Pantau - PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menetapkan delapan mitra terpilih secara bersyarat dalam proses seleksi tahap kedua mitra usaha pengembang dan pengelola Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang mencakup delapan lokasi pengembangan di 20 kabupaten/kota.
Penetapan mitra di setiap lokasi masih bersifat conditional dan bergantung pada pemenuhan seluruh persyaratan pengadaan yang berlaku sebelum ditetapkan secara resmi sebagai pengembang dan pengelola PSEL.
Proses Seleksi dan Mitra TerpilihDirector Investment DIM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Denera, Fadli Rahman, mengatakan seluruh tahapan seleksi dilakukan secara objektif dengan mengedepankan tata kelola yang baik dan mengacu pada praktik terbaik internasional.
“Seluruh tahapan seleksi dilaksanakan secara objektif, berdasarkan prinsip tata kelola yang baik, serta mengacu pada praktik terbaik internasional,” ungkap Fadli Rahman.
Penilaian terhadap para mitra dilakukan berdasarkan kredensial pada proyek PSEL, kemampuan finansial, kecepatan implementasi dan komersial, aspek strategis dan pengelolaan risiko, komitmen jangka panjang, serta pengalaman eksekusi proyek di Indonesia.
Untuk menjaga independensi dan kualitas proses seleksi, DIM dan Denera menunjuk penasihat teknis, hukum, dan komersial yang independen selama seluruh tahapan evaluasi.
“Untuk memastikan independensi dan kualitas proses, kami menunjuk penasihat teknis, hukum, dan komersial independen yang mendampingi keseluruhan tahapan evaluasi,” kata Fadli Rahman.
Delapan mitra terpilih meliputi SUEZ-IAN Consortium untuk proyek Medan Raya, Consortium Everbright Cemerlang Energy untuk Kabupaten Bekasi, Bumi Biru Indonesia untuk Lampung Raya, Masa Depan Energi Indonesia untuk Serang Raya, Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd untuk Semarang Raya, Consortium Mentari Citra Lestari untuk Surabaya Raya, MPM-CEVIA Consortium untuk Bogor Raya 2, serta Cakra Energi Lestari Consortium untuk Yogyakarta Raya.
Komposisi kepemimpinan konsorsium terdiri atas empat konsorsium yang dipimpin perusahaan Indonesia, dua konsorsium dipimpin perusahaan asal Prancis, dan dua konsorsium dipimpin perusahaan asal China.
Seluruh konsorsium bekerja sama dengan mitra teknologi internasional untuk mempercepat implementasi proyek, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat industri nasional.
“Seluruh konsorsium itu menggandeng mitra teknologi internasional untuk mempercepat implementasi proyek sekaligus mendorong transfer teknologi dan penguatan industri nasional,” ujar Fadli Rahman.
Tahapan Menuju Penetapan FinalSebanyak 68 aplikasi diterima dari total 85 Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) untuk delapan lokasi proyek yang diseleksi.
Hasil evaluasi menetapkan satu mitra terpilih dan satu mitra cadangan pada masing-masing lokasi proyek.
Mitra terpilih akan menerima Conditional Letter of Award (CLoA) sebagai penetapan bersyarat sebelum memperoleh penetapan resmi sebagai pengembang dan pengelola PSEL.
Mitra cadangan disiapkan sebagai alternatif apabila mitra terpilih tidak dapat memenuhi seluruh persyaratan yang telah ditetapkan.
Setelah penerbitan CLoA, setiap mitra terpilih wajib menyusun feasibility study yang disepakati kedua belah pihak, memfinalisasi struktur proyek, membentuk Joint Venture Company, menyelesaikan dokumen komersial, serta memperoleh persetujuan pembiayaan sebelum menerima Final Letter of Award.
Chief Executive Officer (CEO) DIM Pandu Sjahrir menyatakan keterlibatan perusahaan-perusahaan Waste-to-Energy terkemuka dunia mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia.
“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat transfer teknologi, membangun kapasitas nasional, dan memperkuat ekosistem industri pengelolaan sampah di Indonesia,” kata Pandu Sjahrir.




