Bisnis.com, KARANGANYAR — Rencana pembangunan kereta gantung (cable car) ala Dubai dan kawasan wisata balon udara mirip Cappadocia di kawasan Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, dipastikan batal direalisasikan. Investor memilih mundur sehingga dua proyek wisata dengan investasi besar itu tidak berlanjut.
Founder The Lawu Park, Parmin Sastro Wijono, mengungkapkan proyek tersebut semula dirancang menjadi ikon wisata baru Karanganyar yang terintegrasi dengan Jembatan Kaca Kemuning Sky Hills. Konsepnya, wisatawan akan menyeberang menggunakan kereta gantung dari kawasan Jembatan Kaca di Ngargoyoso menuju Bukit Mitis di Tawangmangu.
Di kawasan perbukitan seluas sekitar sembilan hektare itu kemudian disiapkan area wisata balon udara yang mengusung konsep seperti destinasi wisata di Cappadocia, Turki. "Konsepnya dulu dari Jembatan Kaca naik cable car menuju area paralayang. Di atas itu ada lahan sekitar sembilan hektare yang dirancang untuk balon udara. Jadi satu kesatuan proyek," kata Parmin saat dihubungi Solopos (Jaringan Informasi Bisnis Indonesia/JIBI), awal Juli 2026.
Namun, Parmin mengatakan proyek yang telah lama diwacanakan itu akhirnya gagal diwujudkan setelah investor memutuskan menarik diri. Parmin mengatakan keputusan tersebut dipengaruhi berbagai pertimbangan, mulai dari studi kelayakan investasi, isu lingkungan, hingga masih rendahnya daya beli wisatawan di Karanganyar.
Menurutnya, proyek kereta gantung membutuhkan investasi sangat besar sehingga harus ditopang jumlah pengunjung dan harga tiket yang memadai agar investasi dapat kembali. Ia pun memperkirakan harga tiket kereta gantung minimal harus dipatok sekitar Rp150.000, apabila proyek tersebut direalisasikan.
Sementara itu, kondisi pasar wisata di Karanganyar dinilai belum mampu mendukung harga tiket sebesar itu. "Kalau mau layak secara bisnis, tiketnya minimal sekitar Rp150.000. Masalahnya, di Karanganyar tiket Rp25.000 saja masih banyak yang menganggap mahal. Daya beli wisatawan masih rendah," katanya.
Baca Juga
- Pemprov NTB Kembali Buka Keran Investasi di Bandar Kayangan dan Kereta Gantung Rinjani
- Pembangunan Feeder LRT Kereta Gantung Harjamukti-Mekarsari Masih Tunggu Studi Kelayakan
- Bulog Sidak Pabrik MinyaKita di Karanganyar
Selain persoalan pasar, Parmin menambahkan kepastian regulasi juga menjadi perhatian investor. Parmin menilai sebagian kawasan wisata di Karanganyar masih menghadapi persoalan tata ruang sehingga investor membutuhkan kepastian hukum sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar.
"Sebagian lahan juga masih belum klir dari sisi tata ruang. Investor tentu berpikir ulang kalau investasi besar tetapi kepastian regulasinya belum kuat," katanya.
Akibat batalnya proyek tersebut, ia mengatakan pengembangan kawasan wisata di Kemuning akhirnya dialihkan ke konsep yang lebih sederhana. The Lawu Park memilih menghadirkan wahana cable car mini di Bukit Mitis yang membutuhkan investasi jauh lebih kecil dibanding kereta gantung.
Menurut Parmin, meski sederhana, wahana tersebut tetap mendapat respons positif dari wisatawan. "Kami mencoba yang lebih sederhana dulu. Ternyata tetap menarik minat pengunjung," ujarnya.
Parmin menilai batalnya proyek tersebut membuat Karanganyar kehilangan peluang menghadirkan destinasi wisata ikonik baru. Menurutnya, sejak Jembatan Kaca Kemuning Sky Hills dibangun, hampir tidak ada lagi objek wisata berskala besar yang mampu menjadi magnet baru bagi wisatawan di Karanganyar.
Padahal, berdasarkan pengamatannya, daerah-daerah seperti Gunungkidul, Yogyakarta, hingga kawasan Bromo terus menghadirkan atraksi baru sehingga kunjungan wisatawan terus tumbuh.
Ia mencontohkan kawasan Kaliurang di Kabupaten Sleman yang mampu menarik ribuan wisatawan setiap hari hanya melalui wisata jip. Di kawasan Bromo, lanjutnya, hotel maupun jasa jip bahkan penuh pesanan selama musim liburan.
"Daerah yang wisatanya berkembang selalu menghadirkan sesuatu yang baru. Destinasi lama di-upgrade, kemudian muncul ikon baru lagi. Karanganyar sudah sekitar tiga tahun belum punya ikon wisata baru setelah Jembatan Kaca," ujarnya.
Menurut Parmin, pemerintah daerah perlu menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif apabila ingin menarik investor masuk ke sektor pariwisata. Selain menghadirkan kepastian regulasi, pemerintah juga perlu memperkuat digitalisasi pemasaran wisata dan membangun ekosistem pariwisata bersama pelaku usaha serta masyarakat.
"Yang bergerak tidak bisa hanya pelaku wisata. Pemerintah, masyarakat, dan investor harus sama-sama membangun ekosistem. Kalau tidak, Karanganyar akan semakin sulit bersaing dengan daerah lain yang terus menghadirkan destinasi baru," kata dia.
Sebelumnya, The Lawu Park juga mencatat penurunan kunjungan wisata selama musim libur sekolah tahun ini. Meski naik sekitar 30%-40% dibanding hari biasa, jumlah pengunjung masih turun sekitar 40%-50% dibandingkan periode libur sekolah tahun lalu.
Menurut Parmin, lesunya ekonomi, belum adanya destinasi ikonik baru, dan ketatnya persaingan antardaerah menjadi faktor yang memengaruhi penurunan tersebut.




