Grid.ID - Dedi Mulyadi ungkap 1.128 sekolah swasta sudah bergabung sebagai mitra pemerintah. Hal ini pun dianggap sebagai solusi dari Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Sebelumnya diketahui SPMB Jabar 2026 menuai polemik khususnya di kalangan calon murid maupun orang tua atau wali murid. Dimana mereka kecewa dengan sistem pendaftaran langsung.
Bahkan ada yang sampai marah dan videonya dilihat oleh Dedi Mulyadi. Mengetahui hal itu, Gubernur Jawa Barat itu langsung memberikan responnya.
Menurut Dedi Mulyadi, orang tua tersebut kecewa karena anaknya harus bersaing dengan pendaftar baru, yakni para calon murid yang tidak lolos Sekolah Maung. Lebih lanjut, kemarahan juga terkait banyak anaknya yang tidak lolos sekolah negeri.
Hal itu pun menurut Dedi adalah kesalahan dari pemerintah.
"Hari ini, apabila banyak orang tua yang marah anak-anaknya tidak terpetakan di sekolah negeri, bukan kesalahan orang tua.
Tetapi kesalahan kami penyelenggara negara," ucap Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari TikTok @dedimulyadiofficial pada14 Juni 2026 lalu.
Dedi Mulyadi sarankan calon murid yang tidak lolos Jabar 2026 ke sekolah negeri, untuk mendaftar ke sekolah swasta.
"Yang penting hari ini, mari kita sama-sama mendukung anak-anak bisa sekolah.
Bagi yang tidak berkesempatan terpetakan di sekolah negeri, masih ada sekolah swasta," ucap Dedi Mulyadi.
"Bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjamin biaya pendidikan gratis untuk anak-anak di sekolah swasta," tandas Dedi Mulyadi.
Dan kini Dedi Mulyadi ungkap 1.128 sekolah swasta sudah bergabung sebagai mitra pemerintah bertambah pesat. Dimana sebelumnya hanya 750 sekolah yang tergabung.
“Awalnya 750 sekolah, kemudian bertambah menjadi 1.015 sekolah, dan sekarang bertambah lagi menjadi 1.128 sekolah,” ungkap Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Bapenda.jabarprov.go.id, Minggu (12/7/2026).
Dedi Mulyadi juga menepis banyak sekolah swasta menolak bekerja sama dengan pemerintah.
"Kalau ada yang menyatakan banyak yang menolak, justru terbalik. Malah sangat banyak yang ingin bekerja sama,” imbuhnya.
Selain memperluas kemitraan dengan sekolah swasta, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menghadirkan konsep sekolah hybrid. Yang mana diperuntukkan bagi siswa yang berprofesi sebagai atlet, pedagang, petani, nelayan, maupun mereka yang memiliki aktivitas lain sehingga tidak memungkinkan hadir di kelas setiap hari.
“Sistem belajarnya hari Sabtu dan Minggu serta bisa dilakukan secara online,” ujar Dedi Mulyadi.
“Prinsipnya yang penting seluruh warga Jawa Barat bisa sekolah,” tandasnya. (*)
Artikel Asli




