Jakarta (ANTARA) - Beberapa pekan terakhir, kekeringan mulai dirasakan di berbagai wilayah Pulau Jawa. Sawah tadah hujan mengering lebih cepat, debit sungai menurun, embung mulai surut, dan permukaan tanah mulai memperlihatkan retakan-retakan yang semakin lebar.
Fenomena tersebut sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal di banyak wilayah dengan curah hujan yang cenderung berada di bawah normal.
Sebagian besar Pulau Jawa diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus, sementara sejumlah daerah telah mengalami awal kemarau sejak Mei. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan pertanian, terutama pada lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan musiman.
Bagi petani, retakan tanah menjadi salah satu tanda pertama bahwa cadangan air mulai menipis; Bagi masyarakat umum, retakan tanah sering dianggap sekadar akibat cuaca panas. Namun bagi ilmuwan tanah, retakan merupakan "bahasa" yang digunakan tanah untuk menunjukkan bahwa cadangan airnya telah berkurang hingga melewati batas tertentu.
Saat hujan berhenti, air di dalam pori-pori tanah berangsur-angsur hilang melalui evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi tanaman. Selama kandungan air masih cukup, struktur tanah tetap stabil. Ketika kadar air terus menurun hingga melewati batas susut (shrinkage limit), volume tanah mulai mengecil. Penyusutan tersebut menimbulkan tegangan di dalam massa tanah, dan retakan terbentuk sebagai mekanisme alami untuk melepaskan tegangan tersebut.
Tidak semua tanah mengalami proses yang sama. Tanah berpasir hampir tidak pernah membentuk retakan karena tidak mengalami penyusutan volume yang berarti. Sebaliknya, tanah yang kaya mineral liat, terutama Vertisol yang didominasi mineral smektit, mampu mengembang saat basah dan menyusut kuat ketika kering sehingga retakan dapat muncul hanya dalam waktu sekitar 10–20 hari pada musim kemarau yang panas.
Tanah vulkanis yang banyak dijumpai di Indonesia umumnya mengandung mineral alofan dan imogolit yang mampu menyimpan air lebih banyak sehingga retakan biasanya muncul lebih lambat.
Baca juga: Tanah dan perubahan iklim
Retakan Dipercepat
Yang menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata munculnya retakan tanah, melainkan kenyataan bahwa retakan tersebut semakin cepat terbentuk dibandingkan beberapa dekade lalu.
Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab utamanya. Peningkatan suhu udara mempercepat penguapan dari permukaan tanah dan meningkatkan kebutuhan air tanaman. Kenaikan suhu sebesar satu hingga dua derajat Celsius diperkirakan mampu meningkatkan evapotranspirasi sekitar 4–10 persen. Akibatnya, cadangan air tanah lebih cepat habis sehingga tanah lebih cepat mencapai batas susut dan retakan terbentuk lebih dini.
Selain perubahan iklim, kualitas tanah di banyak lahan pertanian juga terus menurun.
Pengembalian jerami yang semakin berkurang, rendahnya penggunaan pupuk organik, pembakaran sisa tanaman, serta pemadatan tanah akibat penggunaan alat berat menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyimpan air. Air hujan yang turun pada musim penghujan tidak lagi dapat disimpan secara optimal sehingga tanah lebih cepat mengering ketika musim kemarau datang.
Hilangnya vegetasi penutup tanah juga memperbesar kehilangan air melalui penguapan. Kombinasi suhu yang semakin tinggi, cadangan air yang semakin sedikit, dan kualitas tanah yang menurun menyebabkan retakan tanah kini muncul lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Retakan tanah sesungguhnya tidak hanya mencerminkan kekeringan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kesehatan tanah.
Baca juga: Ilmuwan Indonesia definisikan ulang tanah dan ilmu tanah
Tanah yang sehat memiliki struktur remah yang stabil, kandungan bahan organik yang tinggi, aktivitas mikroorganisme yang aktif, dan sistem pori yang mampu menyimpan sekaligus mengalirkan air secara seimbang. Sebaliknya, tanah yang mengalami degradasi memiliki kapasitas simpan air yang rendah sehingga lebih cepat kehilangan kelembapan.
