Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengingatkan pihak yang kalah pemilu tidak memprovokasi kerusuhan.
Sarmuji mengatakan pernyataan Prabowo harus dimaknai sebagai ajakan untuk sama-sama belajar menyikapi hasil kontestasi politik, baik ketika menang maupun kalah.
“Ya itu warning ya. Warning jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang terdahulu. Kita ini kan harus belajar mengelola kepuasan dan ketidakpuasan ya. Semua harus belajar,” kata Sarmuji di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/7).
Ia mengatakan kemenangan dalam pemilu tidak seharusnya membuat seseorang menjadi fanatik secara berlebihan.
Sebaliknya, kekalahan juga tidak boleh mendorong munculnya tindakan anarkistis yang dapat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jangan sampai kepuasan seseorang menjadikan seorang fanatik buta. Tapi ketidakpuasan jangan juga menjadikan seorang menjadi anarki, iri dengki yang kemudian merusak tatanan kenegaraan kita,” jelas Sarmuji.
“Jadi itu semua adalah warning dari presiden,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh kekuatan politik menjaga persatuan usai kontestasi pemilu. Menurut dia, perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh berujung pada tindakan anarkistis.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan pidato dalam Puncak Hari Koperasi Nasional ke-79 bertajuk “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya” di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7).
“Berbeda partai tidak ada masalah. Tiap sekian tahun kita bertanding dengan baik. Enggak ada masalah. Siapa yang menang, monggo,” kata Prabowo.
Namun, ia mengingatkan agar pihak yang kalah dalam pemilu tidak memprovokasi kerusuhan.
“Jangan kalau kalah mau bakar-bakar, itu bangsa apa itu? Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di Republik ini, itu adalah pemimpin pengkhianat, Saudara-saudara sekalian. Saya percaya hukum karma akan kena kepada mereka semua itu,” ujarnya.
Prabowo kemudian menyinggung pengalamannya sendiri yang beberapa kali kalah dalam pemilihan presiden. Meski demikian, ia mengaku tidak pernah menginstruksikan pendukungnya melakukan aksi anarkistis.
Menurut Prabowo, persaingan dalam politik merupakan sesuatu yang lumrah layaknya pertandingan olahraga.
“Bersaing itu baik. Pertandingan itu baik. Sepak bola ada pertandingan, kan ada dua, satu harus menang. Kalau satu kalah, masa wasitnya mau digebukin?” katanya.





