Sabtu (11/7/2025) malam, auditorium Universitas Nusa Cendana, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, menjadi panggung bagi para calon imam Katolik dari Seminari Santo Paulus Ledalero unjuk kemampuan olah vokal. Mereka menghibur ribuan pasang mata dengan lagu gereja hingga lagu yang lagi hits.
Konser ini merupakan bagian dari kegiatan animasi misi yang dilakukan Seminari Santo Paulus Ledalero setiap tahun ketika liburan semester. Dari markas di Nita, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, mereka menyebrang ke Kupang, Pulau Timor. Mereka tinggal di rumah umat, melaksanakan berbagai kegiatan gereja, lalu puncaknya menggelar konser.
"Sekitar satu minggu mereka ada di Kupang untuk mengalami pengalaman hidup bersama umat dan mempraktikkan ilmu yang mereka dapatkan di seminari. Ini kesempatan bagi mereka untuk belajar," kata Rektor Seminari Santo Paulus Ledalero Pater Yos Keladu Koten SVD.
Seminari Santo Paulus Ledalero bernaung di bawah Serikat Sabda Allah (SVD), sebuah ordo dalam gereja Katolik yang mengambil misi pewartaan ajaran Katolik di berbagai penjuru dunia. Seminari Santo Paulus Ledalero merupakan seminari SVD terbesar di dunia untuk saat ini.
Seminari Ledalero mulai dibuka tahun 1937 untuk mendidik calon imam Katolik. Hadir sebelum Indonesia merdeka. Bahkan, pendidikan filsafat dan teologi sudah dimulai tahun 1932 di Mataloko, sisi barat Sikka. Seminari ini pun disebut sebagai fondasi kemajuan pendidikan di Pulau Flores dan NTT pada umumnya.
Setelah ditahbiskan menjadi imam, sebagian dari mereka akan diutus menjalini misi pewartaan ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke luar negeri. Saat ini tercatat 1.146 orang imam lahir dari Seminari itu. Sebanyak 595 orang di antaranya berkarya di luar negeri.
Serial Artikel
”Magnifica Humanitas”, Kuasa dan Teknologi
Ensiklik dapat memberikan orientasi etis bagi penguatan demokrasi dan penegakan hak-hak asasi di Indonesia.
Selama bertugas di luar negeri, kata Yos, iman kelahiran Ledalero tidak hanya mewartakan Injil dan ajaran Katolik. Mereka juga mewartakan tentang Indonesia. Mereka memperkenalkan bahasa, budaya, dan makanan Indonesia kepada dunia. Sebanyak 595 imam Ledalero pernah ditugaskan di 79 negara.
Bahkan lebih dari itu, banyak dari mereka dikenal di negara tujuan misi karena kontribusi mereka terhadap kerja-kerja kemanusiaan seperti pendidikan dan kesehatan. Kerja semacam ini banyak dilakukan misionaris Eropa di Indonesia pada masa lalu. Jejaknya terekam hingga saat ini.
Contohnya, sebagaimana catatan Kompas, Pater Amans Laka yang mendirikan sejumlah sekolah di pedalaman Argentina. Ia memulai misi di sana tahun 1996. Sekolah itu hadir khusus bagi anak-anak petani miskin. Lantaran ia warga negara asing, pembangunan itu harus disetujui pemerintah setempat.
Amans pun menghadap Bupati Puerto Ezperansa yang langsung menyetujui usulannya. Bupati mengangkat Amans secara simbolis sebagai warga negara Argentina. Dalam lima bulan, bangunan sekolah berdiri. Amans ikut bekerja, termasuk mengangkut batu, besi, pasir, dan mengaduk semen.
Sebagai warga negara Indonesia, Amans menghadirkan Sekolah Republik Indonesia pada tahun 2009. Sekolah yang juga diperuntukkan bagi kaum pinggiran itu diresmikan oleh Duta Besar Indonesia untuk Argentina, Paraguay, dan Uruguay Nurmala Kartini pada tahun 2011.
Atas jasa baiknya bagi negara dan rakyat di Argentina, pemerintah memberi penghormatan dengan memberi nama sebuah jalan di daerah Puerto Ezperansa dengan nama Jalan Amans. Amans, pria kelahiran Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT itu lalu pindah ke tanah misi yang berikutnya di negara Kuba.
Kristo Blasin, tokoh NTT di Kupang mengatakan, imam Ledalero mewartakan kasih lewat perbuatan nyata kepada orang-orang pinggiran. Apa yang mereka lakukan juga menggambarkan tentang karakter orang NTT dan Indonesia yang mau menolong. Salam keterbatasan, mereka menjadi terang bagi sesama tanpa membedakan.
"Puluhan tahun SVD dari Ledalero menjadi terang bagi dunia. Kehadiran mereka, sebagai wajah Indonesia di luar negeri, tentu sangat membanggakan bagi bangsa ini," katanya.
Ketua Pemuda Katolik NTT Yuvensius Tukung mengajak umat agar mendukung karya misi Ledalero. Dukungan dapat dilakukan mulai dari kegiatan pembinaan di seminari hingga ketika mereka berkarya di luar negeri. Lewat Ledalero, umat dapat berkontribusi bagi dunia.
Imam Ledalero bukan sebatas pewarta Injil di atas altar. Mereka telah hadir bagi orang-orang kecil, membawa pesan kasih dan mewartakan Indonesia kepada dunia.
Serial Artikel
Pastor Amans Laka SVD, Jejak Jasa Putra NTT di Argentina
Tidak hanya berkhotbah di mimbar altar, P Amans Laka SVD mendirikan sejumlah sekolah untuk mencerdaskan generasi muda di pedalaman Argentina. Pemerintah setempat pun mengabadikan nama Amans sebagai nama jalan.