Dua lahan yang menerima curah hujan sama belum tentu mengalami kekeringan pada waktu yang sama. Lahan dengan kandungan bahan organik tinggi dapat mempertahankan kelembapan beberapa hari hingga beberapa minggu lebih lama dibandingkan tanah yang miskin bahan organik. Dengan demikian, kecepatan munculnya retakan juga dapat menjadi indikator sederhana kondisi kesehatan tanah.
Dalam perspektif ilmu tanah modern, kesehatan tanah tidak hanya diukur dari kandungan unsur hara, tetapi juga dari kemampuannya menyimpan air, menopang kehidupan organisme tanah, menjaga struktur, serta mempertahankan produktivitas secara berkelanjutan. Oleh karena itu, retakan yang semakin cepat muncul patut dipandang sebagai sinyal menurunnya fungsi ekologis tanah.
Ancaman Pangan
Retakan tanah yang muncul lebih awal mempunyai konsekuensi yang jauh melampaui dampak fisik, yakni mengancam ketahanan pangan.
Ketika tanah kehilangan air lebih cepat, maka tanaman mengalami cekaman kekeringan lebih dini; Pertumbuhan akar terganggu, pembentukan anakan padi berkurang, proses pembungaan menjadi tidak optimal, dan pengisian bulir dapat menurun. Pada tanaman hortikultura, kekurangan air menyebabkan penurunan ukuran, kualitas, dan hasil panen.
Bagi lahan tadah hujan, kondisi tersebut berarti periode tanam yang semakin pendek dan risiko gagal panen yang semakin besar. Jika fenomena ini terus berulang akibat perubahan iklim, stabilitas produksi pangan nasional dapat terganggu. Ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau ketersediaan benih unggul, tetapi juga oleh kemampuan tanah mempertahankan cadangan air selama musim kemarau.
Dengan kata lain, retakan tanah merupakan salah satu indikator awal yang memberi peringatan bahwa sistem produksi pangan sedang menghadapi tekanan yang semakin besar.
Baca juga: Pulihnya tanah yang letih untuk varietas unggul yang inovatif
Pulihkan Tanah
Menghadapi kemarau yang semakin panjang tidak cukup hanya dengan membangun jaringan irigasi atau menyediakan varietas tahan kekeringan. Yang tidak kalah penting adalah memulihkan kesehatan tanah agar mampu menyimpan air lebih lama.
Peningkatan kandungan bahan organik melalui pengembalian jerami, pemberian kompos, pupuk kandang, biochar, serta penanaman tanaman penutup tanah terbukti mampu meningkatkan kapasitas simpan air. Tanah dengan kandungan bahan organik sekitar 5% diperkirakan mampu menyimpan air tersedia sekitar 35–50 persen lebih banyak dibandingkan tanah dengan kandungan bahan organik 2%.
Selain itu, penerapan olah tanah konservasi, pengurangan pemadatan tanah, pemanenan air hujan, konservasi daerah tangkapan air, penggunaan mulsa, serta pengelolaan irigasi yang lebih efisien merupakan bagian penting dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Berbagai inovasi baru juga mulai dikembangkan untuk memperkuat ketahanan tanah terhadap kekeringan. Salah satunya adalah sistem agrivoltaic, yaitu pemanfaatan panel surya yang dipasang di atas lahan pertanian sehingga produksi pangan dan energi dapat berlangsung secara bersamaan.
Kajian ilmiah terbaru pada artikel "Impacts of agrivoltaic systems on soil properties and pedogenesis: A review" menunjukkan bahwa agrivoltaic tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi berpotensi memperbaiki lingkungan tanah melalui pembentukan iklim mikro yang lebih sejuk, menjaga aktivitas organisme tanah, serta mengurangi tekanan kekeringan pada sistem perakaran tanaman.
Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi ini dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim yang mengintegrasikan konservasi tanah, efisiensi penggunaan air, ketahanan pangan, dan transisi energi bersih.
Naungan parsial dari panel surya mampu menurunkan suhu permukaan tanah dan tajuk tanaman, sehingga laju evaporasi dan evapotranspirasi berkurang. Akibatnya, kelembapan tanah dapat dipertahankan lebih lama, cadangan air lebih efisien dimanfaatkan tanaman, dan pembentukan retakan tanah selama musim kemarau dapat diperlambat.
Baca juga: Saatnya menata ruang berdasarkan ilmu tanah
Membangun kesehatan tanah sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang. Tanah yang sehat bukan hanya menghasilkan panen yang lebih tinggi, tetapi juga lebih mampu menyimpan air, lebih tahan menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem, serta lebih tangguh dalam mendukung ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.
Perpaduan antara praktik pengelolaan tanah yang baik dan inovasi seperti agrivoltaic menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada banyaknya air yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan tanah mempertahankan setiap tetes air yang diterimanya.
Pesan Alam
Retakan tanah bukan sekadar gejala musim kemarau, melainkan pesan alam tentang berkurangnya cadangan air dan menurunnya kesehatan tanah. Ketika retakan muncul semakin cepat dari tahun ke tahun, itu menjadi peringatan bahwa perubahan iklim dan degradasi tanah sedang berlangsung secara bersamaan. Jika diabaikan, risiko kekeringan pertanian akan meningkat dan ketahanan pangan nasional menjadi semakin rentan.
Di tengah perubahan iklim, menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan menambah pasokan air, tetapi juga dengan memperlambat hilangnya air dari dalam tanah.
Pemulihan kesehatan tanah melalui peningkatan bahan organik, konservasi air, serta inovasi seperti agrivoltaic merupakan langkah penting untuk mempertahankan kelembapan tanah. Masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada banyaknya hujan yang turun, tetapi juga pada kemampuan tanah menyimpan setiap tetes air yang diterimanya.
Baca juga: Tantangan riset logam tanah jarang bagi Indonesia
Baca juga: Tanah dan perubahan iklim
*) Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M. Sc, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)
Fenomena tersebut sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal di banyak wilayah dengan curah hujan yang cenderung berada di bawah normal.
Sebagian besar Pulau Jawa diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus, sementara sejumlah daerah telah mengalami awal kemarau sejak Mei. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan pertanian, terutama pada lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan musiman.
Bagi petani, retakan tanah menjadi salah satu tanda pertama bahwa cadangan air mulai menipis; Bagi masyarakat umum, retakan tanah sering dianggap sekadar akibat cuaca panas. Namun bagi ilmuwan tanah, retakan merupakan "bahasa" yang digunakan tanah untuk menunjukkan bahwa cadangan airnya telah berkurang hingga melewati batas tertentu.
Saat hujan berhenti, air di dalam pori-pori tanah berangsur-angsur hilang melalui evaporasi dari permukaan tanah dan transpirasi tanaman. Selama kandungan air masih cukup, struktur tanah tetap stabil. Ketika kadar air terus menurun hingga melewati batas susut (shrinkage limit), volume tanah mulai mengecil. Penyusutan tersebut menimbulkan tegangan di dalam massa tanah, dan retakan terbentuk sebagai mekanisme alami untuk melepaskan tegangan tersebut.
Tidak semua tanah mengalami proses yang sama. Tanah berpasir hampir tidak pernah membentuk retakan karena tidak mengalami penyusutan volume yang berarti. Sebaliknya, tanah yang kaya mineral liat, terutama Vertisol yang didominasi mineral smektit, mampu mengembang saat basah dan menyusut kuat ketika kering sehingga retakan dapat muncul hanya dalam waktu sekitar 10–20 hari pada musim kemarau yang panas.
Tanah vulkanis yang banyak dijumpai di Indonesia umumnya mengandung mineral alofan dan imogolit yang mampu menyimpan air lebih banyak sehingga retakan biasanya muncul lebih lambat.
