VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus bergerak ke arah yang lebih kompleks. Setelah chatbot menjadi teknologi yang akrab digunakan untuk mencari informasi hingga membantu pekerjaan sehari-hari, kini perhatian mulai mengarah pada multi-agent AI, sebuah sistem yang memungkinkan beberapa agen AI berinteraksi dalam satu simulasi layaknya manusia.
Teknologi ini diprediksi menjadi salah satu tren baru karena tidak hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga dapat berperan sebagai lawan diskusi, debat, hingga simulasi negosiasi.
Konsep tersebut mulai diterapkan dalam bidang pendidikan untuk membantu siswa mengasah berbagai kemampuan yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas. Melalui simulasi berbasis AI, peserta didik dapat berlatih menghadapi berbagai karakter lawan bicara, menyusun argumentasi, sekaligus belajar mengambil keputusan dalam situasi yang dinamis.
Berbeda dengan chatbot konvensional yang umumnya berfokus pada percakapan satu lawan satu, sistem multi-agent AI menghadirkan beberapa agen virtual dengan peran yang berbeda. Pendekatan ini membuat simulasi terasa lebih realistis karena pengguna dapat berhadapan dengan beragam sudut pandang sekaligus.
Situasi tersebut dinilai mampu membantu siswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, diplomasi, hingga negosiasi dalam lingkungan yang menyerupai kondisi nyata.
Kehadiran teknologi semacam ini juga berangkat dari persoalan yang selama ini masih dihadapi dunia pendidikan. Akses terhadap pelatihan diplomasi, debat, maupun kepemimpinan global belum sepenuhnya merata. Kesempatan mengikuti pembinaan berkualitas sering kali hanya dimiliki siswa dari sekolah tertentu, mereka yang memperoleh bimbingan mentor berpengalaman, atau peserta yang mampu mengikuti program dengan biaya relatif tinggi.
Akibatnya, tidak sedikit siswa berbakat yang berasal dari sekolah dengan keterbatasan fasilitas maupun dari lingkungan non-English speaking belum memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan argumentasi dan kepemimpinan. Padahal, keterampilan tersebut semakin dibutuhkan di tengah dunia yang semakin terhubung secara global.
Melalui simulasi debat diplomatik dan evaluasi argumentasi berbasis AI di MUNspark, pengguna dapat berlatih secara mandiri tanpa harus menunggu sesi pelatihan tatap muka. Sistem akan memberikan umpan balik secara personal dan real-time sehingga peserta dapat memahami kekuatan maupun kelemahan dalam menyampaikan pendapat, sekaligus meningkatkan kualitas negosiasi secara bertahap.





