Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran setelah Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer baru di tengah memanasnya konflik kedua negara.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan, serangan terbaru dimulai pada Senin (14/7) malam waktu setempat. Operasi itu menjadi gelombang serangan ketiga berturut-turut yang dilakukan militer AS dalam beberapa hari terakhir.
Tak lama setelah operasi dimulai, media Iran melaporkan serangkaian ledakan mengguncang wilayah selatan negara itu. Sedikitnya tujuh ledakan terdengar di Kota Bandar Abbas, sementara dua ledakan lainnya terjadi di Pulau Kish.
Trump sebelumnya memastikan serangan baru akan segera dilakukan. Dalam wawancara dengan pembawa acara radio Hugh Hewitt, ia mengatakan militer AS akan terus meningkatkan tekanan terhadap Iran.
"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras malam ini, dan kita akan menyerang mereka dengan keras besok. Tidak ada satu pun yang bisa mereka lakukan untuk mencegahnya," kata Trump dikutip dari Reuters.
Selain memerintahkan serangan baru, Trump juga mengancam akan menyerang Gunung Kolang Gaz La atau Gunung Pickaxe, kawasan pegunungan yang diyakini menjadi lokasi kompleks terowongan bawah tanah dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz.
Lokasi tersebut selama ini disebut para analis sebagai salah satu fasilitas nuklir Iran yang paling terlindungi karena berada jauh di bawah permukaan tanah.
"Kami akan menghancurkan Gunung Pickaxe. Katakan kepada Iran untuk bersiap," ujar Trump.
Di sisi lain, kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan serangan AS juga menyasar sejumlah fasilitas militer di Qeshm, Bandar Abbas, dan Abadan. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dalam serangan di Abadan.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Iran menyebut telah meluncurkan rudal jelajah ke kapal perang AS serta menyerang fasilitas militer di Kuwait menggunakan drone.
Media pemerintah Iran juga mengklaim pasukannya berhasil menembak jatuh drone MQ-1 milik Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.
Rangkaian serangan terbaru itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan Amerika Serikat menyatakan akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran.
Eskalasi konflik tersebut semakin memperkecil peluang berlanjutnya kesepakatan sementara antara kedua negara yang sebelumnya ditujukan untuk menghentikan permusuhan serta menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.





