Sempat Dibuka Hijau, IHSG Balik Arah ke Zona Merah

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari ini di zona merah. Pada awal sesi, IHSG turun 8,796 poin atau 0,15% ke level 5.915,563.

Berdasarkan data perdagangan hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG sempat dibuka di level 5.934,719 dan menyentuh level tertinggi 5.936,882 sebelum berbalik melemah. Adapun level terendah sementara berada di 5.915,398.

Meski indeks terkoreksi, pergerakan saham masih didominasi oleh penguatan. Sebanyak 236 saham menguat, 161 saham melemah, dan 273 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan juga mulai ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp299,723 miliar dari volume 841,664 juta saham yang diperdagangkan dalam 179.847 kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp10.354,456 triliun.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal, pergerakan IHSG terus mengumpulkan kekuatannya dari FR50% support. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross, namun volume mengalami penurunan. "Adapun reli IHSG diperkirakan masih dapat terjadi namun belum akan berlangsung agresif karena investor masih menunggu kepastian perkembangan sentimen global dan arah aliran dana asing," kata dia dalam risetnya.

Nafan menyebut pasar saham global khususnya Wall Street bergerak cukup solid dan kompak ditutup menguat di akhir pekan, memberikan katalis positif ekstra bagi optimisme investor domestik di awal perdagangan hari Senin.

Di sisi lain, rupiah berhasil menguat sekitar 0,35% atau 63 poin ke level penutupan di sekitar Rp18.065 per dolar AS pada pasar spot.

Baca Juga: Asing Terus Kuras Dana Puluhan Triliun dari BEI, Nasib IHSG Justru di Luar Dugaan

Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 0,50% ke Level 5.942, Mayoritas Saham Bergerak di Zona Hijau

Meskipun demikian, para pelaku investor mulai khawatir terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah adanya aksi saling serang antara AS dan Iran. Konflik ini ditakuti dapat mengganggu stabilitas ekonomi global. Sementara itu, para pelaku pasar sedang mencermati pernyataan terbaru dari para pejabat The Fed terkait dengan ekspektasi inflasi dan Fed Rate.

"Para pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan Fed Rate lanjutan hingga akhir tahun sehingga imbal hasil aset dolar tetap menarik," ungkap dia.

Adapun strategi buy on weakness pada saham berfundamental kuat, khususnya di sektor perbankan dan komoditas masih dapat dipertimbangkan, sembari tetap mencermati stabilitas nilai tukar rupiah dan volume transaksi di awal sesi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Seri NATARIGA Panasonic meraih penghargaan Red Dot Design Award 2026
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Prabowo Proyeksikan Kopdes Merah Putih Tingkatkan Kesejahteraan Rp223 Triliun per Tahun
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Abdel Achrian Tak Hadir di Rumah Duka Temon, Sedang Ada Urusan di Amerika
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Foto: Ekonomi Makin Tidak Pasti, Warga Pilih Mobil Bekas daripada Beli Baru
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Keberadaan Febrie Adriansyah Belum Diketahui Usai Dijadikan Tersangka, Begini Kondisi Kompleks Rumah Dinasnya
• 22 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.