Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan hari ini, Senin (13/7/2026). Menguatnya IHSG seiring dengan pengumuman lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings atas peringkat kredit RI.
Data Stockbit menunjukkan IHSG ditutup menguat 1,92% ke level 6.037,84. Sepanjang hari, laju IHSG sebetulnya cukup stagnan dengan kenaikan 0,59%. Baru sekitar pukul 15.40 WIB, laju indeks kian bertenaga dan ditutup menguat hampir mencapai 2%.
Sejumlah saham terafiliasi konglomerat juga tampak melaju hingga penutupan perdagangan. Saham milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) naik 4,14% ke Rp880, PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) naik 1,47% ke Rp276, dan PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) naik 5,36% ke Rp4.520.
Saham-saham Boy Thohir juga menguat signifikan, dengan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) naik 2,45% ke Rp8.375, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 3,45% ke Rp1.500, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) naik 2,51% ke Rp2.450.
Hal serupa terjadi pada saham milik Prajogo Pangestu, dengan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) naik 1,89% ke Rp3.230, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 8,02% ke Rp1.750, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) naik 3,25% ke Rp635.
Penguatan juga dialami oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang naik 3,23% ke Rp640, PT Petrosea Tbk. (PTRO) naik 2,33% ke Rp3.960, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) naik 4,71% ke Rp1.890.
S&P Global RatingsSebelumnya, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan prospek (outlook) stabil.
Lembaga pemeringkat tersebut menilai pelemahan posisi fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara serta berpotensi membaik seiring kenaikan harga komoditas dan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara.
Dalam laporan yang dirilis pada Senin (13/7/2026), S&P Global menyatakan prospek stabil mencerminkan ekspektasi bahwa penerimaan negara akan terus pulih tahun ini dan penerimaan ekspor meningkat seiring penguatan harga komoditas.
Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan dan devisa dari sektor sumber daya alam juga dinilai dapat menopang kinerja fiskal dalam jangka menengah apabila implementasinya semakin konsisten dan dapat diprediksi.
"S&P juga memperkirakan pemerintah tetap mempertahankan batas defisit APBN sebesar 3% dari produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar utama kebijakan fiskal," tulis S&P dalam laporannya.
S&P menilai pelemahan indikator fiskal dan eksternal Indonesia dipicu oleh tingginya harga energi, suku bunga yang masih tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang.
Namun, tekanan tersebut dinilai hanya bersifat sementara dan dapat diredam oleh membaiknya harga komoditas serta langkah efisiensi belanja pemerintah.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





