JAKARTA, KOMPAS.com - Menjadi profesor untuk menemukan obat HIV. Menjadi bidan agar bisa menolong banyak orang. Itulah dua mimpi besar yang tumbuh di benak anak-anak penghuni Yayasan Vina Smart Era (VSE), Tambora, Jakarta Barat.
Yayasan tersebut didirikan oleh bidan Ropina Tarigan, yang akrab disapa Vina, bersama suaminya, Agus Siswanto.
Di balik rutinitas minum obat setiap hari dan kehidupan yang masih kerap dibayangi stigma, mereka tetap menatap masa depan dengan optimistis.
Pendidikan menjadi jalan yang mereka yakini dapat mengubah hidup sekaligus membuktikan bahwa anak-anak dengan HIV memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita.
Baca juga: Cerita Tri Nurhudi, Alumnus Unair yang Jadi Rektor dan Dirikan Yayasan HIV/AIDS
Salah satunya adalah Bunga (bukan nama sebenarnya) (14), yang masih duduk di bangku kelas III SMP.
Di usianya yang masih belia, ia sudah memiliki cita-cita yang terdengar tidak biasa. Ia ingin menjadi profesor.
Keinginan itu bukan muncul karena terinspirasi tokoh terkenal atau mengikuti tren profesi tertentu.
Bunga justru ingin menjadi profesor agar bisa menemukan obat HIV, penyakit yang selama ini hidup berdampingan dengannya.
Menurut Bunga, hidup dengan HIV membuatnya memahami bahwa penyakit tersebut bukan sesuatu yang mudah dijalani.
Baca juga: Tri Tito Karnavian Ajak Warga Tana Toraja Cegah HIV dan TBC lewat Edukasi serta Deteksi Dini
Karena itulah, ia berharap suatu hari bisa berkontribusi melalui ilmu pengetahuan agar orang lain tidak lagi mengalami hal serupa.
"Saya ingin membuat obat HIV supaya orang-orang yang sakit bisa sembuh," kata Bunga saat ditemui Kompas.com di Yayasan Vina Smart Era, Jumat (10/7/2026).
Keinginan itu membuatnya rajin membaca berbagai informasi yang menarik perhatiannya. Ia mengaku sering mencari pengetahuan baru yang membuatnya semakin yakin untuk mengejar cita-citanya.
Di luar mimpinya menjadi profesor, keseharian Bunga tak jauh berbeda dengan anak seusianya.
Setiap pagi ia bangun, minum obat sesuai jadwal, berangkat ke sekolah, lalu menghabiskan sore bersama teman-temannya di yayasan.
Baca juga: Mengintip Hangatnya Model Sebayaan di Jaringan PEKA, Tempat Orang dengan HIV Tak Lagi Merasa Jadi Manusia Kelas Dua
Mereka belajar, menonton televisi, mengobrol, hingga sesekali bertengkar karena hal-hal kecil, seperti berebut permainan.
Ia mengaku tidak pernah merasa minder saat berada di sekolah. Teman-temannya tidak memperlakukannya secara berbeda sehingga ia dapat mengikuti pelajaran seperti siswa lainnya.
Bagi Bunga, yayasan telah menjadi rumah sejak kedua orangtuanya meninggal dunia. Di tempat itulah ia menemukan keluarga baru yang selalu mendukungnya.
Ia juga menilai Vina sebagai sosok yang tidak pernah membedakan anak-anak yang diasuhnya.




