Terpikat Kepingan Surga yang Jatuh di Banggai Kepulauan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Hari masih pagi, saat  kami tiba di kawasan wisata alam Danau Paisu Pok di Desa Luk Panenteng, Kecamatan Bulagi Utara, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Jumat (10/7/2026).

Dari jauh, mata seperti disihir oleh pemandangan danau alami dengan air yang nampak hijau. Saat bias sinar mentari jatuh di atas danau, air memantulkan warna kebiruan. Warnanya mengingatkan pada batu pirus. Walau lebih sering nampak biru kehijauan, arti Paisu Pok sendiri adalah air hitam.

Begitu jernihnya  air danau ini, bahkan pasir, bebatuan, dan biota laut di dasarnya bisa terlihat jelas.  Hujan deras bahkan tak akan membuat air danau berubah keruh. Dikelilingi hutan lebat nan hijau, kicau burung, Paisu Pok adalah surga tersembunyi.

Cuaca dingin pagi itu tak menyurutkan puluhan wisatawan beraktivitas di danau. Ada yang berkeliling menggunakan perahu warna-warni, ada yang berenang, ada pula yang melakukan selam dangkal. Sebagian duduk di bangku-bangku yang berjejer di tepian danau dan dermaga kayu.

Untuk keliling berperahu, pengunjung bisa mengayuh sendiri atau bisa pula dibantu pengelola tempat wisata. Mau berfoto sesuka hati bahkan membayar untuk difoto menggunakan drone, juga bisa.  Tinggal berkeliling mencari spot paling disukai dan foto-foto keren pun jadi.

“Saya datang ke sini belum jam 7. Bahkan loket masih tutup. Karena masih sepi saya puas-puaskan keliling merekam video dan mengambil foto-foto bagus. Tidak ada foto yang jelek, bagus semua sampai susah memilih,” kata Maghfirah (30), pengunjung asal Palu.

Dia datang bersama  Nur Rahmi (31). Keduanya adalah ASN di Dinas Perikanan Sulawesi Tengah. Untuk ke Paisu Pok, mereka ambil cuti. Keduanya  memang sudah lama mengincar tempat ini.

“Dari Palu kami pakai kendaraan roda dua. Memang sudah direncanakan begitu. Sebelum sampai kesini, kami sudah singgah di beberapa lokasi juga. Motor kami seberangkan juga ke Bangkep dan nanti bisa dipakai keliling mengeksplor tempat-tempat wisata di sini,” kata Nur Rahmi.

Pagi itu wisatawan lokal, dari luar Bangkep, hingga dan mancanegara hampir sama banyaknya. Selain wisatawan nusantara, destinasi wisata ini memang telah menarik minat wisatawan mancanegara sejak beberapa tahun terakhir.

Paisu Pok tidak pernah sepi dari wisatawan luar. Mereka datang rombongan, banyak yang bersama keluarga.

Catatan di buku tamu di loket pembelian tiket masuk menunjukkan, wisatawan mancanegara hampir ada setiap hari. Jumlahnya puluhan sekali datang. Negara asalnya beragam. Ada yang dari Perancis, Jerman, Italia, Beligia, Inggris, Australia, Spanyol, dan banyak negara lain.

“Paisu Pok tidak pernah sepi dari wisatawan luar. Mereka datang rombongan, banyak yang bersama keluarga. Biasanya mereka suka berenang  atau berperahu keliling danau,” kata salah seorang petugas di loket.

Jumat pagi itu, bersama wisatawan lokal, nampak puluhan wisatawan mancanegara yang menikmati aktivitas berperahu mengelilingi danau. Sebagian berenang dan melakukan selam dangkal.

Hal serupa terjadi di Kecamatan Buko  Selatan. Keindahan Danau Lemelu juga memikat serombongan pengunjung yang merupakan anggota LSM dari Palu dan Jakarta. Selain airnya yang  jernih berwarna biru kehijauan, bebatuan serupa karang yang  mengelilingi danau, menambah daya pikat Lemelu.

“Kami sudah  mendatangi beberapa lokasi di daerah ini untuk proyek  dokumentasi komunitas adat. Banyak lokasi indah seperti ini. Ada yang tersembunyi dan seperti masih jarang dikunjungi,” kata Rini Andriani.

Tak jauh dari Danau Lemelu terdapat danau di Dusun Alani. Ada tiga danau yang lokasinya  bersusun dan sangat luas. Seperti danau-danau lain, airnya juga jernih. Ada yang berwarna biru kehijauan, ada pula yang berwarna hijau pekat.

“Sudah beberapa tahun terakhir warga mengelola danau ini sebagai lokasi wisata alam. Jalannya kami perbaiki, dan kawasan sekitar danau diberi tempat untuk bersantai. Ada tiga danau disini yang dua di antaranya tidak pernah surut airnya dan selalu bersih,” kata Udin Yapuse, Kepala Dusun Alani.