Baca juga: Tanah dan perubahan iklim
Retakan Dipercepat
Yang menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata munculnya retakan tanah, melainkan kenyataan bahwa retakan tersebut semakin cepat terbentuk dibandingkan beberapa dekade lalu.
Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab utamanya. Peningkatan suhu udara mempercepat penguapan dari permukaan tanah dan meningkatkan kebutuhan air tanaman. Kenaikan suhu sebesar satu hingga dua derajat Celsius diperkirakan mampu meningkatkan evapotranspirasi sekitar 4–10 persen. Akibatnya, cadangan air tanah lebih cepat habis sehingga tanah lebih cepat mencapai batas susut dan retakan terbentuk lebih dini.
Selain perubahan iklim, kualitas tanah di banyak lahan pertanian juga terus menurun.
Pengembalian jerami yang semakin berkurang, rendahnya penggunaan pupuk organik, pembakaran sisa tanaman, serta pemadatan tanah akibat penggunaan alat berat menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyimpan air. Air hujan yang turun pada musim penghujan tidak lagi dapat disimpan secara optimal sehingga tanah lebih cepat mengering ketika musim kemarau datang.
Hilangnya vegetasi penutup tanah juga memperbesar kehilangan air melalui penguapan. Kombinasi suhu yang semakin tinggi, cadangan air yang semakin sedikit, dan kualitas tanah yang menurun menyebabkan retakan tanah kini muncul lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Retakan tanah sesungguhnya tidak hanya mencerminkan kekeringan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kesehatan tanah.
Baca juga: Ilmuwan Indonesia definisikan ulang tanah dan ilmu tanah
Tanah yang sehat memiliki struktur remah yang stabil, kandungan bahan organik yang tinggi, aktivitas mikroorganisme yang aktif, dan sistem pori yang mampu menyimpan sekaligus mengalirkan air secara seimbang. Sebaliknya, tanah yang mengalami degradasi memiliki kapasitas simpan air yang rendah sehingga lebih cepat kehilangan kelembapan.
Dua lahan yang menerima curah hujan sama belum tentu mengalami kekeringan pada waktu yang sama. Lahan dengan kandungan bahan organik tinggi dapat mempertahankan kelembapan beberapa hari hingga beberapa minggu lebih lama dibandingkan tanah yang miskin bahan organik. Dengan demikian, kecepatan munculnya retakan juga dapat menjadi indikator sederhana kondisi kesehatan tanah.
Dalam perspektif ilmu tanah modern, kesehatan tanah tidak hanya diukur dari kandungan unsur hara, tetapi juga dari kemampuannya menyimpan air, menopang kehidupan organisme tanah, menjaga struktur, serta mempertahankan produktivitas secara berkelanjutan. Oleh karena itu, retakan yang semakin cepat muncul patut dipandang sebagai sinyal menurunnya fungsi ekologis tanah.
Ancaman Pangan
Retakan tanah yang muncul lebih awal mempunyai konsekuensi yang jauh melampaui dampak fisik, yakni mengancam ketahanan pangan.
Ketika tanah kehilangan air lebih cepat, maka tanaman mengalami cekaman kekeringan lebih dini; Pertumbuhan akar terganggu, pembentukan anakan padi berkurang, proses pembungaan menjadi tidak optimal, dan pengisian bulir dapat menurun. Pada tanaman hortikultura, kekurangan air menyebabkan penurunan ukuran, kualitas, dan hasil panen.
Bagi lahan tadah hujan, kondisi tersebut berarti periode tanam yang semakin pendek dan risiko gagal panen yang semakin besar. Jika fenomena ini terus berulang akibat perubahan iklim, stabilitas produksi pangan nasional dapat terganggu. Ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau ketersediaan benih unggul, tetapi juga oleh kemampuan tanah mempertahankan cadangan air selama musim kemarau.
Dengan kata lain, retakan tanah merupakan salah satu indikator awal yang memberi peringatan bahwa sistem produksi pangan sedang menghadapi tekanan yang semakin besar.
