Kurang dari setahun, tiga meteor dilaporkan terlihat di beberapa tempat di Indonesia. Terakhir, meteor terlihat pada Sabtu (11/7/2026) di sejumlah daerah mulai dari Bekasi, Jawa Barat, hingga Yogyakarta. Jumlah meteor yang jatuh di wilayah Indonesia dipastikan jauh lebih banyak lagi dan sebagian besar tidak teramati. Meski demikian, situasi tersebut tak perlu menimbulkan kekhawatiran.
Terlihatnya meteor pada Sabtu (11/7/2026) itu dilaporkan warganet pada waktu yang hampir bersamaan di sejumlah kabupaten dan kota di Jabar dan DI Yogyakarta. Salah seorang pengendara merekam kehadiran meteor itu di jalan tol Bekasi pukul 21.22.35 WIB. Obyek terang itu juga terpantau di Nagreg, perbatasan Bandung-Garut, Jabar, pada pukul 21.23.37 WIB. Terakhir, benda tersebut dilaporkan terekam kamera pemantau (CCTV) di Yogyakarta pukul 21.23.57 WIB.
Pada saat bersamaan, warga Cirebon dan Kuningan juga melaporkan mendengar suara dentuman di langit. Warga Majalengka juga mengunggah di media sosialnya meteor berwarna biru yang melintas di daerahnya. Benda langit dengan warna biru kehijauan juga dilaporkan melintas di langit Tasikmalaya. Namun, di Bekasi, meteor itu tampak berwarna putih dan yang terlihat di Yogyakarta berwarna hijau.
Dari laporan warganet tersebut, Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional Thomas Djamaluddin, Senin (13/7/2026), memperkirakan meteor yang terlihat di Bekasi terjadi saat meteor baru memasuki atmosfer Bumi atau pada ketinggian yang masih sangat tinggi. Kondisi itu terlihat dari ukuran meteor yang relatif kecil dan warnanya masih putih yang menunjukkan meteor baru terbakar atau suhunya belum terlalu panas.
”Meteor berasal dari batuan antariksa yang orbitnya berpapasan dengan Bumi dan kemudian terbakar saat memasuki atmosfer Bumi di ketinggian 120 kilometer (km),” katanya. Dari data yang ada, Thomas memperkirakan meteor bergerak melintas ke arah tenggara dan akhirnya berakhir di Samudra Hindia di selatan Jawa Timur atau Bali.
Sementara suara dentuman yang didengar sebagian masyarakat saat meteor itu melintas merupakan dentuman sonik (sonic boom). Dentuman itu merupkan hasil dari gelombang kejut yang ditimbulkan oleh pergerakan meteor yang sangat cepat, melebihi kecepatan suara, di atmosfer bagian bawah.
Suara dentuman itu biasanya menyertai atau didahului oleh terlihatnya meteor sebagai akibat dari kecepatan cahaya yang jauh lebih tinggi ketimbang kecepatan suara. Dalam kondisi tertentu, getaran akibat gelombang kejut itu bisa merambat atau dirasakan orang-orang di permukaan Bumi.
Tidak ada penambahan jumlah meteor yang jatuh ke Bumi.
”Karena tidak ada laporan getaran yang dirasakan masyarakat, maka diperkirakan ukuran batu meteor ini kurang dari 1 meter,” tambahnya.
Setelah beberapa saat terbakar, unsur di dalam meteor pun ikut terbakar. Warna biru atau hijau menunjukkan unsur yang terbakar itu adalah magnesium atau nikel yang menguap. Meski demikian, perbedaan warna meteor di beberapa lokasi itu juga ditentukan oleh jarak dan kondisi cuaca. Cuaca yang sangat cerah akan membuat warna meteor pun terlihat lebih jelas.
Terlihatnya meteor sebenarnya merupakan fenomena biasa dalam astronomi. Setiap hari, Bumi dibombardir jutaan batuan antariksa dalam berbagai ukuran. Sebagian besar batuan yang umumnya berukuran kecil akan habis terbakar di udara. Sebagian kecil meteor yang lain akan terlihat sebagai bintang jatuh atau bintang alihan karena terbakar cukup lama di udara.