Mukti moda

Banggai Kepulauan adalah kabupaten yang berada di Pulau Peleng. Bagian lain kabupaten ini  tersebar dalam pulau-pulau kecil. Luas pulau ini lebih dari 2.400 meter persegi. Di peta, letaknya berada di kaki Pulau Sulawesi. Pulau ini juga yang terbesar di Sulawesi Tengah.

Dikelilingi lautan dan pantai, bagian terbesar pulau ini terdiri atas bukit karst, gugusan pegunungan, dan hutan belantara serta kebun-kebun milik warga.  Di banyak sudut pulau , terdapat laguna dan pantai berpasir putih. Salah satu yang memikat di pulau ini adalah perairan yang bersih dan air yang jernih. Hal sama juga bisa ditemui di pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Peleng.

Tak heran,  kemana pun melangkah di seantero pulau, pemandangan yang sama indahnya akan nampak. Kalau bukan hutan, karst,  danau, laguna, ya pantai. Semuanya indah semuanya bersih.

Bagi pengunjung dari luar Bangkep, perjalanan menuju daerah ini  lazimnya menggunakan multi moda. Dari Jakarta misalnya, perjalanan dimulai dengan menggunakan pesawat menuju Makassar.

Dari Makassar, penerbangan dilanjutkan ke Luwuk, Ibukota Banggai -tetangga Bangkep-. Setidaknya ada dua kali penerbangan setiap hari dari Makassar ke Luwuk dan sebaliknya. Ada pula penerbangan dari Kota Palu menuju Luwuk namun tak setiap hari.

Selanjutnya berganti moda ke transportasi laut menuju Bangkep. Pilihan transportasi laut tersedia mulai dari feri, kapal kayu, hingga kapal cepat. Di Bangkep terdapat beberapa pelabuhan yang biasanya menjadi tempat bersandar kapal. Ada pelabuhan Salakan di Ibukota Bangkep, ada Pelabuhan Saiyong, Pelabuhan Lumbi-Lumbia, Pelabuhan Leme-Leme, Pelabuhan Luk Panenteng, dan beberapa pelabuhan kecil lainnya.

Waktu tempuh penyeberangan antara 1-5 jam tergantung kapal apa yang dipilih. Harga tiket pun beragam dari Rp 60.000-an hingga ratusan ribu. Kapal dengan waktu tempuh tercepat adalah jenis speedboat. Tapi harga sewanya mencapai Rp 4.000.000. Pelabuhannya tepat berada di dekat lokasi wisata Paisu Pok.

“Biasanya kalau rombongan menyewa, mereka patungan. Kalau kapalnya bisa mengangkut 10 orang, masing-masing bayar 400 ribu. Memang lebih mahal dari kapal feri atau kapal penumpang lain tapi lebih cepat,” kata Syaiful, salah satu pemilik kapal.

Jadwal keberangkatan kapal yang setiap hari atau empat kali sepekan juga memudahkan pengunjung memilih dan mengatur waktu keberangkatan.

Nurmiftahatul hairah (30), pelancong asal Morowali misalnya memilih moda transportasi laut dan darat. Terlebih dahulu mereka naik kapal dari Bungku ke Kolonedale di Morowali Utara lalu melanjutkan menggunakan feri dan turun di Pelabuhan Pagimana, Banggai. Selanjutnya mereka menyeberang ke Salakan dan melanjutkan ke Paisu Pok.

“Sudah lama mendengar tempat ini. Pas lihat foto-foto yang diposting orang yang pernah kesini, saya penasaran. Ternyata memang seindah itu . Tidak sia-sia kesini walau harus ganti-ganti kapal. Di Bangkep banyak lokasi lain juga yang bisa dikunjungi. Jadi semua terbayar,” katanya.

Nyatanya memang tak akan  menyesal  dan merasa sia-sia datang ke Bangkep walau harus berganti moda. Semuanya akan terbayar lunas saat melihat kepingan surga yang jatuh di Bangkep.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Merasa Dikepung Cina-Rusia-Korut, Jepang Nekat Bangun Badan Intelijen Baru
• 53 menit lalurepublika.co.id
thumb
Kronologi BMW Tak Bertuan Ditemukan di JLNT Antasari Usai 2 Hari Parkir
• 7 jam laludetik.com
thumb
Kemarin, Prabowo hadiri Harkopnas hingga Hashim beri klarifikasi
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Anggota Komisi III Minta Kasubdit di Jampidsus Diganti Saat Usut Kasus Febrie
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo: Ekonomi kerakyatan harus kembali jadi arah pembangunan
• 22 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.