JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah gang sempit di permukiman padat Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat, berdiri sebuah bangunan empat lantai yang menjadi rumah bagi anak-anak dengan HIV.
Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah praktik kebidanan pada umumnya.
Papan nama bertuliskan "Bidan Dra. Vina Tarigan, S.ST., M.M." berdampingan dengan papan Yayasan Vina Smart Era (VSE) yang mencantumkan nomor pendaftaran resmi Kementerian Hukum dan HAM.
Di lantai dasar terpampang jadwal praktik bidan yang buka setiap hari pukul 07.30-21.00 WIB serta layanan persalinan selama 24 jam.
Namun, kehidupan sesungguhnya di bangunan itu baru terasa saat menaiki tangga menuju lantai dua.
Baca juga: Ingin Jadi Profesor hingga Bidan, Mimpi Besar Anak-anak Penghuni Yayasan HIV di Jakbar
Ruang tamu disulap menjadi ruang belajar sekaligus tempat anak-anak berkegiatan. Meja dan kursi berwarna hijau-biru berjajar rapi.
Rak buku memenuhi salah satu sisi ruangan. Di sudut ruangan terparkir beberapa sepeda kecil dan skuter, sementara lemari kaca berisi kotak P3K serta dokumen yayasan berdiri di dekat dinding yang dipenuhi foto-foto kegiatan dan spanduk pengabdian masyarakat.
Saat Kompas.com berkunjung pada Jumat (10/7/2026), sejumlah anak tampak mengikuti kegiatan membuat prakarya bersama para tamu yang datang ke yayasan.
Mereka merangkai pipe cleaner berwarna merah marun menjadi bunga dan berbagai bentuk hewan kecil, lalu menghiasinya dengan manik-manik warna-warni.
Di atas meja bundar berserakan gunting, tang kecil, botol air mineral, kancing, hingga biji-bijian sebagai bahan kerajinan.
Suasana berlangsung hangat. Anak-anak bercanda sambil sesekali meminta bantuan orang dewasa di samping mereka.
Baca juga: Tri Tito Karnavian Ajak Warga Tana Toraja Cegah HIV dan TBC lewat Edukasi serta Deteksi Dini
Tak banyak yang menyangka bahwa sebagian besar anak-anak di ruangan itu hidup dengan HIV.
Selama bertahun-tahun, rumah tersebut menjadi tempat mereka bertumbuh setelah kehilangan orangtua atau ditinggalkan keluarga yang tak lagi mampu merawat mereka.
Semua berawal dari keputusan seorang bidan bernama Ropina Tarigan atau yang akrab disapa Bidan Vina.
Berawal dari Rasa PenasaranVina mengaku tak pernah membayangkan hidupnya akan dihabiskan mendampingi anak-anak dengan HIV.
Ketertarikannya bermula sekitar 2007 ketika Profesor Irwanto dari Universitas Katolik Atma Jaya menyampaikan bahwa diskriminasi terhadap orang dengan HIV justru banyak terjadi di fasilitas kesehatan.
Kala itu, Vina sulit mempercayainya.
Rasa penasaran mendorongnya turun langsung ke Puskesmas Tambora yang saat itu menjalankan program metadon bagi pengguna narkoba suntik.
Di sana, ia duduk bersama para pengguna narkoba, mendengarkan cerita mereka, sekaligus memahami bagaimana ketergantungan terhadap jarum suntik terbentuk.
"Awalnya bahkan petugas klinik memandang saya sebelah mata karena saya mau duduk bersama mereka," kata Vina kepada Kompas.com.
Dari perjumpaan tersebut, Vina menyadari bahwa persoalan HIV jauh lebih rumit daripada sekadar penyakit.
Baca juga: Tangsel Perkuat Penanganan HIV/AIDS, Walkot Benyamin Ajak Warga Hapus Stigma ODHA
Banyak orangtua meninggal, sementara anak-anak mereka kehilangan tempat bergantung.
Bersama Prof. Irwanto, ia kemudian mulai mendampingi anak-anak yang tertular HIV dari ibunya. Program tersebut awalnya berada di bawah naungan Atma Jaya.
Pada 2008, Vina menjalankan kegiatan sederhana bernama "Sekolah Sehat". Anak-anak datang untuk belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus memperoleh makanan bergizi berupa bubur kacang hijau dan susu.
Namun, semakin sering mengunjungi rumah anak-anak dampingan, semakin besar pula kegelisahan yang ia rasakan.
Vina bercerita, setiap kali berkunjung setelah memberi kabar lebih dahulu, rumah selalu tampak bersih dan anak-anak berpakaian rapi. Namun, berat badan mereka tak kunjung meningkat.
Suatu hari ia sengaja datang tanpa pemberitahuan. Pemandangan yang ditemuinya jauh berbeda.
Seorang anak tidur di lantai hanya mengenakan pakaian dalam. Di sampingnya terdapat segelas susu yang dikerubungi lalat. Peristiwa itu menjadi titik balik.