Masalahnya, meski terbakar cukup lama, lintasan atau tempat jatuhnya meteor itu sulit ditebak. Meteoir bisa saja bergerak di wilayah-wilayah yang tidak dihuni manusia, mulai dari samudra, hutan, gurun, pegunungan, hingga stepa. Kalaupun melintas di wilayah perkotaan, cahaya meteor akan berkompetisi dengan polusi cahaya kota sehingga peluang untuk melihat meteor di perkotaan jauh lebih sulit dibandingkan dengan di hutan atau pegunungan.
Meteor Bekasi ini merupakan meteor ketiga yang dilaporkan masyarakat Indonesia dalam setahun terakhir. Sebelumnya, ada meteor Cirebon pada 5 Oktober 2025 dan meteor Lampung pada 4 April 2026. Walau demikian, peneliti benda kecil dalam Tata Surya, termasuk meteor dan asteroid, dari Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Dermawan, meminta masyarakat untuk tidak khawatir.
Memantau meteoroid, bahan asal meteor, sebelum masuk ke atmosfer Bumi itu sangat sulit karena ukurannya yang sangat kecil. Banyak meteor merupakan meteor sporadik yang tidak diketahui keberadaannya, apalagi ukuran dan kapan waktunya jatuh ke Bumi.
”Kalaupun terpantau, maka biasanya sudah dalam waktu yang sangat singkat sebelum masuk atmosfer Bumi,” katanya.
Selama ini, meteoroid yang relatif diketahui kapan akan jatuh ke Bumi adalah meteor rutin yang biasanya dikenal sebagai fenomena hujan meteor. Meteor ini dari meteoroid sisa pecahan komet atau asteroid. Meteor rutin terjadi jika Bumi dalam perjalanannya mengelilingi Matahari melintasi wilayah bekas lintasan komet atau asteroid sehingga sisa-sisa batuan komet atau asteroid itu akan tertarik oleh gravitasi Bumi.
Pengembangan sistem pembantuan meteoroid pun tidak mudah karena ukurannya yang sangat kecil sehingga kemampuannya dalam memantulkan kembali sinar Matahari pun sangat sulit. Sejumlah negara di Asia saat ini memiliki Jejaring Pengamatan Asteroid Asia Pasifik (APAON). Namun, jejaring itu juga masih terfokus untuk mengamati asteroid di dekat Bumi yang ukurannya lebih besar, bukan meteoroid yang ukurannya jauh lebih mungil.
”Meteor Chelyabinsk yang besar saja luput dari deteksi Rusia,” ujar Budi. Apalagi meteoroid yang memiliki lebar dari ukuran mikron (sepersejutan meter) hingga 1 meter.
Meteor Chelyabinsk diduga berasal dari asteroid berdiameter 17 meter yang melintas di Chelyabinsk, bagian tengah Rusia, pada 2013. Keberadaan asteroid ini tidak diketahui hingga tiba-tiba bola api raksasa melintas di langit kota itu dan menimbulkan gelombang kejut yang menghancurkan kaca jendela lebih dari 4.000 bangunan serta melukai sekitar 1.200 orang.
Hal senada disampaikan Thomas. Menurut dia, meski frekuensi terlihatnya meteor meningkat dalam setahun terakhir, jumlah meteoroid tidak berubah. Jadi, ”Tidak ada penambahan jumlah meteor yang jatuh ke Bumi,” tegasnya.
Meteor yang teramati terjadi karena lintasan meteor tersebut secara kebetulan melewati wilayah berpenduduk dan di waktu yang tepat saat orang masih beraktivitas sehingga peluang untuk teramatinya pun cukup besar.
Di sisi lain, dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan. Bagian daratan yang dihuni juga jauh lebih sedikit ketimbang lahan yang tidak ditempati manusia. Kalaupun meteor melintas di habitat manusia pun belum tentu bisa teramati, tergantung ukuran, ketinggian, hingga jam saat meteor itu melintas.
Data Meteoritical Bulletin Database, The Meteoritical Society menunjukkan jumlah meteorit atau meteor yang jatuh ke permukaan tanah alias tidak habis terbakar di atmosfer di wilayah Indonesia sejak tahun 1421 hingga sekarang hanya ditemukan 24 meteorit. Artinya, meski banyak meteor terlihat atau melintas di langit Indonesia, hanya sebagian kecil yang masih tersisa dan jatuh ke permukaan tanah.
