Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengizinkan skema creative financing melalui naming rights serta pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di stasiun-stasiun LRT Jakarta.
Hal itu disampaikan Pramono di Stasiun LRT Rawamangun usai mencoba lintasan LRT Jakarta dari Stasiun Pegangsaan Dua menuju Stasiun Rawamangun, Selasa (14/7).
Pramono mengatakan, skema naming rights akan diterapkan di 11 stasiun LRT Jakarta yang menghubungkan Kelapa Gading hingga Manggarai.
“Kami sudah menghitung dan memperkirakan untuk dari Kelapa Gading sampai dengan Manggarai, kalau kemudian ini transportasinya sudah normal dengan LRT, diperkirakan sampai dengan 80 ribu (penumpang),” kata Pramono.
“Dan saya juga sudah izinkan untuk di 11 stasiun tadi untuk segera dilakukan creative financing untuk naming right dan sebagainya,” sambungnya.
Selain itu, Pramono juga mengizinkan pengembangan kawasan TOD di sejumlah titik LRT Jakarta. Menurutnya, pengembangan tersebut dimungkinkan karena depo LRT di Kelapa Gading dinilai masih memiliki kapasitas yang mencukupi sehingga tidak perlu dilakukan penambahan.
“Yang kedua, saya juga mengizinkan untuk beberapa lokasi karena deponya sudah enggak perlu nambah lagi, karena depo yang ada di Kelapa Gading sudah lebih dari cukup, maka saya izinkan untuk dikembangkan untuk TOD-TOD yang ada,” ujarnya.
Pramono menjelaskan, skema pengembangan TOD akan mengacu pada model yang telah diterapkan di MRT Jakarta, yakni melalui kerja sama antara pemerintah dengan operator transportasi.
“Nanti TOD pengembangannya seperti pengalaman kita di MRT, dikerjasamakan antara Pemerintah DKI Jakarta dengan MRT. Nah, nanti untuk yang di LRT ini kerja samanya adalah apakah antara Pemerintah DKI Jakarta dengan LRT Jakarta atau dengan Jakpro. Itu nanti kita putuskan,” tutur dia.
Menurut Pramono, skema creative financing juga akan diterapkan untuk mendukung pengembangan jalur LRT Jakarta berikutnya, termasuk rencana pembangunan lintas menuju Jakarta International Stadium (JIS) dan Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim.
“Saya tadi sudah diskusi dengan Pak Dirut Jakpro, untuk dua itu (JIS dan Stasiun Whoosh Halim) kita perbolehkan apa yang disebut dengan creative financing,” ujar Pramono.
“Kerja sama dengan siapa pun yang ingin membangun Jakarta dan saya yakin pasti ini karena menjadi trayek yang padat, banyak orang yang bersedia dan mampu,” lanjutnya.
Meski membuka peluang pendanaan dari kerja sama dengan pihak swasta, Pramono memastikan tarif LRT Jakarta tetap akan dijaga agar terjangkau masyarakat.
“Tapi intinya bahwa tiketnya tentunya tetap harus terjangkau oleh masyarakat,” tutupnya.





