Jakarta: Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menegaskan penerimaan peserta didik Sekolah Rakyat tidak didasarkan pada kemampuan akademis maupun prestasi belajar. Program tersebut diprioritaskan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga dengan kondisi sosial ekonomi paling rentan.
Saifullah Yusuf mengatakan Sekolah Rakyat dirancang untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat prasejahtera. Karena itu, proses seleksi menggunakan basis data kesejahteraan sosial, bukan melalui tes akademik seperti sekolah pada umumnya.
Baca Juga :
Mensos Ungkap Tiga Alasan MPLS Sekolah Rakyat Dilaksanakan Bertahap"Siswa Sekolah Rakyat tidak menggunakan tes akademik, tetapi basisnya didesain untuk keluarga yang berada di desil satu atau dua," kata Saifullah Yusuf.
Ia menjelaskan keluarga yang masuk dalam kelompok desil satu dan dua merupakan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Kelompok tersebut menjadi prioritas utama dalam program Sekolah Rakyat agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik.
"Di mana keluarga yang di desil satu dua itu adalah keluarga yang secara sosial ekonomi dalam kondisi yang paling bawah atau prasejahtera," ujarnya.
Melalui skema tersebut, pemerintah berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi instrumen untuk memperluas pemerataan akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari keluarga kurang mampu.




