Festival Ekonomi Syariah KTI 2026 Targetkan Omzet Rp 1,5 Miliar

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bank Indonesia (BI) telah membuka gelaran Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (Fesyar KTI) 2026 yang berlangsung di Lombok Epicentrum Mall, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7).

Melalui ajang tahunan yang kali ini berlangsung pada 10-12 Juli 2026, BI secara tegas membidik target omzet penjualan riil UMKM binaan mencapai Rp 1,5 miliar serta kesepakatan pembiayaan (business matching) sebesar Rp 11 miliar.

Rangkaian Fesyar KTI 2026 diikuti oleh 19 Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang merepresentasikan 22 provinsi di wilayah Indonesia Timur.

Acara ini merupakan bagian dari persiapan menuju ajang internasional Indonesia Sharia Economic and Finance Festival (ISEF) 2026 yang akan digelar di Jakarta pada Oktober 2026 mendatang.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut target omzet tersebut sengaja ditetapkan secara terukur bagi seluruh pimpinan kantor perwakilan BI di KTI agar festival tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial semata.

"Setiap acara ini, mereka semua sudah diberikan target. Jadi bukan hanya sifatnya seremonial, tetapi harus ada target nyata. Harus ada business matching yang bisa terwujud dan target omzet penjualan Rp 1,5 miliar untuk 19 UMKM dengan berbagai macam produk di KTI. Ditambah lagi, kita ingin menciptakan business matching Rp 11 miliar," ujarnya saat memberikan sambutan pembukaan.

Sebanyak 19 UMKM itu menonjolkan produk-produk unggulan di setiap daerah khususnya wilayah timur Indonesia. Mulai halal mart yang menjual snack, dan oleh-oleh halal. Lalu ada kain tenun dari berbagai daerah dengan motif khas.

Salah satunya yaitu Beras Basah, UMKM andalan asal Bontang, Kalimantan Timur yang menjual produk fashion batik dengan corak khas biota laut keindahan pesisir pulau tersebut.

Berikutnya ada juga, Fatimah Collection, brand asal Sulawesi Tengah yang menjual sepatu ecoprint yang artinya pewarnaan dilakukan secara alami yang bersumber dari dedaunan.

Bank Indonesia memandang akselerasi ekonomi syariah sebagai langkah krusial mengingat posisi strategis Indonesia di kancah global. Mengutip data State of the Global Islamic Economic Report 2025-2026, Indonesia kini menduduki peringkat nomor 4 di dunia dalam hal pengembangan ekosistem ekonomi syariah.

"Jadi secara keseluruhan, kita berada di peringkat nomor 4. Apakah kita puas? Kita bersyukur, Alhamdulillah kita sudah mencapai peringkat 4. Tetapi apakah cukup di situ? Belum. Kita harus terus berikhtiar karena peluangnya masih sangat besar," kata Destry.

Secara rinci, Indonesia berhasil menempati peringkat pertama pada sektor industri Fashion Muslim, peringkat kedua pada sektor Pariwisata Ramah Muslim (Halal Tourism), serta peringkat ketiga pada kategori Makanan Halal.

Selain itu pertumbuhan produk syariah di sektor halal value chain seperti pertanian, makanan, dan minuman halal melonjak hingga 6,21 persen pada kuartal I 2026. Angka pertumbuhan tersebut melampaui pertumbuhan PDB nasional yang berada di kisaran 5,6 persen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saan Mustopa Pastikan RUU Perampasan Aset Tetap Jadi Prolegnas DPR 2026
• 10 jam laludisway.id
thumb
Pembebasan Lahan Jadi Fokus Normalisasi Ciliwung
• 15 jam laludetik.com
thumb
Sebuah rumah di Koja Jakut terbakar, diawali ledakan
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Kementerian HAM Finalisasi Rekomendasi Evaluasi 10 Regulasi untuk Perkuat Perspektif Hak Asasi Manusia
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Habiburokhman Ungkap Alasan RUU Perampasan Aset Jadi Inisiatif DPR: Itu Strategi
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.