Mungkin banyak orang tua yang pernah bertanya-tanya, “Kenapa ya, sekarang anak saya udah jarang cerita?” Padahal, rasanya semua sudah diusahakan. Anak disekolahkan, kebutuhannya dipenuhi, bahkan sebisa mungkin diberikan yang terbaik.
Namun, semua itu belum tentu membuat anak merasa nyaman untuk bercerita. Tidak sedikit anak yang perlahan mulai berhenti bercerita kepada orang tuanya. Anak yang dulunya begitu terbuka, bahkan hal-hal kecil pun sering diceritakan, seperti “Ayah, tadi aku dikasih permen sama teman aku,” atau “Ibu, tadi aku lihat kucing oren dan kucing putih berantem di pinggir jalan.”
Sekarang, justru banyak anak lebih memilih curhat kepada temannya atau mengungkapkan isi hatinya melalui media sosial daripada bercerita kepada orang tuanya sendiri. Penelitian Riza dan Sukri (2025) juga menunjukkan bahwa anak lebih mudah terbuka ketika mereka merasa didengar, dipahami, dan diterima oleh orang tuanya.
Sebaliknya, ketika respons yang diterima kurang menyenangkan, anak akan cenderung memilih untuk memendam perasaannya sendiri. Nah, tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan yang sering dilakukan orang tua yang dapat menyebabkan anak semakin enggan untuk bercerita.
Respons yang Terlalu Cepat MenghakimiTerkadang, respons orang tua yang terlalu cepat menghakimi membuat anak merasa tidak nyaman saat bercerita. Tidak semua anak berani bercerita ketika mereka melakukan suatu kesalahan. Mereka membutuhkan waktu dan keberanian hingga akhirnya mau membuka cerita. Sayangnya, belum selesai bercerita, orang tua sudah lebih dulu memarahi, atau menghakimi dengan kalimat seperti “Kan udah Ibu bilang dari dulu!”
Respons seperti ini bisa membuat anak merasa pendapatnya tidak dihargai. Mereka akan berpikir dua kali sebelum bercerita lagi karena merasa hal itu hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.
Tuntutan Ekspektasi yang Terlalu TinggiSetiap orang tua tentu berharap anaknya berhasil. Namun, ada anak yang justru merasa takut ketika tidak bisa memenuhi harapan tersebut. Penelitian Payne (2025) dari University of Mississippi menunjukkan bahwa anak yang harus selalu memenuhi harapan orang tua lebih rentan mengalami kecemasan.
Mereka takut langkah yang diambil justru membuat orang tuanya kecewa. Akibatnya, anak lebih memilih menyimpan masalahnya sendiri daripada jujur dan meminta bantuan.
Perasaan Anak Sering Dianggap SepeleSering kali orang tua hanya ingin anak cepat merasa tenang. Namun, tanpa disadari, respons seperti ini bisa membuat anak merasa perasaannya dianggap sepele. Kalimat seperti, “Ah, begitu aja kok dipikirin,” atau “Dulu Ibu lebih susah dari itu.” Bisa membuat anak merasa apa yang mereka sampaikan tidak penting.
Begitu juga ketika orang tua langsung memotong pembicaraan anak dan membandingkannya dengan orang lain, seperti “Anak tetangga sebelah aja bisa, masa kamu nggak bisa?” Padahal yang dibutuhkan anak saat itu bukanlah perbandingan, melainkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menganggap perasaannya berlebihan.
Curhat Anak Sering Berakhir Jadi CeramahKetika anak bercerita kepada orang tua, terkadang yang didapat bukan ketenangan, melainkan ceramah yang panjang. Padahal anak hanya ingin apa yang mereka ungkapkan didengarkan. Terkadang, anak datang bukan meminta solusi. Mereka hanya ingin ceritanya didengarkan sampai selesai.
Padahal, Mills (2021) menemukan bahwa komunikasi yang hangat dan rasa aman dalam hubungan orang tua dan anak merupakan salah satu kunci agar anak lebih nyaman untuk terbuka.
Menjadikan Cerita Anak Sebagai CandaanMenjadikan cerita anak sebagai bahan candaan ketika kumpul keluarga dapat membuat anak merasa tidak dihargai. Padahal, bagi seorang anak, memilih untuk bercerita saja sudah membutuhkan keberanian. Mereka perlu meyakini bahwa cerita itu akan diterima dengan baik dan tidak akan dijadikan candaan saat acara keluarga atau kembali dibahas ketika sedang bertengkar. Mungkin niatnya hanya bercanda atau sekadar mengingatkan, tetapi belum tentu anak melihatnya dengan cara yang sama.
Kapetanovic dan Skoog (2020) juga menemukan bahwa anak lebih mudah terbuka ketika mereka merasa aman dan percaya kepada orang tuanya. Sebaliknya, saat rasa percaya itu mulai berkurang, anak cenderung lebih memilih menyimpan masalahnya sendiri daripada mengambil risiko kecewa lagi.
Pada akhirnya, anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang punya jawaban untuk setiap masalahnya. Mereka hanya ingin tahu bahwa saat memberanikan diri untuk bercerita, akan ada seseorang yang mau mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.
Karena itu, sebelum kita bertanya kenapa anak tidak pernah bercerita lagi, mungkin kita bisa bertanya pelan-pelan pada diri sendiri terlebih dulu: sudahkah kita sebagai orang tua menjadi tempat yang aman untuk mereka bercerita?