Baca juga: Pulihnya tanah yang letih untuk varietas unggul yang inovatif
Pulihkan Tanah
Menghadapi kemarau yang semakin panjang tidak cukup hanya dengan membangun jaringan irigasi atau menyediakan varietas tahan kekeringan. Yang tidak kalah penting adalah memulihkan kesehatan tanah agar mampu menyimpan air lebih lama.
Peningkatan kandungan bahan organik melalui pengembalian jerami, pemberian kompos, pupuk kandang, biochar, serta penanaman tanaman penutup tanah terbukti mampu meningkatkan kapasitas simpan air. Tanah dengan kandungan bahan organik sekitar 5% diperkirakan mampu menyimpan air tersedia sekitar 35–50 persen lebih banyak dibandingkan tanah dengan kandungan bahan organik 2%.
Selain itu, penerapan olah tanah konservasi, pengurangan pemadatan tanah, pemanenan air hujan, konservasi daerah tangkapan air, penggunaan mulsa, serta pengelolaan irigasi yang lebih efisien merupakan bagian penting dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Berbagai inovasi baru juga mulai dikembangkan untuk memperkuat ketahanan tanah terhadap kekeringan. Salah satunya adalah sistem agrivoltaic, yaitu pemanfaatan panel surya yang dipasang di atas lahan pertanian sehingga produksi pangan dan energi dapat berlangsung secara bersamaan.
Kajian ilmiah terbaru pada artikel "Impacts of agrivoltaic systems on soil properties and pedogenesis: A review" menunjukkan bahwa agrivoltaic tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi berpotensi memperbaiki lingkungan tanah melalui pembentukan iklim mikro yang lebih sejuk, menjaga aktivitas organisme tanah, serta mengurangi tekanan kekeringan pada sistem perakaran tanaman.
Dengan pengelolaan yang tepat, teknologi ini dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim yang mengintegrasikan konservasi tanah, efisiensi penggunaan air, ketahanan pangan, dan transisi energi bersih.
Naungan parsial dari panel surya mampu menurunkan suhu permukaan tanah dan tajuk tanaman, sehingga laju evaporasi dan evapotranspirasi berkurang. Akibatnya, kelembapan tanah dapat dipertahankan lebih lama, cadangan air lebih efisien dimanfaatkan tanaman, dan pembentukan retakan tanah selama musim kemarau dapat diperlambat.
Baca juga: Saatnya menata ruang berdasarkan ilmu tanah
Membangun kesehatan tanah sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang. Tanah yang sehat bukan hanya menghasilkan panen yang lebih tinggi, tetapi juga lebih mampu menyimpan air, lebih tahan menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem, serta lebih tangguh dalam mendukung ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.
Perpaduan antara praktik pengelolaan tanah yang baik dan inovasi seperti agrivoltaic menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya bergantung pada banyaknya air yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan tanah mempertahankan setiap tetes air yang diterimanya.
Pesan Alam
Retakan tanah bukan sekadar gejala musim kemarau, melainkan pesan alam tentang berkurangnya cadangan air dan menurunnya kesehatan tanah. Ketika retakan muncul semakin cepat dari tahun ke tahun, itu menjadi peringatan bahwa perubahan iklim dan degradasi tanah sedang berlangsung secara bersamaan. Jika diabaikan, risiko kekeringan pertanian akan meningkat dan ketahanan pangan nasional menjadi semakin rentan.
Di tengah perubahan iklim, menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan menambah pasokan air, tetapi juga dengan memperlambat hilangnya air dari dalam tanah.
Pemulihan kesehatan tanah melalui peningkatan bahan organik, konservasi air, serta inovasi seperti agrivoltaic merupakan langkah penting untuk mempertahankan kelembapan tanah. Masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada banyaknya hujan yang turun, tetapi juga pada kemampuan tanah menyimpan setiap tetes air yang diterimanya.
Baca juga: Tantangan riset logam tanah jarang bagi Indonesia
Baca juga: Tanah dan perubahan iklim
*) Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M. Sc, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)





