investasi untuk modernisasi industri melalui insentif pembaruan mesin dan teknologi, penguatan industri hulu, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan likuiditas bagi pelaku usaha.
"Insentif investasi bagi pembaruan mesin dan teknologi, penguatan industri hulu, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dukungan terhadap likuiditas modal kerja, serta percepatan transformasi menuju industri yang lebih efisien akan menjadi faktor penting agar industri TPT mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi," pungkasnya.





