Brussels: Ukraina bersama sembilan negara anggota kelompok Coalition of the Willing mengumumkan pembentukan koalisi pertahanan rudal balistik bersama yang bertujuan memperkuat kemampuan pertahanan Eropa menghadapi ancaman rudal di masa depan.
Inisiatif tersebut diumumkan oleh para pemimpin dari Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Ukraina, dan Inggris.
Dalam pernyataan bersama, negara-negara tersebut menyatakan bahwa koalisi baru itu akan berfokus pada pembangunan arsitektur pertahanan rudal terintegrasi melalui kerja sama di bidang teknologi, penelitian, dan industri pertahanan.
"Kami meyakini bahwa perlindungan terhadap Eropa membutuhkan solusi global berupa arsitektur pertahanan rudal terintegrasi untuk mencegah dan mengalahkan ancaman rudal di masa depan," ujar pernyataan bersama tersebut yang dikutip Anadolu Agency, Selasa, 14 Juli 2026.
Negara-negara anggota menegaskan bahwa inisiatif tersebut bersifat sepenuhnya defensif dan dirancang untuk melindungi Eropa dari meningkatnya risiko serangan rudal.
Sebagai bagian dari program tersebut, para anggota koalisi akan mengembangkan proyek utama berupa kemampuan pencegat rudal balistik.
Kerja sama itu mencakup penyusunan kebutuhan operasional bersama, pengembangan teknologi, serta penyusunan peta jalan menuju sistem operasional pertama yang akan dimiliki koalisi tersebut.
Menurut pernyataan itu, proyek baru tersebut akan melengkapi sistem pertahanan rudal yang saat ini telah dimiliki atau sedang dikembangkan masing-masing negara peserta.
"Dengan menyatukan basis industri pertahanan, penelitian, dan pengalaman operasional kami, kami bertujuan membangun kemampuan pertahanan rudal balistik bersama bagi Eropa," kata para pemimpin negara peserta. Perang Rusia-Ukraina Koalisi tersebut juga menyoroti pengalaman Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia selama lebih dari empat tahun terakhir sebagai salah satu aset penting dalam pengembangan sistem pertahanan baru tersebut.
"Kami mengakui pengalaman unik Ukraina yang diperoleh dalam mempertahankan diri dari perang agresi Rusia," demikian isi deklarasi tersebut.
Para anggota pendiri juga menyatakan akan menjajaki peluang penelitian dan pengembangan bersama, kerja sama pendanaan, serta peningkatan pertukaran data dan informasi terkait pertahanan.
Koalisi pertahanan rudal ini akan tetap terbuka bagi negara-negara lain yang mendukung prinsip dan tujuan yang sama, menurut pernyataan bersama tersebut.
Pembentukan koalisi ini mencerminkan meningkatnya perhatian negara-negara Eropa terhadap ancaman rudal balistik dan kebutuhan memperkuat sistem pertahanan regional di tengah memburuknya situasi keamanan di kawasan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Baca juga: Zelensky Desak NATO Terima Ukraina, Sebut Pengalaman Perang Jadi Kekuatan Aliansi




