JAKARTA, KOMPAS.com - Selama 11 tahun terakhir, tabungan pribadi pernah menjadi penopang Agus Siswanto untuk mempertahankan Yayasan Vina Smart Era (VSE) di Tambora, Jakarta Barat.
Bersama sang istri, Ropina S. Tarigan, ia rela menguras simpanan keluarga demi memastikan anak-anak yang hidup dengan HIV tetap mendapat makan, tempat tinggal, hingga pendidikan.
Kini, perjuangan itu berbuah harapan baru: seorang anak asuh hampir lulus D3 Keperawatan, sementara satu lainnya bersiap memulai kuliah di akademi kebidanan dengan biaya yang juga ditanggung yayasan.
Agus mengatakan, pengelolaan yayasan masih dilakukan dengan sistem yang sangat sederhana.
Baca juga: Anak dengan HIV Kerap Didiskriminasi, Yang Kita Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya
Tidak ada anggaran tahunan yang pasti karena pemasukan bergantung pada donasi yang datang dari bulan ke bulan.
"Kami tidak memiliki sumber pendanaan tetap. Semua berjalan dari sukarela teman-teman dan masyarakat yang tergerak membantu," kata Agus saat berbincang dengan Kompas.com di yayasan, Jumat (10/7/2026).
Agus dan istrinya menggunakan tabungan pribadi untuk membiayai operasional, mulai dari kebutuhan makan, sekolah, hingga tempat tinggal anak-anak.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keuangan keluarga dan yayasan tetap dipisahkan secara administratif.
Sebagai lembaga berbadan hukum, seluruh pencatatan keuangan dilakukan secara terpisah dan tetap memenuhi kewajiban pelaporan kepada negara.
"Walaupun menggunakan tabungan pribadi, administrasi yayasan tetap dipisahkan. Kami tetap menyusun laporan dan memenuhi kewajiban perpajakan sebagai yayasan nirlaba," ujar dia.
Menurut Agus, kebutuhan operasional yayasan saat ini mencapai sekitar Rp 350 juta setiap tahun.
Porsi terbesar digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan nutrisi anak-anak, disusul biaya pendidikan.
Berbeda dengan kebutuhan kesehatan yang sebagian besar ditanggung negara melalui penyediaan obat antiretroviral (ARV) dan BPJS Kesehatan, biaya pendidikan terus meningkat seiring bertambahnya usia anak-anak dampingan.
"Sekarang ada anak yang hampir lulus akademi keperawatan dan ada yang baru mulai kuliah. Biaya pendidikan kesehatan memang cukup besar, tetapi kami ingin mereka tetap sekolah," kata Agus.
Ia mengatakan, bantuan pemerintah dalam bentuk pendanaan hampir tidak pernah diterima yayasan.
Karena itu, keberlangsungan operasional sepenuhnya bergantung pada donasi masyarakat, hasil pekerjaan pengurus, hingga dukungan anak-anak kandung mereka yang kini telah bekerja.
"Kalau sedang masa sulit, anak-anak kami sendiri ikut membantu. Mereka menyisihkan penghasilan untuk kebutuhan adik-adik di sini," ujarnya.
Bangunan yayasan sendiri tidak langsung berdiri seperti sekarang. Agus mengatakan, rumah tersebut awalnya hanya memiliki dua setengah lantai sebelum kemudian direnovasi secara bertahap seiring bertambahnya jumlah anak yang membutuhkan tempat tinggal.
Baca juga: Perjuangan Bidan Vina Lawan Stigma, Ubah Rumah di Gang Sempit Tambora untuk Anak-anak HIV
Lebih dari sekadar tempat tinggalBagi Agus, Yayasan Vina Smart Era tidak dibangun sebagai tempat penampungan sementara.
Ia ingin anak-anak yang datang tidak hanya memperoleh tempat tinggal, tetapi juga pendidikan, pendampingan, serta kesempatan membangun masa depan yang mandiri.
"Kami tidak ingin yayasan ini hanya menjadi tempat tinggal. Harapannya mereka punya pendidikan yang cukup, bisa mandiri, bahkan suatu hari nanti melanjutkan perjuangan yayasan ini," katanya.
Saat ini, kapasitas asrama mencapai sekitar 15 anak dengan jumlah penghuni yang berubah mengikuti kondisi keluarga masing-masing.





