Perusahaan farmasi asal Jepang, Takeda, akan menginvestasikan dana hingga USD 30 juta atau sekitar Rp 543 miliar (kurs Rp 18.109 per dolar Ass) untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia dalam dua tahun ke depan.
Investasi tersebut merupakan bagian dari kemitraan strategis Takeda dengan Pemerintah Indonesia untuk memperkuat ekosistem industri plasma nasional serta memperluas akses masyarakat terhadap produk obat derivat plasma atau PODP.
Kemitraan ini melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Dalam kerja sama tersebut, Kementerian Kesehatan telah menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma untuk memproduksi PODP.
Penetapan itu memungkinkan Takeda melakukan kegiatan pengumpulan plasma dan proses fraksionasi secara bertahap sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri plasma nasional.
Sebagai tahap awal, Takeda akan membangun beberapa bank plasma di Indonesia. Hasil pengembangan tersebut nantinya menjadi dasar bagi Takeda dan Kementerian Kesehatan untuk mengevaluasi kelayakan model operasional sebelum diperluas menjadi jaringan bank plasma nasional.
Secara paralel, Takeda juga akan mengkaji potensi dan persyaratan regulasi untuk membangun fasilitas manufaktur PODP berteknologi tinggi di Indonesia yang dapat mendukung kebutuhan dalam negeri maupun pasar global. Pengembangan fasilitas ini berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kesehatan dan manufaktur obat.
"Investasi ini merupakan investasi yang strategis. Selain menghadirkan investasi baru, kemitraan ini juga membuka peluang untuk transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan," ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, dalam keterangannya, Selasa (14/7).
Rosan menilai, investasi Takeda akan memperkuat ekosistem kesehatan di Indonesia. “Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia, tetapi juga mendukung visi kami untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju,” kata Rosan.
Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dan akan menjadi bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda. Selama fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam tahap pengkajian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda. Pemenuhan kebutuhan Indonesia terhadap PODP tetap akan menjadi prioritas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan kemitraan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memperluas akses masyarakat terhadap pengobatan penting dan inovatif.
“Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan,” ujar Budi.
Inisiatif tersebut diklaim menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Fokusnya adalah membangun sistem pengumpulan plasma berkualitas tinggi secara berkelanjutan serta mendukung manufaktur PODP dalam skala besar.
Kemitraan itu juga diharapkan dapat mendorong Indonesia menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan terkait plasma, teknologi pengumpulan plasma, serta manufaktur dan inovasi biofarmasi.
President Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad mengatakan perusahaan berkomitmen memperluas akses terhadap PODP sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma yang berkelanjutan di Indonesia.
Menurut dia, investasi dalam infrastruktur industri plasma dari hulu ke hilir diharapkan dapat membantu Indonesia meningkatkan layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi, serta memperkuat ketersediaan pengobatan yang menyelamatkan dan menopang kehidupan pasien.
Seluruh bank plasma yang dibangun nantinya akan menerapkan pengalaman global Takeda dalam pengelolaan donor plasma serta menggunakan standar mutu dan regulasi internasional.
Pembangunan bank plasma juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru, termasuk bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium. Takeda turut menyiapkan pelatihan dan transfer pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia nasional.
Secara paralel, Takeda akan mengkaji potensi pembangunan fasilitas manufaktur PODP berteknologi tinggi di Indonesia. Fasilitas tersebut nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus melayani pasar global.
Permintaan global terhadap PODP saat ini terus meningkat. Namun, banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan dalam menjamin ketersediaan obat tersebut.
Rendahnya tingkat diagnosis dan terbatasnya pemahaman mengenai penyakit yang dapat ditangani dengan PODP juga masih menjadi hambatan.
Melalui kemitraan ini, Takeda dan Pemerintah Indonesia menargetkan terciptanya pasokan plasma dan PODP yang lebih andal bagi pasien, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kesehatan dan manufaktur obat.