Meteorit terakhir yang ditemukan berasal dari meteor Cirebon 5 Oktober 2025, yang terbagi dalam empat meteorit. Meteorit pertama jatuh di Desa Jatilaba, Tegal, Jawa Tengah, pada jarak 5 meter dari dua anak yang tengah bermain kartu di luar rumah. Saat mereka bermain, tiba-tiba terdengar suara dentuman dan ditemukan batu hitam tunggal seberat 1.250 gram yang jatuh di tanah berpasir dan membentuk cekungan kecil.
Selanjutnya, dua batu meteorit lainnya ditemukan setelah jatuh menimpa rumah warga di Desa Jati Makmur, Songgom, Brebes, sekitar 3,6 km dari lokasi jatuhnya batu pertama. Berat masing-masing meteorit kedua dan ketiga itu adalah 603 gram dan 71,3 gram. Sedangkan batu keempat yang baru ditemukan pada 14 Oktober 2025 memiliki berat 16 kilogram yang membentuk kawah sedalam 1 meter dan berjarak sekitar 1,2 km di selatan Jatilaba.
Sementara untuk meteorit sangat besar yang jatuh di Indonesia hingga mengubah kontur Bumi seperti Kawah Chicxulub di Semenanjung Yucatan Meksiko hingga kini belum ada yang terkonfirmasi. Kawah Chicxulub ini memiliki lebar 180 km dan kedalaman 20 km yang diperkirakan terbentuk pada 66 juta tahun lalu hingga akhirnya memusnahkan dinosaurus.
Sejumlah kawasan di Indonesia memang diduga terbentuk dari tumbukan meteorit. Salah satu wilayah tersebut adalah Kawah Majalengka, Jabar, yang berbentuk geo-circles atau bentuk kawah yang saling tumpang tindih. Pusat dari geo-circles tersebut yang dinamai Cekungan Ci Lutung diyakini sebagai cekungan raksasa yang terbentuk oleh renteten tumbukan batuan meteor berukuran besar.
Profesor Geologi ITB R Prajatna Koesoemadinata (1936-2025) dalam tulisannya di majalah geologi populer GeoMagz, September 2011, menyatakan, struktur geo-circles itu sulit dijelaskan jika terbentuk dari gejala tektonik. Struktur anjakan (thrusting) yang berbentuk setengah lingkaran itu menghadap ke semua arah penjuru angin sehingga memerlukan keberadaan sesuatu yang menjadi pusat di ketinggian. Walau demikian, temuan ini belum dikonfirmasi secara internasional sehingga belum bisa dipastikan apakah memang geo-circles Majalengka itu bekas tumbukan meteor atau bukan.
Wilayah lain yang juga diduga terbentuk dari hantaman meteor adalah kawasan Taman Bumi (Geopark) Ciletuh, Palabuhanratu, Sukabumi, Jabar. Identifikasi menggunakan penginderaan jauh yang dilakukan Khairul Ummah dan tim dari Teknik Geologi Universitas Padjadjaran menunjukkan wilayah itu memiliki struktur tebing setengah lingkaran raksasa yang dikenal sebagai megaamfiteater.
Dalam publikasinya di International Journal on Advanced Science, Engineering, and Information Technology, Oktober 2018, bentuk mirip cincin itu menjadi petunjuk awal bahwa wilayah tersebut adalah kawah bekas tumbukan meteorit. Zona cekungan yang dikelilingi bentuk melingkar dengan bagian tengah yang terangkat merupakan karakteristik dari kawah bekas tumbukan.
Sedangkan pola sungai yang berkelok-kelok di dekatnya menunjukkan adanya kompresi atau tekanan yang setelah direkonstruksi juga menunjukkan bekas tumbukan meteorit. Meski demikian, Kawah Ciletuh ini juga belum dikonfirmasi secara internasional. Masih butuh penelitian lebih lanjut untuk membuktikan bahwa dia memang benar-benar bekas tumbukan meteor.
Karena itu, semakin sering terlihatnya meteor tidak perlu dikhawatirkan akan mengancam atau membahayakan masyarakat. Namun, kewaspadaan senantiasa diperlukan mengingat pengetahuan manusia tentang meteoroid dan luar angkasa masih sangat terbatas. Setidaknya, kita bisa menyaksikan keindahan bintang jatuh yang memang jarang bisa diamati langsung manusia.





